Pengungkapan Kristologis


Sarana-sarana pemikiran dan pengungkapan kristologis

Baiklah disadari bagaimana situasi generasi-generasi Kristen yang pertama. Generasi-generasi itu dengan bertitik tolak pengalaman paska sejumlah orang, mulai merefleksikan, memikirkan, mengkonseptualkan iman ke-percayaannya kepada Yesus, Yesus sendiri dan pengalaman mereka dengan Yesus baik sesudah maupun sebelum ia mati di salib. Kesadaran akan situasi itu hanya bisa menimbulkan rasa kagum atas prestasi teologis yang menjadi jasa unggul dua-tiga generasi Kristen pertama seperti yang tercantum dalam karangan-karangan Perjanjian Baru. Dan mereka memikirkan, mengkonseptualkan dan membahasakan iman kepercayaannya dengan pertolongan sarana-sarana yang tersedia.

Mula-mula umat Kristen terdiri atas orang-orang Yahudi, bahkan orang Yahudi pribumi dari Palestina. Sama seperti Yesus dahulu mereka hidup, bergerak dan berpikir dalam rangka agama Yahudi, sebagaimana tercantum dalam Alkitab dan dalam tradisi Yahudi selanjutnya. Dan orang-orang itu, kebanyakan rupanya orang Galilea (Kis 2:7; 13:31), tidak termasuk golongan cendekiawan (Kis 4:13). Untuk memikirkan dan membahasakan iman kepercayaannya mereka berdasarkan pengalamannya dengan Yesus, baik sesudah dibangkitkan maupun sebelumnya. Mereka tentu saja masih ingat akan pewartaan Yesus sendiri yang di satu pihak tinggal dalam rangka tradisi Yahudi, di lain pihak toh terasa sebagai suatu pembaharuan. Para pengikut Yahudi Yesus itu lebih lanjut memanfaatkan gagasan, istilah, ungkapan yang sudah lazim dalam tradisi religius Yahudi itu, khususnya yang tercantum dalam Perjanjian Lama, tetapi sebagaimana Alkitab itu ditafsirkan oleh tradisi Yahudi juga. “Tafsiran” macam itu kini masih dapat dikenal sedikit melalui karangan-karangan Yahudi yang masih tersedia — misalnya Targum, naskah-naskah dari jemaah di Qumram, Midrasyim dan sebagainya, meskipun boleh jadi tradisi Yahudi itu baru di kemudian hari dibukukan. Jadi, dengan pertolongan Alkitab, tradisi Yahudi, pewartaan Yesus dan pengalaman mereka sendiri para pengikut Yesus semula mengartikan, menafsirkan fenomena Yesus dan mengungkapkan iman kepercayaan kepada Yesus yang kini hidup dan dipuja mereka.

Tetapi tidak lama kemudian juga sejumlah orang Yahudi yang berkebudayaan Yunani menjadi percaya dan di Palestina menggabungkan diri dengan bekas pengikut Yesus, orang Nazaret (Kis 6:1-5). Dengan demikian sebuah unsur baru, unsur Yunani mulai memasuki refleksi umat Kristen. Orang Yahudi itu tentu saja bergerak dalam tradisi Yahudi pula, tetapi tradisi Yahudi yang digabungkan sedikit banyak dengan alam pikiran Yunani. Sebuah contoh penggabungan itu tercantum dalam Kitab Suci sendiri (tetapi waktu itu belum umum diterima sebagai Kitab Suci), yaitu kitab Kebijaksanaan Salomo atau kitab 2Makabe. Dan tokoh terkenal dalam hal ini ialah Filo dari Aleksandaria, orang yang sezaman dengan generasi Kristen pertama.

