Interview ala Duladi; Muslim Menjawab (Surya Yaya) PART 3


Duladi Samarinda Surya Yaya, berdasarkan kutipan Sirah anda di atas, Muhammad mulai berjihad setelah beliau tinggal di Medinah dengan tentram selama 12 bulan. Pertanyaan saya, bukankah tidak masuk akal, jika nabi mengusik orang-orang Quraish kembali?

Surya Yaya Justru orang-orang Quraish-lah yang mengusik sang nabi. Hijrahnya beliau itu dianggap tidak cukup bagi kaum kafir Quraisy, mereka juga mengambil alih semua harta benda dan rumah-rumah mereka (kaum muslim yang hendak hijrah ke Medinah) , lalu menjualnya. Sampai-sampai kediaman Nabi pun tidak lepas dari sasaran kebuasan mereka.

Bahkan menyusuli ke negeri tempat beliau hijrah dan meminta kaumnya yang ikut bersama nabi untuk pulang kembali. Mananya yang tidak masuk akal, Duladi Samarinda ?

Baca : BAB 90 HIJRAHNYA RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM, disitu digambarkan kehawatiran kaum kafir quraisy dan ketidaksenangannya kepada nabi beserta kaum muslimin lainnya mendapatkan tempat yang tenang dan terlindungi.

Perihal Daar An-Nadwah

Ibnu Ishaq berkata, “Ketika orang-orang Quraisy mengetahui bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mempunyai banyak pengikut, sahabat-sahabat di negeri lain dan melihat hijrahnya sahabat-sahabat beliau dari kaum Muhajirin ke sahabat-sahabat dari kaum Anshar, mereka pun segera sadar bahwa kaum Muslimin telah mendapatkan negeri dan mendapatkan perlindungan.

Oleh karena itu, mereka mewaspadai hijrahnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ke Madinah.

Mereka juga sadar bahwa kaum Muslimin telah bersatu padu untuk memerangi mereka. Karena itulah, mereka segera menggelar rapat di Daar An-Nadwah membahas Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Tadinya Daar An-Nadwah rumah milik Qushai bin Kilab.

Orang-orang Quraisy tidak memutuskan satu perkara, melainkan mereka bermusyawarah di dalamnya. Di Daar An-Nadwah itu pula, mereka mengadakan rapat membahas Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, karena mereka takut kepada beliau.”

Sekali lagi, mananya yang tidak masuk akal, Duladi Samarinda ?

Duladi Samarinda Surya Yaya, pertanyaan para teman di sini adalah: Bukankah selama 12 bulan itu orang Quraish sudah tidak peduli lagi pada Muhammad dan mereka menyibukkan diri dengan berdagang? Kenapa nabi yang mulia akhlaknya ini malah cari ribut lagi dengan kaum Quraish?

Trus teman-teman juga bertanya, dimanakah bukti apology Islam selama ini bahwa JIHAD itu dilakukan nabi untuk membela diri, jika faktanya nabi berjihad bukan untuk membela diri tapi untuk balas dendam dan merampok?

Surya Yaya Duladi Samarinda menulis: Surya Yaya, pertanyaan para teman di sini adalah: Bukankah selama 12 bulan itu orang Quraish sudah tidak peduli lagi pada Muhammad dan mereka menyibukkan diri dengan berdagang? Kenapa nabi yang mulia akhlaknya ini malah cari ribut lagi dengan kaum Quraish?

–> Pertanyaan anda juga sudah terjawab di atas, dan jawabannya pun juga tetap sama pada apa yang sudah saya tulis di sini.

Sekadar penambahan dan penegasan saja, bahwa tidak ada satupun cerita dalam sejarah nabi mengusik orang-orang Quraisy ketika ia dan pengikutnya hijrah ke Madinah dengan tujuan menghindari tekanan kaum kafir Quraisy terhadap orang-orang lemah yang masuk Islam.

