Interview ala Duladi; Muslim Menjawab (Surya Yaya) PART 4


Duladi Samarinda Jadi kesan yg diterima penonton benar dong, bahwa Islam menghalalkan PERAMPOKAN dan PEMBUNUHAN dengan motif BALAS DENDAM, tapi berkedok “perang” yg dalam Islam disebut “PERANG SUCI” (=JIHAD)?

Surya Yaya Ya, Kita kembali lagi ke jawaban sebelumnya: Apakah tidak boleh jika disuatu waktu anda punya kesempatan untuk mengambil barang anda yang pernah diambil secara paksa, bahkan sampai tertindas, oleh penjahat, anda tidak melakukannya disaat anda punya peluang untuk melakukannya? Apakah itu yang anda maksud sebuah perampokan?

Kedua, balas dendam. Apakah hal ini juga sesuatu yang salah?

Ketahuilah, perintah untuk “balas dendam” (—dalam tanda kutip) diwajibkan bagi kaum muslimin yang sekian lama bersabar atas gangguan musuh-musuhnya, ADALAH setelah turunnya ayat perintah untuk berperang (Surah Al-Hajj: 39) ” ) Tapi tentunya “balas dendam” yang dianjurkan disini ialah yang sesuai dengan kapasitasnya, sebab:

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas” (Al-Baqara: 190)

Duladi Samarinda Sejarah mencatat, muslim memboyong seluruh harta kekayaannya kecuali rumah karena rumah termasuk harta tak bergerak. Seandainya rumah juga bisa diangkat, pasti muslim akan membawa rumah pula.

Surya Yaya Muslim yang membawa hartanya hijrah ke Madinah, hanyalah muslim yang punya pengaruh besar di kalangan kaumnya, seperti Abu Bakar. Tapi tidak bagi mereka yang lemah.

Balik lagi ke jawaban saya di atas: (Pura-pura tidak baca yang ini yah?)

Hijrahnya Shuaib: http://www.facebook.com/photo.php?fbid=2817520403270&set=a.2799793680113.2117527.1416684699&type=3&theater

Perampasan Rumah Bani Jahsyoleh Abu Sufyan bin Harb: http://www.facebook.com/photo.php?fbid=2827366449415&set=a.2799793680113.2117527.1416684699&type=3&theater

(Lagi, benar-benar dialog yang terulang-ulang pertanyaan dan jawabannya….)

Duladi Samarinda Saya hanya menyampaikan pertanyaan penonton: Apakah kita akan menganggap orang-orang Bali itu MULIA jika pasca Bom Bali mereka kemudian menghancurkan rumah ibadah muslim dan membantai orang-orang muslim yg tinggal di Bali? Ya tidak harus spontan lah, bisa saja menunggu 10 bulan atau 12 bulan lamanya, barulah orang-orang Bali bertindak. Apakah hal seperti ini anda anggap MULIA dan bukan sesuatu yang SALAH?

Surya Yaya Anda berupaya mencocokkan pendapat busuk anda yang diluar tema pembahasan kita. Wajar saja, karena anda sudah kehabisan bahan untuk bertanya.

Surya Yaya Duladi Samarinda menulis: Nah, siapakah “ORANG YANG PERNAH AKU USIR” dalam syair Abu Sufyan di atas? Bisakah anda menyebutkannya? Jika yg dimaksud itu MUHAMMAD, oke, itu benar. Tapi adalah tidak benar jika UMAT MUSLIM yang diusir, karena dari riwayat yang diceritakan sendiri dalam Sirah bahwa MUHAMMAD-lah yg menghasut mereka untuk minggat ke Habasyah dan Medinah. Mohon anda jelaskan, karena ini juga menjadi sumber keheranan para penonton.

–> Sudah pasti kaum muslimin. Dan syair-syair pengusiran itu (baik dari yang terusir dan yang mengusir) sudah cukup bukti bahwa mereka (kaum muslimin) adalah kaum yang tertindas dan terusir dari negeri-nya sendiri hanya karena memilih beriman kepada Allah dengan akidah Islam, meninggalkan budaya paganisme mereka.