Justru orang Yahudi yang berkebudayaan Yunani (diistilahkan: Helenis) sekitar tahun 40 mulai menyebarkan iman kepercayaan Kristen di luar Palestina, tidak hanya di Samaria, tetapi juga di daerah Siria, Mesir dan Afrika Utara (Kis8:4-5;9:10, 19,31; 11:19-20; 13:1; 18:24). Dan pewartaan juga diarahkan kepada orang bukan Yahudi, yang “Yunani” tanpa latar belakang tradisi Yahudi, seperti halnya dengan orang Yahudi yang berkebudayaan Yunani di Diaspora. Akibatnya ialah: pengaruh alam pikiran Yunani atas refleksi umat mengenai iman kepercayaannya bertambah besar dan kuat. Dua-tiga generasi Kristen pertama tentu saja tidak seluruhnya lepas dari asal usulnya, lingkup Yahudi pribumi. Tetapi asal usul itu semakin bergabung dengan alam pikiran Yunani dan akhirnya unsur Yunani menjadi unsur utama dalam pemikiran umat Kristen.

Alam pikiran Yunani pada awal tarikh Masehi memang serba sinkretis. Di dalamnya terserap macam-macam unsur dari kebudayaan-kebudayaan lain, tetapi secara dasariah alam pikiran itu tetap Yunani. Sinkretisme itu meliputi segala sesuatu dan boleh dikatakan terutama pemikiran religiuslah yang serba sinkretis. Segala apa dicampuradukkan melebur menjadi satu, tetapi sekaligus serba kabur tidak keruan. Dan di samping sinkretisme populer itu masih ada aliran filsafat bermacam-macam, yang berpangkal pada tokoh-tokoh seperti Plato, Arestoteles, Epikurus, Zenon (Stoa), Diogenes dan sebagainya. Dan filsafat itu sedikit banyak “merakyat” ke mana-mana dan juga bercampur aduk. Orang-orang Yahudi di Diaspora, yang berkebudayaan Yunani tentu saja tidak terluput dari sinkretisme umum itu.

Meskipun perbedaannya tidak boleh terlalu dibesar-besarkan, namun antara alam pikiran Yahudi dan alam pikiran Yunani ada perbedaan cukup besar. Alam pikiran Yahudi, cara mereka berpikir, visinya atas realitas secara menyeluruh, boleh dikatakan “dinamis”. Yang penting bukanlah apa yang ada, melainkan apa yang terjadi, peristiwa yang menyangkut manusia, mana gunanya atau ruginya bagi manusia serta dunianya, mana pengaruhnya yang nyata. Yang penting bukanlah adanya sesuatu, melainkan adanya bagi orang; bukan halnya sendiri yang penting, tetapi hubungannya dengan orang. Tidak ditanyakan: apa itu, siapa orang itu, tetapi apa yang dikerjakan sesuatu, seseorang, mana kedudukan dan peranannya. Dan dengan cara itu pun Allah dilihat dan dipikirkan. Bahwa Allah ada, tidak terlalu penting sebab tidak ada seorang pun yang meragukan adanya Allah, dewa-dewi dan sebagainya. Tetapi yang penting ialah: Apakah Allah secara aktif hadir, bagaimana Allah bertindak dan berbuat, berkarya di dunia ini. Tanpa berpikir panjang orang Yahudi, sampai dengan Paulus (IKor 8:5), tidak mempersoalkan adanya dewa-dewi bermacam-macam. Namun, bagi mereka sendiri hanya ada satu Allah, yaitu Allah yang secara aktif hadir bagi mereka, bertindak, berbuat dan berkarya dalam sejarah mereka. Bukan adanya, melainkan relevansi Allah yang ditanyakan. Alam pikiran Yahudi, visinya atas realitas dengan arti demikian boleh dikatakan “dinamis”.