Yang ada, kafir Quraisy-lah yang tidak henti-hentinya mengadakan tekanan demi tekanan terhadap orang-orang muslim yang sudah dan akan bermukim (hijrah) di Madinah. Yakni,

Kafir Quraisy berusaha memblokade gelombang hijrah besar-besaran terhadap orang-orang muslim yang masih menetap di Makkah agar tidak menyusul ke Habasyah maupun Madinah. Kalaupun mereka dibebaskan pergi, mereka tidak boleh membawa atau harus menyerahkan hartanya, dan rumahnya menjadi kuasa orang-orang kafir Quraisy.

Dan kaum Muslimin menerima tawaran itu, asalkan mereka di bebaskan pergi. Tapi sayangnya, meski mereka (kaum muslimin) telah pergi dan mendapatkan tempat yang aman dan terlindungi, kafir Quraisy malah meminta mereka kembali ke negeri asalnya, bahkan memerangi An-Najasyi, dan kafir Quraisy kalah.

Jadi, siapa sebenarnya yang cari masalah?

Tabiat kafir Quraisy tersebut, tidak ada bedanya dengan perilaku Kristen-Yahudi dulu dan kini, dengan watak menjajah dan sangat tamak dengan harta serta lebih menyukai kesesatan daripada kebenaran.

( Referensi lengkap cerita di atas, baca: Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid1: PENGIRIMAN ORANG-ORANG QURAISY KE HABASYAH UNTUK MEMINTA PARA MUHAJIRIN, halaman 292-297, dan BAB 65: PERIHAL SHAHIFAH (NOTA PERJANJIAN, halaman 313-314, BAB 69: PEMBATALAN SHAHIFAH (NOTA PERJANJIAN), BAB 72 DELEGASI KRISTEN HABASYAH, BAB 89 TURUNNYA PERINTAH PERANG KEPADA RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM, BAB 90 HIJRAHNYA RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM.)

Surya Yaya Duladi Samarinda menulis: Trus teman-teman juga bertanya, dimanakah bukti apology Islam selama ini bahwa JIHAD itu dilakukan nabi untuk membela diri, jika faktanya nabi berjihad bukan untuk membela diri tapi untuk balas dendam dan merampok?

Tanggapan:

–> Berkaitan dengan tulisan diatas, adalah wajar ketika kafir quraisy didapati melintasi Makkah-Madinah sebagai jalur perdagangannya, oleh orang-orang muslim yang bermukim di Madinah, menghadang mereka untuk membuat perhitungan dari perbuatan mereka yang menyiksa dan mengambil harta-harta orang muslim yang dulunya hendak hijrah dan mengintimidasi kaum muslimin.

Makanya ketika tiba di Madinah dan hidup bertetangga dengan orang-orang Yahudi yang tinggal di kota tersebut yakni Bani Qainuqa’, Bani Nadhir, Bani Quraizah, dan Yahudi Khaibar,— nabi belum merespons atau memerangi segala bentuk keusilan mereka dan penghianatannya terhadap perjanjian yang disepakati bersama mengingat ada kekuatan yang lebih besar yang mengancam mereka dari sisi kota Makkah, yaitu kaum Quraisy yang saat itu lebih kejam dan lebih berbahaya dari kaum Yahudi di Madinah.

Jadi, balas dendam dan merampok yang bagaimanakah otak anda memahaminya?

Definisi kata yang bagaimanakah saya menerangkan kepada anda, bahwa tuduhan merampok yang anda dengungkan hanyalah bentuk asumsi kebencian belaka?

Atau seperti kata-kata dalam alkitab anda-kah yang seperti ini dimaui?

Nahum. 2:9 Jarahlah perak, jarahlah emas! Sebab tidak berkesudahan persediaan harta benda, kelimpahan segala barang yang indah-indah!

2 Samuel. 12:28 Oleh sebab itu, kumpulkanlah sisa tentara, kepunglah kota itu dan rebutlah, supaya jangan aku yang merebut kota itu dan jangan namaku menjadi juga nama kota itu.”