Menghasut adalah juga gaya bahasa silat lidah anda. Dan seperti itulah bentuk kealergian anda dengan riwayat sirah yang makin menjadikan hati anda semakin dengki dan semakin tertutupi dengan kesesatan ajaran anda yang kian hari makin jelas kacaunya.

— Ajakan atau saran, anda katakan menghasut.

— Menyerang dan melakukan penghadangan kafilah dagang Quraisy, anda katakan itu perampokan dan balas dendam.

Saya maklumi, karena memang itulah piciknya anda yang juga telah mewakili picik dan busuknya orang-orang Kristen lewat karakter anda.

By the way, definisi kata “menghasut” itu yang seperti apa yah?

Apa menyarankan kaum muslimin lemah yang semakin tertindas oleh kejahatan kafir Quraisy untuk mencari tempat yang aman, anda katakan itu adalah “menghasut” ? Geli…geli…geli….

Sudah seharusnya anda “buang handuk” saja sebagai misionaris yang sudah kehabisan kosakata.

Surya Yaya Duladi Samarinda menulis: Saya akan membuat wawancara terpisah perihal PIAGAM MEDINAH, tapi setelah wawancara tentang PERANG ini finish. Anda bisa diandalkan untuk menjadi NARA SUMBER yang kredibel dan benar-benar mewakili pikiran-pikiran umat Islam.

–> Silakan anda bahas perihal PIAGAM MADINAH (Kita lanjut ke sesi ketiga; tapi dengan catatan wawancara anda berakhir di sesi tersebut dan memberikan saya kesempatan mengcounter balik semua pertanyaan yang anda telah ungkapkan disini).

Jika tidak, berarti untuk ratusan kalinya anda membuktikan diri sebagai debater kadal bin pecundang yang sangat takut ketika diserang balik. Bahkan ujung-ujungnya, (bisa saja) rasa malu anda, anda tutupi dengan memblokir akun yang sudah sekian kali mempermalukan anda ini.

Gimana, anda masih merasa berkelamin laki-laki untuk menerima tawaran ringan ini?

Surya Yaya Duladi Samarinda menulis: MANA BUKTI RIWAYATNYA? Para penonton butuh bukti riwayatnya, tentang orang-orang Quraish yg mengusir orang-orang muslim.

Kalau cuma syair, dan syair itu jauh dari fakta, itu sama halnya mencoba menciptakan DUSTA dalam seni. Demikian kata seorang teman.

–> Betul khan, anda hanya mengulang pertanyaan yang sudah terjawab: Baca fan page-nya di sini:

http://www.facebook.com/notes/sirah-nabawiyah-ibnu-hiysam/hijrah-pertama-ke-habasyah-hal-282-291/408999155777519 (Baca penggalang kalimat: Abdullah bin Al-Harits juga menyusun syair yang mengingatkan pengusiran terhadap kaum Muhajirin dari negeri mereka)

Surya Yaya Duladi Samarinda menulis: Apakah itu yg anda sebut sebagai PERAMPOKAN? Khusus untuk kasus Shuaib, bukankah itu KONSEKUENSI yg harus dia terima bila dia lebih memilih meninggalkan majikan Quraishnya dan lebih memilih minggat bersama Muhammad ke Medinah? Banyak orang di sini melihat kasus Shuaib bukanlah perampokan, tidak ada orang Quraish yg mengambil paksa kekayaannya, tetapi pihak Shuaib-lah sendiri yg meninggalkannya dengan sukarela karena dia lebih memilih minggat bersama Muhammad. Lain halnya jika Shuaib dirampas harta kekayaannya dengan todongan senjata: Pilih Harta atau Mati? Bagaimana tanggapan anda.

–> Apakah anda tidak menganggap bahwa itu adalah upaya intimidasi? Bukannya anda sendiri yang meminta bukti, bahwa mana harta-harta orang muslim yang diambil secara paksa? Nah..itu sudah terjawab khan.

Atau ingin mengulang-ngulang pertanyaan lagi sebagai upaya ngotot dalam kedunguan berpikir?