Sebaliknya alam pikiran Yunani, visinya atas realitas, boleh diistilahkan sebagai “statis” dan “esensial”. Realitas dunia tidak dilihat sebagai serangkaian kejadian dan peristiwa dengan awal dan akhir, melainkan sebagai suatu “kosmos”, semacam bulatan yang mantap dan serba teratur, meskipun kelihatannya berubah-ubah. Ada beberapa tingkat dalam kosmos itu, di mana setiap realitas mempunyai tempatnya sendiri yang mantap. Antara tingkat paling atas — tingkat bagi yang ilahi — dan tingkat paling bawah — tingkat bagi manusia dan dunianya — terbentang bertahap tingkat lain. Tingkat-tingkat itu dihuni macam-macam makhluk dan kuasa “rohani” yang turut mengatur dan menguasai tingkat manusia. Maka pentinglah manusia tahu akan makhluk-makhluk dan kuasa-kuasa itu untuk melindungi dirinya dan sedikit banyak — melalui magi — mengatur kuasa-kuasa itu. Maka yang paling penting bukanlah apa yang terjadi, melainkan apa yang ada. Permukaan yang tampak mesti ditembusi untuk menemukan di belakangnya mana dasarnya yang stabil. Orang Yunani pertama-tama bertanya: Apa itu, siapa orang itu?

Sebab adanya sesuatu dan seseorang di dalam dirinya sendiri menjelaskan peranan dan kedudukannya dalam keseluruhan. Dengan cara demikian pun Allah didekati. Mereka bertanya dan memeriksa: Apa itu Allah? Siapa Allah itu? Apakah hanya ada satu Allah atau banyak? Tentu saja orang yang berpikir mesti mengatakan: Hanya satu Allah mungkin dan tidak bisa ada temannya. Maka semua dewa-dewi hanya rupa berbeda dari Allah yang satu, yang tentu saja sukar ditangkap dan didekati. Dan orang Yunani juga menanyakan: Mana hubungan Allah itu dengan dunia yang kita lihat yang meski berubah-ubah sekali pun, serba mantap dan teratur? Dan kalau ada hubungan, bagaimana hubungan itu dapat dipikirkan?

Maka refleksi dua-tiga generasi Kristen pertama atas “fenomena” Yesus dan pengalaman umat sendiri terjadi dalam alam pikiran seperti yang digariskan di atas. Mula-mula refleksi itu tinggal dalam rangka alam pikiran dan tradisi religius Yahudi, yang hanya sedikit terpengaruh oleh alam pikiran Yunani. Tetapi lama-kelamaan pengaruh alam pikiran Yunani bertambah besar. Sarana pemikiran yang mula-mula Yahudi semakin menjadi Yunani. Maka iman kepercayaan Kristen yang mula-mula ditampung dalam gagasan, istilah Yahudi lama-kelamaan dipindahkan kepada gagasan Yunani, meskipun istilahnya kerap kali sama. Gagasan dan istilah pinjaman diisi kembali dengan pokok iman kepercayaan Kristen. Mula-mula gagasan dan istilahnya tradisional Yahudi yang diisi kembali, kemudian gagasan dan istilah Yunani (meskipun secara fonetis sama dengan istilah Yahudi) diisi kembali dengan iman kepercayaan Kristen.

Dan begitu jadinya bahwa Yesus Kristus yang tetap sama, kemarin, hari ini, untuk selama-lamanya, seolah-olah bertransmigrasi dari Yerusalem, pangkal dan pusat kebudayaan Yahudi, ke Atena, pangkal dan pusat kebudayaan Yunani. Dan boleh diandaikan saja bahwa transmigrasi itu tidak terjadi tanpa kesulitan. Ada bentrokan antara alam pikiran Yahudi-Kristen semula dengan alam pikiran Yunani-Kristen kemudian, dan antara iman kepercayaan Kristen dan alam pikiran Yahudi dan Yunani.
Proses transmigrasi itu, proses perkembangan kristologi, refleksi umat Kristen semula atas fenomena Yesus terutama tercermin dalam karangan-karangan yang terkumpul dalam Perjanjian Baru. Tetapi sukar sekali, malah mustahil mengikuti jalan transmigrasi dan proses perkembangan itu. Sebab karangan-karangan itu tidak bercorak uraian sistematis dan teratur.