Ulangan. 2:35 hanya hewan kita rampas bagi kita sendiri, seperti juga jarahan dari kota-kota yang telah kita rebut.

Ulangan. 3:4 Pada waktu itu kita merebut segala kotanya; tidak ada kota yang tidak kita rampas dari pada mereka: enam puluh kota, seluruh wilayah Argob, kerajaan Og di Basan.

Ulangan. 3:7 Tetapi segala hewan dan jarahan dari kota-kota itu kita rampas bagi kita sendiri.

Duladi Samarinda Surya Yaya, menjelaskan:

tidak ada satupun cerita dalam sejarah nabi mengusik orang-orang Quraisy ketika ia dan pengikutnya hijrah ke Madinah dengan tujuan menghindari tekanan kaum kafir Quraisy terhadap orang-orang lemah yang masuk Islam.

Apakah mengusik orang Quraish setelah 12 bulan masa damai itu anda abaikan?

Anda menjelaskan:

Yang ada, kafir Quraisy-lah yang tidak henti-hentinya mengadakan tekanan demi tekanan terhadap orang-orang muslim yang sudah dan akan bermukim (hijrah) di Madinah.

Balasan dari “tekanan” (=dalam bahasa Anda) adalah PERAMPOKAN & PEMBUNUHAN?

Ada teman yg mengandaikan: seandainya di Indonesia ini ada muslim ditekan oleh non-muslim, maka non-muslim itu “kapan-kapan” boleh dibunuh dan dirampok oleh muslim?

Anda menjelaskan:

Kafir Quraisy berusaha memblokade gelombang hijrah besar-besaran terhadap orang-orang muslim yang masih menetap di Makkah agar tidak menyusul ke Habasyah maupun Madinah

Berarti tidak benar ada pengusiran, bukan? Justru orang Quraish berusaha mencegah para budak atau anak-anak mereka pergi meninggalkan Mekkah, ya kan?

Anda menjelaskan:

Kalaupun mereka dibebaskan pergi, mereka tidak boleh membawa atau harus menyerahkan hartanya, dan rumahnya menjadi kuasa orang-orang kafir Quraisy.

Coba anda tampilkan riwayat sejarah dari Sirah, bahwa ada HARTA benda selain RUMAH yg tidak boleh dibawa pergi oleh para majikan quraish di Mekkah. Kok saya malah temukan satu contoh: Abu Bakar memboyong SEMUA HARTA KEKAYAANNYA ke Medinah bersama Muhammad? Kalau rumah, saya pikir tidak aneh karena rumah tidak bisa dibawa.

Anda menjelaskan:

Dan kaum Muslimin menerima tawaran itu, asalkan mereka di bebaskan pergi. Tapi sayangnya, meski mereka (kaum muslimin) telah pergi dan mendapatkan tempat yang aman dan terlindungi, kafir Quraisy malah meminta mereka kembali ke negeri asalnya, bahkan memerangi An-Najasyi, dan kafir Quraisy kalah.

Mereka yg minggat ke Habasyah bukankah sebagian besar adalah para budak/pekerja?

Apakah salah jika majikan Quraish mengejar para budaknya yg melarikan diri hanya karena dihasut oleh Muhammad?

Muhammad menyuruh pengikutnya yg lemah itu (=para budak Quraish) agar lari dari majikannya sebab majikannya melarang mereka menjadi pengikut Muhammad. Bukankah ini sarat dengan kepentingan Muhammad yg takut kehilangan pengikut dan mengabaikan kepentingan orang-orang Quraish yg membutuhkan tenaga para pekerja?

Anda menjelaskan:

Tabiat kafir Quraisy tersebut, tidak ada bedanya dengan perilaku Kristen-Yahudi dulu dan kini, dengan watak menjajah dan sangat tamak dengan harta serta lebih menyukai kesesatan daripada kebenaran.

