Usulan Orang-orang Yahudi (Tiga Pertanyaan Kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam)


Ibnu Ishaq berkata, “Rahib-rahib Yahudi berkata kepada kedua utusan Quraisy, ‘Tanyakan tiga hal kepada sahabatmu. Jika ia mampu menjawab ketiga hal tersebut, ia seorang Nabi yang diutus. Jika ia tidak bisa menjawabnya, maka ia berkata bohong dan kalian bebas mengeluarkan pendapat kalian tentang dia.

1. Tanyakan kepadanya perihal pemuda-pemuda yang meninggal pada periode pertama dan bagaimana informasi tentang mereka? Karena mereka mempunyai informasi yang menarik.

2. Kemudian tanyakan kepadanya perihal seorang pengembara yang menjelajahi timur dan barat; bagaimana kisahnya?

3. Kemudian tanyakan kepadanya perihal roh; apakah roh itu? Jika sahabatmu bisa menjawab ketiga pertanyaan tersebut, ia seorang Nabi dan kalian harus mengikutinya. Jika ia tidak bisa menjawabnya, berarti ia berkata bohong dan silahkan kerjakan apa yang kalian inginkan terhadap dia’.”

Orang-orang Quraisy Bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian An-Nadhr bin Al-Hants dan Uqbah bin Abu Mu’aith bin Abu Amr bin Umaiyyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushai pulang ke Makkah. Ketika keduanya bertemu kembali dengan orang-orang Quraisy, keduanya berkata kepada mereka,

‘Hai orang-orang Quraisy, sesungguhnya kami datang kepada kalian dengan membawa kata pamungkas persoalan kita dengan Muhammad. Rahib-rahib Yahudi menyuruh kita menanyakan tiga hal kepada Muhammad. Jika ia bisa menjawabnya, ia betul-betul seorang Nabi. Jika ia tidak bisa menjawabnya, ia berkata bohong dan kalian bebas mengeluarkan pendapat kalian terhadapnya.’

Kemudian mereka datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan berkata kepada beliau,

‘Hai Muhammad, terangkan kepada kami tentang anak-anak muda yang meninggal dunia pada periode pertama, karena mereka mempunyai kisah yang menarik, kisah seorang pengembara yang menjelajahi dunia timur dan barat, dan juga tentang roh?’

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Semua pertanyaan kalian aku jawab besok pagi.’ Beliau mengatakan begitu tanpa mengatakan lnsya Allah. Setelah itu, mereka berpaling dari hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Menurut banyak orang, selama lima belas malam Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak mendapatkan wahyu dan Malaikat Jibril tidak datang kepada beliau, hingga membuat gusar penduduk Makkah.

Mereka berkata, ‘Muhammad menjanjikan memberi jawaban atas pertanyaan kita besok pagi, dari waktu sudah berjalan lima belas malam, namun ia tidak memberi jawaban atas pertanyaan kita.’

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sedih sekali, karena wahyu terputus dari beliau. Beliau terpukul dengan komentar orang-orang Quraisy terhadap dirinya.

Kemudian Malaikat Jibril datang kepada beliau dari Allah Azza wa Jalla dengan membawa surat Al-Kahfi. Dalam surat tersebut Allah mengecam kesedihan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam atas merekam menjelaskan kepada beliau informasi seputar pertanyaan mereka; perihal pemuda-pemuda yang mereka maksud, sang pengembara, dan permasalahan roh. ”

Jawaban atas Pertanyaan Orang-orang Quraisy

Ibnu Ishaq berkata, “Dikatakan kepadaku bahwa ketika Malaikat Jibril datang, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, ‘Sungguh engkau meninggalkanku wahai Jibril, hingga aku berburuk sangka kepadamu.’

Malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

‘Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nyalah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita dan apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa.’ (Maryam: 64)

Allah Tabaraka wa Ta’ala mengawali surat tersebut dengan memuji diri-Nya dan menjelaskan kenabian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam karena mereka mengingkarinya. Allah Ta’ala berfirman,

‘Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al Quran). ‘(Al-Kahfi: 1).

