(Bantahan) Sesumbar-sesumbar Muhammad yang Menjadi Bumerang Bagi Dirinya (4)


Tuduhan Keempat: Kalau Muhammad Diridhoi Alloh, tentu ada Malaikat-malaikat Penjaga di depan dan di belakang untuk Melindunginya

QS 72:27. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.

Dan terbukti, Muhammad bukan “rasul” yang DIRIDHOI ALLOH:
Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 2 Halaman 42-43

Ibnu Ishaq berkata, “Pertahanan kaum Muslimin pun jebol dan mereka diserang musuh-musuh mereka. Itu hari ujian dan hari pembersihan dimana Allah memuliakan kaum Muslimin dengan memberi kesempatan mati syahid kepada mereka. Karena pertahanan kaum Muslimin terbuka, musuh berhasil masuk ke tempat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian melempar beliau dengan batu hingga beliau terjatuh dalam keadaan miring, batu tersebut mengenai gigi, antara gigi depan dengan gigi taring, melukai wajah dan bibir beliau. Orang yang melempar beliau dengan batu ialah Utbah bin Abu Waqqash.”

Ibnu Ishaq berkata, Humaid Ath-Thawil berkata kepadaku dari Anas bin Malik yang berkata, “Di Perang Uhud, gigi antara gigi depan dengan gigi taring Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pecah dan wajah beliau terluka. Darah pun keluar di wajah beliau

Ibnu Hisyam berkata, Rubaih bin Abdurrahman bin Abu Sa’id Al-Khudri berkata dari ayahnya dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa di Perang Uhud, Utbah bin Abu Waqqash melempar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hingga memecahkan gigi antara gigi depan dengan gigi taring sebelah kanan bagian bawah dan melukai bibir bawah beliau. Abdullah bin Syihab Az-Zuhri melukai kening Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ibnu Qami’ah melukai bagian atas pipi yang menonjol hingga dua rantai besi perisai masuk ke dalam bagian atas pipi beliau. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam terperosok ke salah satu lubang yang dibuat Abu Amir agar kaum Muslimin terperosok ke dalamnya tanpa sepengetahuan mereka. Kemudian Ali bin Abu Thalib memegang tangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Thalhah bin Ubaidillah mengangkat beliau hingga beliau berdiri tegak. Malik bin Sinan yang tidak lain adalah Abu Sa’id Al-Khudri mengusap darah dari wajah beliau dan menelannya.

JAWABAN:

Qur’an Surah (QS) Al Jinn (72):26-27: (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.

Tafsir ayat ini adalah, bahwa tidak ada sesuatu pun yang ghaib dan telah diperlihatkan kepada manusia kecuali mereka yang dikehendaki Allah, yakni rasul-Nya, Muhammad SAW.

Dan Penjagaan yang dimaksud pada ayat ini adalah bahwa Allah memberikan keistimewaan kepada beliau melalui para malaikat-Nya untuk selalu memantau dan menjaganya sesuai dengan perintah Allah, dan para malaikat yang akan menuntunnya agar dia dapat melaksanakan serta menyampaikan wahyu Allah sehingga terlindung dari segala salah dan dosa dalam menyampaikan ajarannya serta semakin teguh dalam dalam menyampaikan risalah atau firman-Nya.

Jadi, inti penjagaan yang dimaksud di sini, penjagaan dalam menyampaikan wahyu atau firman Allah kepada umat beliau. Hal ini juga disinggung dalam surah Al-Maidah:

QS. 5:67. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

Yakni, tak seorang pun yang dapat membunuh beliau (nabi Muhammad).

Adapun mengapa sampai nabi mengalami luka di perang Uhud seperti pada kutipan sirah di atas, bukan berarti Allah tidak menjaga beliau dari apa yang dia alami tersebut, tapi justru pada peristiwa tersebut Allah membuktikan bahwa Dia masih menjaga rasul-Nya yakni tidak terbunuh dalam perang tersebut. Bahkan anggapan orang-orang kafir saat itu mengira telah berhasil membunuh Muhammad, padahal kenyataannya tidak.

Adapun hikmah yang ingin Allah sampaikan kepada beliau dan umatnya pada peristiwa perang Uhud tersebut di antaranya adalah:

1. Muhammad juga seorang manusia biasa, sama seperti kaum muslimin lainnya yang berperang dan mendapatkan luka, merasakan sakit dan beratnya cobaan yang menimpa beliau. Seperti yang di firmankan-Nya:
QS. 21:35. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).

Sabda beliau:
“Manusia yang paling berat cobaannya, adalah para nabi, lalu orang-orang shaleh kemudian orang yang paling mulia dan yang paling mulia dari manusia. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya.” (Source; Hadits Online: Sunan Ahmad: 1400)

2. Tercapainya derajat mati syahid bagi kaum muslimin.

QS. 3.140. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.