Bagaimana dengan iming-iming sang nabi kepada orang-orang Arab jika mereka bersedia jadi pengikutnya maka mereka kelak akan menguasai harta orang kafir dan meniduri perempuan-perempuannya? Apakah ini bermoral? Mohon anda konfirmasi.

Duladi Samarinda Surya Yaya menjelaskan:

Berkaitan dengan tulisan diatas, adalah wajar ketika kafir quraisy didapati melintasi Makkah-Madinah sebagai jalur perdagangannya, oleh orang-orang muslim yang bermukim di Madinah, menghadang mereka untuk membuat perhitungan dari perbuatan mereka yang menyiksa dan mengambil harta-harta orang muslim yang dulunya hendak hijrah dan mengintimidasi kaum muslimin.

Membuat perhitungan setelah 12 bulan lamanya tak ada lagi konflik?

Jadi bagaimana anda meyakinkan para pembaca di sini, bahwa Perang yg diajarkan dalam Islam adalah memang benar-benar PERANG untuk MEMBELA DIRI dan bukan PERANG untuk MEMBALAS DENDAM serta MERAMPOK HARTA ORANG NON-MUSLIM?

Anda menjelaskan:

Makanya ketika tiba di Madinah dan hidup bertetangga dengan orang-orang Yahudi yang tinggal di kota tersebut yakni Bani Qainuqa’, Bani Nadhir, Bani Quraizah, dan Yahudi Khaibar,— nabi belum merespons atau memerangi segala bentuk keusilan mereka dan penghianatannya terhadap perjanjian yang disepakati bersama mengingat ada kekuatan yang lebih besar yang mengancam mereka dari sisi kota Makkah, yaitu kaum Quraisy yang saat itu lebih kejam dan lebih berbahaya dari kaum Yahudi di Madinah.

Apakah anda sudah membaca tuntas kitab Sirah Nabawi Jilid 1 dan 2? Siapakah yang usil terhadap umat Yahudi di Medinah? Bukankah perjanjian Medinah dibuat sendiri oleh sang nabi di mana salah satu petikannya berbunyi: “Orang Yahudi dengan agamanya dan orang muslim dengan agamanya, tidak boleh saling mengganggu”, tetapi tak lama sesudah nabi dan para sahabat tinggal menetap di kota Medinah, Muhammad meng-intimidasi orang-orang Yahudi agar berpindah agama? Apakah ini bukan termasuk usil menurut anda?

Dan mengenai pelanggaran perjanjian, tidakkah sang nabi sendiri yg melanggarnya?

Surya Yaya Duladi Samarinda menulis: Apakah mengusik orang Quraish setelah 12 bulan masa damai itu anda abaikan?

–> Tanggapan:

Lagi, anda cuma mengulang pertanyaan dan mengabaikan jawaban yang seolah-olah anda tidak mengerti. Jadi, pertanyaan ini hanyalah upaya ngeles anda dalam memperbanyak sanggahan komentar yang mana jawabannnya sudah tersaji di sini.

Duladi Samarinda menulis: Balasan dari “tekanan” (=dalam bahasa Anda) adalah PERAMPOKAN & PEMBUNUHAN?

Ada teman yg mengandaikan: seandainya di Indonesia ini ada muslim ditekan oleh non-muslim, maka non-muslim itu “kapan-kapan” boleh dibunuh dan dirampok oleh muslim?

–> Tidak ada definisi atau kata yang mengandung arti itu adalah “perampokan” apalagi pembunuhan pada kisah yang sudah saya tulis. Kata “perampokan” adalah bahasa silat lidah anda saja. Sementara kata “pembunuhan” hanyalah respek spontanitas dari akibat perseteruan yang ditimbulkan.