Maksudnya, ‘Muhammad, engkau adalah Rasul dariku, dan sebagal jawaban atas pertanyaan mereka tentang kenabianmu.’

‘Dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya. Sebagai bimbingan yang lurus. ’(Al-Kahfi:1-2).

Maksudnya Al-Qur’an itu lurus dan tidak ada hal-hal yang kontradiktif di dalamnya.

‘Untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah.’ (Al-Kahfi: 2).

Maksudnya, untuk memperingatkan tentang siksaan Allah di dunia dan siksa pedih di akhirat dari sisi Tuhanmu yang mengutusmu sebagai Rasul.

‘Dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal shalih, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik. Mereka kekal di dalamnya’ (Al-Kahfi: 2-3)

Yaitu negeri abadi yang mereka tidak mati di dalamnya. Mereka yang dimaksud adalah orang-orang yang membenarkan apa yang engkau bawa yang didustakan orang-orang selain mereka, dan mereka mengerjakan amal-amal perbuatan yang diperintahkan kepada mereka.

‘Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata, ‘Allah mengambil seorang anak ’ (Al-Kahfi: 4).

Yaitu orang-orang Quraisy yang berkata, ‘Sesungguhnya kita menyembah para malaikat, karena mereka adalah anak-anak wanita Allah.’

‘Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. ’(Al-Kahfi: 5).

Yaitu orang-orang Quraisy yang tidak menyetujui sikap meninggalkan nenek moyang dan menghina agama mereka.

‘Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka. ’(Al-Kahfi:5).

Yaitu ucapan mereka, ‘Sesungguhnya para malaikat adalah anak-anak wanita Allah.’

‘Mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta. Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu.’(Al-Kahfi: 5-6).

Maksudnya, barangkali kamu akan membunuh dirimu, hai Muhammad’

‘Karena bersedih hati sesudah mereka berpaling sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al Qur’an). ’ (Al-Kahfi; 6).

Maksudnya, kesedihan karena tidak tercapainya keinginan beliau pada mereka. Jangan lakukan hal itu.”

Ibnu Hisyam berkata, “Maksud dari ayat baakhi’un nafsaka ialah membinasakan dirimu seperti disampaikan kepadaku oleh Abu Ubadaih. Dzu Ar-Ramah berkata,

Duhai orang yang membinasakan dirinya

Karena sesuatu yang dijauuhkan oleh takdir dari kedua tangannya

Jamaknya ialah baakhi’uuna atau bakha’ah. Orang-orang Arab berkata, Qadd bakha’tu lahu nushi wa nafsu.’ Maksudnya, aku memberikan nasihatku dan diriku kepadanya dengan sungguh-sungguh.

Ibnu Ishaq berkata, “Allah Ta’ala juga berfirman,

‘Sesunggguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. ‘ (Al-Kahfi: 7).

Firman Allah, ‘Ayyuhum ahsanu amalan,’ maksudnya, siapa di antara mereka yang paling mentaati perintah-Ku, dan paling banyak ketaatannya kepadaKu.”

Allah Ta’ala juga berfiman,

‘Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus. ’ (Al-Kahfi: 8).

Maksudnya, ‘Sesungguhnya apa saja yang ada di atas bumi pasti musnah dan hilang, dan bahwa tempat kembali adalah kepada-Ku, kemudian Aku membalas semua orang sesuai dengan amal perbuatannya. Oleh karena itu, engkau, wahai Muhammad, jangan berduka dan bersedih hati atas apa yang engkau dengar dan atas apa yang engkau lihat’.”

Ashabul Kahfi (Penghuni Gua)

Ibnu Ishaq berkata, ” Kemudian Allah memberi jawaban atas pertanyaan mereka tentang anak muda dengan berfirman,

‘Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?’ (Al-Kahfi:9)

Maksudnya, ‘Bisa jadi di antara tanda-tanda kekuasaan-Ku, misalnya hujjah-hujjah-Ku yang Aku berikan kepada hamba-hamba-Ku itu jauh lebih mengherankan (menarik) daripada kisah tentang pemuda-pemuda tersebut.'”