3. Semakin jelaslah siapa yang dengan lisannya menyimpan kemunafikan dan menampilkan keislaman.

QS. 3: 121-122. Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan para mukmin pada beberapa tempat untuk berperang. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ketika dua golongan dari padamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.

QS.3 143. Sesungguhnya kamu mengharapkan mati (syahid) sebelum kamu menghadapinya; (sekarang) sungguh kamu telah melihatnya dan kamu menyaksikannya.

4. Allah hendak menunjukkan kepada umat beliau bahwa beginilah akibat dari ketidakpatuhan pada apa yang diperintahkan rasul-Nya, yakni  agar regu pemanah pada perang tersebut tidak beranjak dari tempatnya sebelum perang benar-benar usai hanya karena keinginan mendapatkan kemenangan yang begitu cepat dan harta rampasan perang hingga mengakibat mereka kalah dalam perang tersebut.

Atau dengan bahasa lain, strategi perang yang diperintahkan beliau, kurang dipatuhi dengan benar .

QS. 3.152. Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari merekauntuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah mema’afkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman.

5. Kaum muslimin merasa bangga dengan kemenangan mereka terdahulu (di perang badar) yang menjadikan mereka,  ujub, sombong, dan lupa kepada Rabbnya. Maka dengan kekalahan tersebut akan menjadikannya tawadhu (rendah hati), tawakal (berserah diri), dan meminta pertolongan kepada Allah dan tidak bergantung dan mengandalkan kekuatan sendiri.

QS. 3.165. Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

QS. 3.172. (Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.

6. Kisah keteladanan dan kesabaran seorang wanita menerima musibah kematian saudara, bapak, kerabat, bahkan suami mereka yang terbunuh mati syahid di Perang Uhud.

Dikisahkan, saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabat melewati sekelompok wanita dari bani Najjar. Di antara wanita tersebut ada yang bapaknya terbunuh, saudaranya dan suaminya. Tatkala salah seorang wanita mendengar berita kematian saudara, bapak, suami yang dicintainya dia malah menanyakan tentang keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengatakan, “Bagaimana dengan kabar Rasulullah.” Maka mereka menjawab, “Rasulullah dalam keadaan baik.” Maka tatkala wanita tersebut melihat Rasulullah dia mengatakan, “Semua musibah yang menimpa adalah ringan selain musibah yang menimpamu wahai Rasulullah.”

Tatkala Shafiah binti Abdul Muthalib radhiallahu ‘anha datang untuk melihat jenazah saudaranya (Hamzah radhiallahu ‘anhu) maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada putranya (Zubair radhiallahu ‘anhu) agar ibunya jangan melihat jenazah Hamzah karena beliau khawatir Shafiah tidak sabar jika melihat jenazahnya yang telah disayat-sayat oleh musuh. Maka Shafiah berkata: “Kenapa tidak boleh? sedangkan aku telah mendengar beritanya dan aku ridha dengan musibah ini. Mereka meninggal di jalan Allah. Saya akan bersabdar dan mengharap pahala dari Allah dengan musibah ini.

Hamnah binti Jahsy radhiallahu ‘anha mendapat berita kematian saudaranya dan pamannya (Mus’ab bin Umair radhiallahu ‘anhu) dan beliau radhiallahu ‘anha bersabar.

Itulah hikmah-hikmah yang terkandung dalam peristiwa perang Uhud tersebut. Ibarat sebuah pepatah mengatakan “Belajarlah dari kesalahan untuk mencapai hasil yang memuaskan”.

Jadi, tuduhan diatas adalah tuduhan yang hanya mengedepankan kebencian semata dengan memakai ‘metoda’ bahasa pengkorelasian agar tudingan penuduh bisa pas (sesuai) dengan dalil-dalil yang ingin mereka tampilkan.

Pada kesimpulannya, Allah selalu menjaga para rasul-rasul pilihan-Nya dari upaya pembunuhan oleh kaumnya dikarenakan mereka adalah manusia-manusia pilihan yang harus menyampaikan kebenaran kepada umat manusia dan membawanya ke jalan yang lurus dan diridhai Allah SWT.  Tapi anehnya, orang Kristen lebih senang kalau Yesus itu mati dalam penyalibannya. Itu artinya Kristen secara tidak sadar me-labeli Yesus bukan rasul atau manusia pilihan Tuhan karena ia dibiarkan tewas tanpa pertolongan Tuhannya.