Karangan-karangan itu semua agak fragmentaris. Ditulis dengan alasan tertentu, pada kesempatan tertentu, oleh orang tertentu dan bagi sidang pembaca tertentu. Semua karangan itu dikarang setelah umat Kristen sudah berkembang sedikit, ditulis antara tahun + 50 dan tahun ± 120. Dan tidak jarang di dalamnya bercampur aduk apa yang sudah “tradisional” dan apa yang baru, apa yang berasal dari umat Kristen yang murni Yahudi dengan apa yang disumbangkan umat Kristen yang murni Yunani. Dan bagi kita sukar dipisahkan unsur-unsur yang berbeda-beda latar belakangnya. Sudah penting bahwa seluruh Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani dan hanya sana-sini masih ada bekas dari bahasa Aram yang menjadi bahasa Yesus dan bahasa jemaah awal (Mrk 14:36; Rm 8:15; Mrk 15:34; 5:41; IKor 16:22; Yoh 1:41). Itu berarti bahwa bagi kita tidak lagi tersedia ungkapan iman umat Kristen dalam bentuknya yang paling awal. Semuanya sudah diolah sedikit oleh mereka yang terpengaruh oleh alam pikiran Yunani. Memang masih mungkin melihat bagian-bagian yang ciri Yahudinya cukup kentara, misalnya Kitab Wahyu dan beberapa bagian dari ketiga Injil sinoptik, dan ada bagian yang corak Yunaninya menyolok, seperti misalnya surat-surat pastoral.

Tetapi kebanyakan karangan Perjanjian Baru terlibat dalam peralihan dari alam pikiran Yahudi ke alam pikiran Yunani. Hal itu misalnya paling terasa dalam karangan-karangan Paulus dan Injil Yohanes. Tetapi semua karangan itu memberi kesaksian tentang pergumulan umat Kristen semula dengan fenomena Yesus Kristus, dengan identitas kepercayaannya dan kesinambungan dengan awal. Terasa bagaimana umat itu mencari-cari gagasan dan ungkapan yang paling memadai dan terasa pula bentrokan antara yang lama dengan yang baru. Memang orang seolah-olah menyaksikan bagaimana kristologi dan soteriologi sedang dibentuk.

Mengingat asal usul dan ciri corak sumber yang tersedia (Perjanjian Baru) tidak mengherankan, bahkan wajar sekali bahwa di dalam Perjanjian Baru, hasil generasi Kristen yang pertama ditemukan pelbagai macam kristologi dan soteriologi. Tidak ada keseragaman. Ada beberapa tahap dalam perkembangan, tetapi juga ada perbedaan yang boleh dikatakan “lokal”. Jemaah di Antiokhia misalnya memikirkan Kristus dan hal ihwal-Nya secara lain daripada jemaah di Yerusalem yang sendiri serba majemuk. Jemaah-jemaah di Asia Depan, di Yunani dan di Mesir dengan caranya sendiri bergumul dengan Yesus Kristus yang diwartakan kepada mereka. Mereka menangkap serta memikirkan halnya dengan caranya sendiri pula. Belum ada suatu “instansi” umum yang bisa “mengatur” iman kepercayaan Kristen itu, Meskipun agak segera sudah terbentuk rumus-rumus pendek yang meringkaskan pokok iman kepercayaan bersama (IKor 15:3-6; Rm 10:9; 1:3-4; IKor 8:6), namun rumus yang sama bisa dikembangkan dengan cara berbeda-beda, malah dipahami dengan cara lain. Dan tidak ada yang “mengawasi” semuanya. Hanya di kemudian hari umat Kristen menyaring sejumlah karangan (Perjanjian Baru) yang dijadikan tolok ukur bersama. Tetapi apa yang disaring sendiri sudah serba majemuk dan mencerminkan kemajemukan dan kekayaan kristologi umat Kristen semula.

Kupasan-kupasan berikut ini mau menyingkapkan sedikit kemajemukan dan kekayaan yang terkandung dalam Perjanjian Baru. Mengingat ciri corak karangan-karangan itu tentu saja mustahil “merekonstruksikan” perkembangan kristologi semula. Kalau dicoba memperlihatkan semacam garis perkembangan, maka baiklah disadari bahwa ini hanya garis-garis besar saja dan berupa hipotesis yang lebih kurang berdasar. Tetapi dengan cara demikian toh menjadi tampak betapa kaya dan berisi kristologi umat purba.

Baca sejarah Misionaris di Dunia Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s