Baca juga perkataan Abu Sufyan bin Harb yang ia mengakui sendiri dalam syair-syairnya bahwa ia memang mengusir mereka? Berikut penggalan syairnya:

“….. Aku diberi petunjuk oleh pemberi petunjuk selain diriku.. / ORANG YANG PERNAH AKU USIR bersama Allah telah mendapatkanku… / Dulu aku bersungguh-sungguh menghalangi-halangi manusia dari Muhammad… / Aku tetap dihormati kendati aku tidak bergabung dengan pasukan Muhammad… / Tidak termasuk musryik orang yang tidak berkata dengan hawa nafsu… / Kendati ia cerdas, ia dikecam dan didustakan…dst ” (Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 2: 371-374).

Surya Yaya Duladi Samarinda menulis: Bukankah tujuan penindasan itu agar para budak tersebut tidak lagi mengikuti Muhammad dan berhenti memaki-maki agama majikan mereka? Kalau akhirnya mereka tak lagi jadi pengikut Muhammad, bukankah Muhammad yg merasa rugi? Jadi tujuan Muhammad “mengajak” kaum lemah untuk minggat sebenarnya adalah untuk kepentingannya sendiri, bukan? Dan kaum majikan Quraish-lah yg dirugikan. Jadi para penonton bertanya-tanya, mana bukti orang-orang Quraish MENGUSIR umat muslim, jika sebenarnya yg menghasut muslim minggat dari Mekkah adalah Muhammad sendiri?

–> Berarti tuduhan anda tidak benar khan yang mengatakan, Muhammad menghasut mereka?

Apakah anda bersedia bertahan dalam penjajahan dan penindasan yang terus menerus tanpa ada upaya untuk pergi mencari tempat yang aman?

Btw, otak anda masih bisa berpikir?

Surya Yaya Duladi Samarinda menulis: Banyak penonton juga membaca hal. 431 tersebut, dan berkesimpulan orang Quraish tidak mengambil harta kekayaan Shuaib secara paksa.

Tanggapan:

–> Oh yah? Mari kita baca dialog yang terjadi pada peristiwa tersebut di Sirah Ibnu Hisyam 1 Hal. 431.

Sub: Hijrahnya Shuhaib

Ibnu Hisyam berkata bahwa dikatakan kepadaku dari Abu Utsman An-Nahdi bahwa ia berkata, “Ketika Shuhaib hendak hijrah, orang-orang Quraisy berkata kepadanya,

‘Engkau datang ke tempat kami dalam keadaan miskin dan hina, kemudian engkau kaya di tempat kami dan engkau menjadi terhormat. Apakah setelah itu engkau akan pergi dengan membawa kekayaanmu dan dirimu? Demi Allah, ini tidak boleh terjadi.’

Saya garis bawahi kata-kata tersebut “Demi Allah, ini tidak boleh terjadi”

Bisakah anda renungkan kata-kata tersebut dengan membuang terlebih dahulu “bisikan setan” yang selalu nangkring di telinga anda.

Lanjut ke percakapan berikutnya:

Shuhaib berkata kepada mereka, ‘Apakah kalian tidak mengganggu perjalananku jika kekayaanku aku serahkan kepada kalian?’

Lanjut…

Mereka menjawab, ‘Ya.’

Shuhaib berkata, ‘Sesungguhnya semua kekayaanku aku berikan kepada kalian.’

Selain dari kisah Shuaib di atas, atas dasar apa kaum Quraisy mengadakan pemblokadean besar-besaran terhadap kaum muslimin yang berniat hijrah, apakah anda juga tidak menangkap bahwa ini adalah upaya intimidasi juga? Bahkan menyiksa dan membunuh mereka yang tetap ngotot pindah keyakinan kepada agama yang lurus (Islam) ?

Jadi, ada baiknya adalah belajar lebih giat lagi menelaah kosakata bahasa. Memikirkannya dengan dalam, dan tidak asal membacanya terburu-buru apalagi menerimanya mentah-mentah yang mana menjadi khas orang Kristen yang buntu menelaah isi bibelnya sendiri.

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=2817520403270&set=a.2799793680113.2117527.1416684699&type=3&theater

Surya Yaya Duladi Samarinda menulis: Jadi tidak ada unsur PERAMPOKAN di situ. Trus bagaimana anda bisa menyebut itu sebagai PERAMPOKAN? Toh Shuaib aman-aman saja dengan hartanya bila dia tetap tinggal di Mekkah?