Dan kaitan analogi anda tentang “seandainya di Indonesia ini ada muslim ditekan oleh non-muslim, maka non-muslim itu “kapan-kapan” boleh dibunuh dan dirampok oleh muslim” jelas ini beda konteks dan situasinya. Jadi jika anda dewasa dalam berpikir, maka sepatutnya anda tidak mencocok-cocokan analogi tersebut hanya untuk bersubjektif dalam menyanggah jawaban diatas.

Duladi Samarinda menulis: “Apakah anda sudah membaca tuntas kitab Sirah Nabawi Jilid 1 dan 2? Siapakah yang usil terhadap umat Yahudi di Medinah? Bukankah perjanjian Medinah dibuat sendiri oleh sang nabi di mana salah satu petikannya berbunyi: “Orang Yahudi dengan agamanya dan orang muslim dengan agamanya, tidak boleh saling mengganggu”, tetapi tak lama sesudah nabi dan para sahabat tinggal menetap di kota Medinah, Muhammad meng-intimidasi orang-orang Yahudi agar berpindah agama? Apakah ini bukan termasuk usil menurut anda?Dan mengenai pelanggaran perjanjian, tidakkah sang nabi sendiri yg melanggarnya?

–> Perjanjian dibuat oleh beliau saw sendiri dengan kesepakatan bersama orang-orang Yahudi yang bermukim di Madinah. Akan tetapi,jauh sekali, mereka tidak mampu untuk menjaga kesepakatan itu, setiap perjanjian dilakukan, mereka langsung melanggarnya.

Itulah yang terjadi dengan Bani Qainuqa’, mereka tidak dapat mempertahankan perjanjian mereka dengan Nabi, mereka melanggarnya dengan cara membakar pasar kaum muslimin. Untuk mempersingkat jawaban, silakan baca bantahan tuduhan busuk anda di blog saya: https://sy42.wordpress.com/2012/03/17/jawaban-atas-tuduhan-muhammad-saw-melakukan-tindakan-tindakan-sadistis-terhadap-kaum-yahudi-yang-bermukim-di-madinah/

Duladi Samarinda menulis: Berarti tidak benar ada pengusiran, bukan? Justru orang Quraish berusaha mencegah para budak atau anak-anak mereka pergi meninggalkan Mekkah, ya kan?

–> Kentara anda hanya membaca dan mempreteli sebisa mungkin berdasarkan apa yang anda kehendaki. Silakan anda baca Syair-syair tentang Hijrah dari Abdullah bin Al- Harits yang mengingatkan pengusiran terhadap kaum Muhajirin dari negeri mereka. Dalam syairnya, Ia mengecam sebagian kaumnya,

Hatiku hampir tidak mempercayai peperangan mereka terhadapku

Begitu juga jari-jemariku

Bagaimana aku harus memerangi orang-orang yang telah mendidik kalian

Di atas kebenaran agar kalian tidak mencampur kebenaran dengan kebatilan?

MEREKA DIUSIR oleh hamba-hamba jin dari negeri mereka yang merdeka

Kemudian mereka dalam penderitaan …. dst.

Baca juga, Kecaman Utsman bin Madz’um terhadap Umaiyyah bin Khalaf

Ibnu Ishaq berkata, “Utsman bin Madz’un mengecam Umaiyyah bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah. Utsman bin Mad’un adalah saudara misan dengan Umaiyyah bin Khalaf, namun begitu, Umaiyyah bin Khalaf tetap menyiksanya karena keislamannya. Ketika itu, Umaiyyah bin Khalaf menjadi tokoh yang dihormati di kaumnya. Utsman bin Madz’um berkata dalam syairnya,

Layakkah engkau mengusirku dari Makkah untuk mencari keamanan

Dan engkau menempatkanku di istana putih yang kubenci… dst..