Kristen berdalih, bahwa misi Yesus memang seperti itu. Ia datang untuk mati  menebus dosa manusia. Sungguh statement yang diluar akal sehat dan logika kita! Sebab, jika memang tujuannya hanya untuk itu tentunya ada beberapa poin yang perlu dipertanyakan:

1. Jika Yesus tahu bahwa dirinya akan disalib, mengapa Yesus  harus berdoa minta dirinya diselamatkan dari maut (Luk 22:41-43)? Ataukah ia sedang bersandiwara dalam doanya?  Atau apakah doa Yesus ini didengar atau tidak? Kalau didengar, kepercayaan bahwa dia mati di atas salib berarti BATAL. Sebaliknya, kalau tidak didengar berarti diragukan apakah dia orang benar atau tidak, karena dalam Kitab Amsal dikatakan:

“TUHAN itu jauh daripada orang fasik, tetapi doa orang benar didengarnya” (Amsal 15:29).

Yang benar ialah, Allah Ta’ala telah mendengar ratap tangisnya, sesuai dengan kebiasaan dan sunah-Nya. Almasih pasti diselamatkan dari kematian di atas tiang salib yang terkutuk itu.

2. Jika Yesus tahu bahwa dirinya akan disalib, mengapa Yesus harus bersedih dan meminta murid-muridnya untuk berjaga-jaga (Mat 26:38/ Mark 14:34)? Bukankah seharusnya ia tidak bersikap seperti itu karena sudah tahu bahwa dirinya akan disalib, bukannya ia seharusnya gembira karena sebentar lagi misi kematiannya untuk penebusan dosa segera terlaksana?

3. Jika Yesus tahu bahwa dirinya akan disalib, mengapa Yesus justru memilih sembunyi atau menjauh atau melarikan diri dari orang-orang Yahudi yang berusaha membunuhnya (Yoh 11:53-54, Yoh 7:1, Yoh 8:59)? Bukankah tidak semestinya ia bersikap seperti itu karena sudah tahu bahwa dirinya memang datang untuk mati menebus dosa manusia?

4. Jika Yesus tahu bahwa dirinya akan disalib, mengapa Yesus harus ditangkap bagai seorang penyamun bahkan diadili di hadapan Mahkamah Agama (Mat 26:36-68)? Bukankah misi Yesus adalah untuk menyerahkan dirinya dalam maut, yang tentunya ia tak harus ditangkap seperti itu? Ataukah itu hanya sekedar sandiwara belaka?  Dan pada kesempatan lain, Yesus pun juga mengisyaratkan bahwa ia takkan bisa ditangkap dan ditemukan keberadaannya. (Yoh 7:30-36)

5. Jika Yesus tahu bahwa dirinya akan disalib, mengapa Yesus harus berteriak-teriak saat dirinya disalib yang seakan-akan dia bertanya tentang Tuhan yang membiarkan dan tidak menolongnya(Mat 27:46 /Mark15:34)?
Dan bukankah sikap tersebut menunjukkan ketidakrelaannya menerima keputusan penyaliban tersebut? Atau dengan kata lain, Yesus tidak merasa siap untuk di salib? Bukankah sudah seharusnya dia menampakkan sikap yang tenang dan berdoa serta bahagia dalam peristiwa penyaliban dirinya tersebut?

Ibaratnya, seorang terpidana yang divonis mati, dan sebentar lagi regu penembak akan mengeksekusi dirinya, tentunya sikap yang ada saat itu, adalah terpidana sudah ikhlas menerimanya, kemudian ia berdoa untuk terakhir kalinya dan menjemput kematiannya dengan tenang, bukannya berteriak.

Logika-logika di atas sebenarnya sangat tak bisa kita sangkal bahwa Yesus (Isa Al Masih) itu tidak disalib atau dibunuh! Karena Tuhan pasti melindungi dia sebagaimana Tuhan melindungi nabi-nabi pilihanNya yang diutus untuk kaumnya masing-masing.

Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus sebelum kamu beberapa orang rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan (yang cukup), lalu Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman. (Ar-Ruum: 47)

Sungguh aneh umat Kristen yang menganggap Yesus itu sebagai anak Allah…
Lalu mereka menyerahkannya kepada kaum Yahudi dengan mengatakan:
Ia telah mati karena mereka telah menyalibnya
Apabila benar yang Kristen katakan,
Tanyakanlah dimana Bapa-nya saat itu…
Jika Bapa-nya senang dengan perbuatan kaum Yahudi
Maka berterima kasihlah kepada kaum Yahudi karena mereka telah membuat-Nya senang
Dan jika Bapa-nya kesal dan tidak senang
Maka sembahlah kaum Yahudi karena mereka telah mengalahkan-Nya.

Renungilah wahai orang-orang yang berakal, menyembahlah kalian hanya kepada Tuhan yang sebenar-benarnya. Tidak seharusnya anda mempersekutukan-Nya dengan seseorang yang tercipta hanya dari tanah:

“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.” (Ali-Imraan: 59) (Surya Yaya/berbagai sumber)

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Islam Menjawab dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s