Tanggapan:

Perampokan yang saya maksud diatas adalah pada pembahasan: Abu Sufyan bin Harb Merampas Rumah Bani Jahsy dan Menjualnya.

Apakah nalar anda masih sehat, sehingga mengatakan model perampasan ala Abu Sufyan tersebut bisa dikatakan bukan perampokan (meski modusnya berbeda)?

Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Bani Jahst bin Riab keluar dari rumah-rumah mereka, Abu Sufyan bin Harb pergi ke sana kemudian menjualnya kepada Amr bin Alqamah, saudara Bani Amr bin Luai.

Ketika Bani Jahsy mendengar tindakan Abu Sufyan bin Harb terhadap rumah-rumah mereka, Abdullah bin Jahsy menceritakan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian beliau bersabda kepada Abdullah bin Jahsy,

‘Wahai Abdullah, apakah engkau tidak senang, jika Allah memberimu rumah di surga yang lebih baik daripada rumahmu tersebut?’ Abdullah bin Jahsy menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Rumah di surga tersebut menjadi milikmu.’

Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menaklukkan Makkah, Abu Ahmad berbicara kepada beliau tentang rumah-rumah mereka, tapi beliau tidak menanggapinya.

Orang-orang berkata kepada Abu Ahmad, ‘Hai Abu Ahmad, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak suka kalian menarik kembali harta yang telah diambil dari kalian di jalan Allah Azza wa Jalla.’ Abu Ahmad tidak meneruskan membicarakan rumah-rumahnya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ia berkata kepada Abu Sufyan bin Harb,

Ketahuilah, katakan kepada Abu Sufyan

Tentang hasil akhir yang di dalamnya terdapat penyesalan

Rumah anak pamanmu telah engkau jual

Dan engkau harus menanggung hutang karenanya

Anak saudaramu bersumpah kepada kalian dengan Allah, Tuhan manusia dan sumpah yang tidak main-main

Pergilah dengan sumpah tersebut dan pergilah dengan sumpah tersebut

Engkau akan dikalungi dengan rumah tersebut seperti burung dara diberi kalung

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=2827366449415&set=a.2799793680113.2117527.1416684699&type=3&theater

Surya Yaya Duladi Samarinda menulis: Kenapa anda menyebut “penjajahan”? Jika seorang budak Quraish bisa sampai memiliki kekayaan seperti Shuaib, dapatkah itu disebut penjajahan?

–> Penjajahan yang saya maksud di sini bukan cuma pada konteks kisah Shuhaib, tapi secara umum kaum muslimin, utamanya mereka yang lemah di Makkah mendapatkan, intimidasi, siksaan, bahkan dibunuh. Apakah gambaran kekejaman dan keberingasan Quraisy tersebut, anda menolak disebut penjajahan?

Jika otak kanan anda tidak berfungsi dengan baik, gunakanlah otak kiri. Tapi jika keduanya sudah tidak berfungsi, sah-sah saja anda pakai dengkul dalam berspekulasi yang tidak-tidak.

Surya Yaya Duladi Samarinda menulis: Duladi Samarinda menulis: Bukankah anda mendukung sifat BALAS DENDAM yg bagi orang-orang beradab merupakan sifat tercela?

–> “Balas dendam”. Saya memberinya tanda kutip dua, agar makna tersebut bukanlah merupakan makna yang konotatif seperti makna harfiahnya.

Sebab balas dendam disini (seperti jawaban saya sebelumnya) adalah membalas yang sesuai dengan kapasitasnya. Bahwa, perintah untuk “balas dendam” (—dalam tanda kutip)—masih terkait pembahasan di atas— diwajibkan bagi kaum muslimin yang sekian lama bersabar atas gangguan musuh-musuhnya, ADALAH setelah turunnya ayat perintah untuk berperang (Surah Al-Hajj: 39) ” ) Tapi tentunya sekali lagi “balas dendam” yang dianjurkan disini ialah yang sesuai dengan kapasitasnya, sebab:

“Jika kamu memberikan balasan, MAKA BALASLAH DENGAN BALASAN YANG SAMA dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. AKAN TETAPI jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. (An-Nahl: 126)

“…seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu” (Al-Baqara: 194)

Apakah tidak boleh anda membalas yang serupa ketika kepala anda saya getok pakai palu?