Surya Yaya Duladi Samarinda menulis: Coba anda tampilkan riwayat sejarah dari Sirah, bahwa ada HARTA benda selain RUMAH yg tidak boleh dibawa pergi oleh para majikan quraish di Mekkah. Kok saya malah temukan satu contoh: Abu Bakar memboyong SEMUA HARTA KEKAYAANNYA ke Medinah bersama Muhammad? Kalau rumah, saya pikir tidak aneh karena rumah tidak bisa dibawa.

–> Saya tidak mengatakan rumah yang tidak boleh dibawa. Btw, anda sedikit ngelawak juga . Untuk mempersingkat jawaban, silakan lihat screenshoot-nya disini: Hijrahnya Shuaib: http://www.facebook.com/photo.php?fbid=2817520403270&set=a.2799793680113.2117527.1416684699&type=3&theater

Perampasan Rumah Bani Jahsyoleh Abu Sufyan bin Harb: http://www.facebook.com/photo.php?fbid=2827366449415&set=a.2799793680113.2117527.1416684699&type=3&theater

Duladi Samarinda menulis: Mereka yg minggat ke Habasyah bukankah sebagian besar adalah para budak/pekerja?

Apakah salah jika majikan Quraish mengejar para budaknya yg melarikan diri hanya karena dihasut oleh Muhammad? Muhammad menyuruh pengikutnya yg lemah itu (=para budak Quraish) agar lari dari majikannya sebab majikannya melarang mereka menjadi pengikut Muhammad. Bukankah ini sarat dengan kepentingan Muhammad yg takut kehilangan pengikut dan mengabaikan kepentingan orang-orang Quraish yg membutuhkan tenaga para pekerja?

–> Orang-orang lemah yang masuk Islam dan ikut hijrah ke madinah, adalah orang-orang yang sudah dimerdekakan secara langsung baik dari Abu Bakar maupun sahabat- sahabat yang telah masuk Islam yang punya pengaruh besar di kaumnya. Lagipula, tidak ada alasan kafir quraish harus mengembalikan kaumnya yang telah ia usir sendiri dan hijrah ke Madinah, karena sebelumnya memang “dibolehkan” atau bahasa kasarnya diusir, tapi dengan satu syarat, hartanya harus diserahkan, dan rumahnya menjadi kekuasaan orang-orang Quraisy.

Duladi Samarinda menulis: Bagaimana dengan iming-iming sang nabi kepada orang-orang Arab jika mereka bersedia jadi pengikutnya maka mereka kelak akan menguasai harta orang kafir dan meniduri perempuan-perempuannya? Apakah ini bermoral? Mohon anda konfirmasi.

–> Tidak ada yang seperti itu, kalaupun dikatakan “menguasai” harta orang kafir, itu hanyalah upaya mengambil kembali apa yang pernah dirampas atau diambil secara paksa. Apa tidak boleh jika disuatu waktu anda punya kesempatan untuk mengambil barang anda yang pernah dirampok oleh penjahat??

Duladi Samarinda menulis: Membuat perhitungan setelah 12 bulan lamanya tak ada lagi konflik?

Jadi bagaimana anda meyakinkan para pembaca di sini, bahwa Perang yg diajarkan dalam Islam adalah memang benar-benar PERANG untuk MEMBELA DIRI dan bukan PERANG untuk MEMBALAS DENDAM serta MERAMPOK HARTA ORANG NON-MUSLIM?

–> Kembali lagi pada jawaban diatas. Intimidasi kafir quraisy terhadap muslim yang masih di Makkah dan akan hijrah menyusul kawannya, apakah itu bukan suatu (yang bisa disebut) konflik?

Dan siapa yang paling menginginkan agar perang besar itu terjadi? Tentunya kafir Quraisy. Seperti pada Perang Badar pertama, dimana memang tidak terjadi kontak senjata sebab pasukan Muslimin tidak dapat mengejar pasukan Quraish yang telah menyerang dan MERAMPOK/menjarah tempat-tempat penggembalaan di daerah pinggiran Madinah.