Jika tidak, syukurlah. Geli,,geli….

Surya Yaya Duladi Samarinda menulis: tapi jika BALAS DENDAM itu ditujukan kepada orang non-muslim dan pelakunya adalah ISLAM, anda tidak berkeberatan dan mendukung sifat tersebut, bukan?

–> Pembahasan ini lain lagi, dan sudah masuk ke ranah hubungan sosial dan kemasyarakatan.

Idealnya, seperti apa anda memperlakukan seseorang, maka jangan protes kalau anda diperlakukan yang sama dengan apa yang sudah anda lakukan.

Tuhan dalam alkitabmu saja punya sifat balas dendam

Yeremia 5:9 Masakan Aku tidak menghukum mereka karena semuanya ini?, demikianlah firman TUHAN. Masakan Aku tidak membalas dendam-Ku kepada bangsa yang seperti ini?

Aneh…aneh…aneh….

Surya Yaya Duladi Samarinda menulis: menulis: Apakah barang-barang yang dibawa oleh para pedagang Quraish dari Siria itu adalah barang-barang kepunyaan muslim? Berapa banyak barang-barang milik muslim yg ditinggal di Mekkah? Apakah sebanding dengan BESARNYA HARTA RAMPOKAN yg Muhammad peroleh dari para pedagang Quraish, dari suku-suku di Arab, dan juga dari penduduk Yahudi Khaibar?

–> Secara fisik memang bukan. Tapi secara ‘lahiriah’ mereka (kaum muslimin) ingin memperlakukan hal yang sama.

Dan mengenai aset kaum Yahudi di Khaibar, jelas itu bukan aset mereka. Karena selain Khaibar tempat untuk merencanakan tipu daya dan jebakan untuk kaum muslimin, di sana pula mereka menyembunyikan harta yang melimpah milik Huyai bin Akhthab dan kaum Yahudi dari Bani Nadhir.

Kisah Kinanah inilah juga paling sering dinukil oleh Kristen dodol untuk membuktikan kepada muslim bahwa Nabi melakukan pemaksaan dan perampasan harta tehadap Kinanah bin Rabi’ tanpa kroschek ke belakang.

Jadi, apakah anda berniat mengulang-ngulang kembali pertanyaan yang ini-ini lagi sebagai bukti bahwa kosakata anda dalam mengspekulasikan sirah sudah mandek?

Apes..apes….apes… tantangan saya tidak pernah digubris.

Surya Yaya Duladi Samarinda Surya Yaya menjelaskan:

Dari titik itu, Shuhaib memperlihatkan citra seorang muslim yg lebih cinta surga ketimbang cinta harta duniawi.

Tapi kenapa 12 bulan kemudian, muslim berubah citra menjadi sosok yang kedunyan? Ini pertanyaan seorang teman, silakan penjelasan anda.

Tanggapan:

–> Jurus ngidul keluar lagi. Jadi anda mengakui kalau tuduhan anda asbun belaka tentang tidak benar bahwa orang Quraisy mengintimidasi kaum muslimin di Makkah?

Hehehe.. kembali lagi ke pembahasan 12 bulan kemudian. Jawabannya baca di atas saja yah.

———————————————————————————————————

Bukankah itu sama dengan kasus Shuhaib? Jika muslim tidak minggat meninggalkan majikan Quraishnya, apakah rumah mereka akan disita Abu Sufyan?

–> Apa yang menyebabkan mereka minggat?

———————————————————————————————————

Jadi maksud anda, umat muslim di Mekkah DIJAJAH oleh orang-orang Quraish? Apakah ini tidak berlebihan? Bukankah orang-orang Quraish sejak awal memang sudah berkuasa di Mekkah?

–> Orang-orang quraisy setelah adanya Islam terbagi atas dua golongan. Golongan yang beriman dan golongan yang tetap kafir. Seperti apa sikap golongan kafir Quraisy terhadap kaumnya yang memilih beriman dengan Islam?

———————————————————————————————————

Kalau soal penganiayaan, di dalam Sirah dan sumber literatur klasik lain disebutkan bahwa penyebab penganiyaan itu adalah akibat Muhammad menyuruh para pengikutnya MEMAKI-MAKI agama kaum Quraish. Bukankah benar begitu?

–> Cacian Rasulullah terhadap agama atau sembahan kafir Quraisy adalah sesuatu yang sah-sah saja, apalagi pada saat itu, masyarakatnya belum mengenal Allah dengan benar. Sekiranya hal ini anda permasalahkan, maka seharusnya anda juga harus mengkritisi sikap Yesus yang dalam dakwahnya mencela penyembahan berhala (Markus 7: 9-12, Wahyu 22:15), dan Musa yang mengamuk melihat kelakuan kaumnya menyembah berhala (Kel.32:19-22). Bagaimana anda melihat itu?

———————————————————————————————————

Tapi soal “dibunuh”, di mana anda menemukan riwayat tentang pembunuhan itu?

Saya tidak menemukan catatan bahwa ada orang muslim di Mekkah yg dibunuh oleh Quraish pada masa sebelum hijrah.

–> Silakan baca halaman 279-280 Jilid 1.

Sub: Penyiksaan terhadap Keluarga Yasir

Ibnu Ishaq berkata, “Ketika panas matahari terik membara, Bani Makhzum membawa Ammar bin Yasir, ayah, dan ibunya–mereka keluarga Islami–ke padang pasir Makkah untuk disiksa. Ketika mereka bertiga sedang disiksa, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berjalan melewati mereka. Beliau bersabda seperti informasi yang aku terima, ‘Sabarlah, wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat kalian ialah surga. ‘ Ibu Ammar, MEREKA BUNUH, karena ia hanya mau menerima Islam.

Juga, Penyiksaan Al-Khaththab terhadap Zaid bin Amr , dan Syair Duka Cita Waraqah bin Naufal untuk Zaid bin Amr . (http://www.facebook.com/notes/sirah-nabawiyah-ibnu-hiysam/perihal-waraqah-bin-naufal-ubaidillah-bin-jahsy-utsman-bin-al-huwairits-dan-zaid/400032866674148)

———————————————————————————————————

jika memang aturan balas dendam adalah seperti itu, kenapa BALASAN MUHAMMAD kepada kaum Quraish LEBIH KEJAM?

–> Pada bagian mana yang dikatakan kejam? Atau anda alergi untuk mengatakannya setimpal? Bagaimana dengan pemaafan beliau saw terhadap orang-orang yang membunuh pamannya, orang yang berusaha meracuninya, dll-nya, bukannya secara nurani, beliau bisa meluapkan dendamnya, tapi malah memaafkannya karena keislamannya?

———————————————————————————————————

Secara tidak langsung, kata penonton, anda mengatakan bahwa UMAT MUSLIM itu SAMA DENGAN TUHAN?

–> Saya cuma mengemukakan keunikan alkitab tentang Tuhan anda yang juga punya sifat balas dendam. Bahwa idealnya, seperti apa anda memperlakukan seseorang, maka jangan protes kalau anda diperlakukan yang sama dengan apa yang sudah anda lakukan.

Seperti tulisan saya diatas:

Tuhan dalam alkitabmu saja punya sifat balas dendam

Yeremia 5:9 Masakan Aku tidak menghukum mereka karena semuanya ini?, demikianlah firman TUHAN. Masakan Aku tidak membalas dendam-Ku kepada bangsa yang seperti ini?

Nah, ayat itu sudah jelas bukan?

Apakah tidak boleh anda membalas yang serupa ketika kepala anda saya getok pakai palu?

———————————————————————————————————

Jadi harta kaum Yahudi Khaibar itu bukan milik muslim, tapi kenapa muslim sangat menginginkannya? Bukankah ini sangat kontras dengan ucapan Muhammad sewaktu di Mekkah:

–> Salah yah jika kaum muslimin mengambil kembali tentang harta Huyai bin Akhthab yang disembunyikan oleh kaum Yahudi dari Bani Nadhir??

(Kelanjutannya, bisa anda lihat di link ini: http://www.facebook.com/duladi.samarinda/posts/507429899287427?comment_id=5741544&notif_t=mentions_comment )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s