Dan Perang Badar Al-Kubra yang akhirnya terjadi karena Quraisy memang menginginkan terjadinya kontak senjata (perang) dengan pasukan Muslimin, walaupun kafilah dagang mereka telah memasuki jalur yang aman. Akhir

pertempuran pasukan Muslimin memenangkan peperangan Badar Al-Kubra ini.

Terdapat sekitar 68 orang tawanan perang (Suku Quraish) yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk diperlakukan dengan baik, sabdanya SAW: “Perlakukanlah tawanan itu dengan baik.”

Jadi, anda-lah (Kristen) yang sebenarnya memang sangat keji dalam meng-spekulasikan sejarah nabi berdasarkan ajaran anda sendiri, Dusta, Dengki, dan Benci! Bibel pun tidak luput dari kekejian leluhur-lelehur anda.

Duladi Samarinda Surya Yaya menerangkan:

Sementara kata “pembunuhan” hanyalah respek spontanitas dari akibat perseteruan yang ditimbulkan. Apakah respek spontanitas harus menunggu 12 bulan? Kata teman, itu bukan reaksi spontan melainkan PEMBALASAN DENDAM. Bagaimana menurut anda?

Duladi Samarinda Surya Yaya menjelaskan:

Tidak ada definisi atau kata yang mengandung arti itu adalah “perampokan”

Bukankah tujuan dari ghazwa yang Muhammad adakan sesudah masa damai 12 bulan itu adalah untuk “MENJARAH”?

Duladi Samarinda Surya Yaya menjelaskan:

Silakan anda baca Syair-syair tentang Hijrah dari Abdullah bin Al- Harits yang mengingatkan pengusiran terhadap kaum Muhajirin dari negeri mereka.

Iya, saya membaca syair-syair itu, tapi kenyataannya mereka tidak diusir, bukan? Muhammad-lah yg menghasut para budak yg telah menjadi pengikutnya itu untuk minggat dari rumah majikannya dan pergi ke Habasyah?

Setelah itu, Muhammad juga menghasut banyak para sahabatnya untuk minggat bersamanya ke Medinah untuk bersatu dengan orang-orang Kazraj dan Aus.

Bukankah MENGHERANKAN, bagaimana muslim bisa mengatakan MEREKA DIUSIR oleh kafir Quraish?

Duladi Samarinda Tentang pelanggaran Piagam Medinah, saya abaikan dulu, supaya tidak semakin melebar wawancara ini.

Surya Yaya Pertanyaan anda (mungkin) seharusnya begini:

Bukankah pasca hijrah sang nabi di Madinah, ± 12 bulan tidak pernah lagi berurusan sama kaum kafir Quraisy, tapi mengapa ia melakukan penghadangan sekaligus penyerangan dan pembunuhan? Bukankah motif penyerangan tersebut adalah perampokan dan balas dendam.

Tanggapan:

Tiga kali anda mengulang pertanyaan yang sama dan tiga kali pula saya sudah memberikan jawabannya di atas secara variatif. Dan saya coba sederhanakan lagi jawaban dari tuduhan tersebut.

Pertanyaan balik saya ke anda:

Pertama, motif penghadangan dan penyerangan yang dilakukan kaum muslimin terhadap kafilah dagang kafir Quraisy apakah dianggap salah, sementara itulah kesempatan yang paling baik bagi kaum muslimin untuk mengambil kembali hak-hak mereka yang ditelah dirampas secara paksa dan ditindas dengan semena-mena oleh kafir Quraisy ketika mereka masih di Mekkah dulu? Apalagi stategi memblokir jalur perdagangan itu terbilang sangat jitu untuk mematikan sumber kehidupan kaum kafir Quraisy.

(Analogi) Atau, apakah tidak boleh jika disuatu waktu anda punya kesempatan untuk mengambil barang anda yang pernah diambil secara paksa, bahkan sampai tertindas, oleh penjahat, anda tidak melakukannya disaat anda punya peluang untuk melakukannya? Apakah itu yang anda maksud sebuah perampokan?

Kedua, balas dendam. Apakah hal ini juga sesuatu yang salah?

Ketahuilah, perintah untuk “balas dendam” (—dalam tanda kutip) diwajibkan bagi kaum muslimin yang sekian lama bersabar atas gangguan musuh-musuhnya, ADALAH setelah turunnya ayat perintah untuk berperang (Surah Al-Hajj: 39) ” ) Tapi tentunya “balas dendam” yang dianjurkan disini ialah yang sesuai dengan kapasitasnya, sebab:

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas” (Al-Baqara: 190)

“Jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. AKAN TETAPI jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. (An-Nahl: 126)

“…seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu” (Al-Baqara: 194)

Ketiga, perihal pasukan Abdullah bin Jahsy dengan kafilah dagang kafir Quraisy; Amr bin Al-Hadhrami, Utsman bin Abdullah bin Al-Mughirah Al-Makhzumi, Naufal bin Abdullah Al-Makhzumi, dan Al-Hakam bin Kaisan, yang berakhir dengan tewasnya Amr bin Al-Hadhrami (sang ketua rombongan), dan ditawannya Utsman bin Abdullah dan Al-Hakam bin Kalsan, adalah (inipun) tidak lepas dari seperti yang sudah saya utarakan di atas.

Hanya saja, apa yang dilakukan Abdullah bin Jahsy terhadap orang-orang Quraisy tersebut tidak pernah dianjurkan oleh Rasulullah yang dalam hal ini tidak boleh berperang di bulan haram.

Surya Yaya Duladi Samarinda menulis: Iya, saya membaca syair-syair itu, tapi kenyataannya mereka tidak diusir, bukan?

Tanggapan:

Bukankah syair-syair itu diucapkan oleh mereka sendiri yang notabene berstatus “korban”. Bahkan pelakunya pun (Abu Sufyan bin Harb—salah satu tokoh Quraisy yang begitu hebat permusuhannya terhadap Islam) mengakui sendiri dalam syair-syairnya bahwa ia memang mengusir mereka? Berikut penggalan syairnya:

“….. Aku diberi petunjuk oleh pemberi petunjuk selain diriku.. / ORANG YANG PERNAH AKU USIR bersama Allah telah mendapatkanku… / Dulu aku bersungguh-sungguh menghalangi-halangi manusia dari Muhammad… / Aku tetap dihormati kendati aku tidak bergabung dengan pasukan Muhammad… / Tidak termasuk musryik orang yang tidak berkata dengan hawa nafsu… / Kendati ia cerdas, ia dikecam dan didustakan…” (Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 2: 371-374).

Surya Yaya Duladi Samarinda Tentang pelanggaran Piagam Medinah, saya abaikan dulu, supaya tidak semakin melebar wawancara ini.

–> Dibahas juga tak mengapa. Biar pembaca tahu siapa yang melanggar Piagam Madinah, dan seperti apa tabiat orang-orang Yahudi yang bermukim di Madinah.

*** Sampai saat ini Duladi Samarinda belum bersedia meladeni wawancara balik saya dari apa yang sudah ia tanyakan. Ternyata ia memang hanya gemar bertanya, keringat dingin ditanya (karakter debater kadal memang seperti itu) .  Kalaupun ia menjawab, jawaban yang yang diberikan hanya berdasarkan apa yang ia tanyakan alias sedang bermonologi ria dalam setiap status-statusnya.  Itulah tipikal orang yang secara tidak langsung kalau ajaran agamanya memang amburadul, maka yang bisa dilakukan adalah mencari-cari kesalahan yang tidak bisa dibuktikan adanya, selain hanya fitnah, caci maki, dan menebarkan kebencian hasil didikan ajarannya.

(Dicopas ulang dari link: http://www.facebook.com/duladi.samarinda/posts/507429899287427?comment_id=5730979&notif_t=mentions_comment)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s