Ibnu Hisyam berkata, ” Ar-Raqiimu pada ayat di atas ialah kitab yang memuat kisah tentang mereka. Jamaknya ialah ar-ruqumu. Ru’bah bin Al Ajjaj berkata,

Tempat penyimpanan kitab yang memuat.

Bait di atas adalah penggalan dari syair-syair Ru’bah bin Al Ajjaj.”

Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).” Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu. Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu).’ (Al-Kahfi: 10-12)

Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan sebenarnya.’ (Al-Kahfi: 13).

Bil-Haqqi maksudnya, dengan informasi yang benar tentang mereka. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.’ (Al-Kahfi: 13-14)

Maksudnya, ‘Pemuda-pemuda tersebut tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak kalian ketahui.'”

Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)?’ (Al-Kahfi: 15)

Kata sulthaanin bayyinin pada ayat di atas artinya hujjah yang kuat, kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah? Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepada kalian dan menyediakan sesuatu yang berguna bagi kalian dalam urusan kalian. Dan kalian akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu.’ (Al-Kahfi:15-17)

Ibnu Hisyam berkata, “Kata tazzawaru pada ayat di atas artinya condong. Kata tersebut berasal dari kata az-zawaru. Umru’u Al-Qais bin Hujr berkata,

Sesungguhnya aku adalah pemimpin, jika aku kembali diberi orang-orang

Yang dari mereka, Anda melihat singa itu condong (miring)

Firman Allah, ‘Taqridhuhum dzaatasy syimaali,‘   maksudnya, bahwa matahari menjauhi mereka dan meninggalkan mereka dari sebelah kiri. Al-Fajwah artinya tempat yang luas dan jamaknya al-fija ’u. Salah seorang penyair berkata,

Engkau memakaikan kebinaan dan kekurangan kepada kaummu

Hingga darah mereka dihalalkan dibunuh dan mereka meninggalkan negeri yang luas

Kemudian Allah Ta’ala befirman,

‘Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. ’(Al-Kahfi: 17)

Maksudnya, itulah hujjah atas orang-orang dari Ahli Kitab yang mengetahui perihal pemuda-pemuda tersebut. Yaitu orang-orang dari Ahli Kitab yang memerintahkan orang-orang Quraisy bertanya kepadamu tentang pemuda-pemuda tersebut untuk menguji kebenaran kenabianmu apakah engkau bisa memberikan informasi tentang mereka atau tidak? Kemudian Allah Ta’ala berfirman, ”

‘Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk dan barangsiapa disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur, dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri sedang anjng mereka menjulurkan kedua lengannya di muka pintu gua. ” (Al-Kahfi: 17-18).

Ibnu Hisyam berkata, “Kata al-washzid artinya pintu. Al-Absi yang nama aslinya Ubaid bin Wahb berkata,

Di bumi terbuka yang pintunya tidak ditutup untukku

Dan kebaikanku di dalamnya tidak diingkari

Bait di atas adalah penggalan dari syair-syair Al-Absi.

Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dibenuhi dengan ketakutan terhadap mereka. Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)”.

Mereka menjawab: “Kita berada (disini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun.

Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama lamanya” Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: “Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka”. Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya”. (Al-Kahfi: 18-21)

Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib. (Al-Kahfi: 22)

Yang dimaksud dengan mereka pada ayat di atas ialah rahib-rahib Yahudi yang memerintahkan orang-orang Quraisy bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang pemuda-pemuda tersebut. Rajman bil ghabi maksudnya, mereka tidak mempunyai pengetahuan yang pasti tentang pemuda-pemuda tersebut.  Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Dan mereka mengatakan: “(jumlah pemuda-pemuda tersebut) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya”. Katakanlah: “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja.’ (Al-Kahfi: 22)

Kemudian Alla Ta’ala berfirman,

‘Dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka..’ (Al-Kahfi: 22).

Maksudnya, ‘Dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda tersebut) kepada seorang pun di antara mereka, karena mereka tidak mempunyai informasi tentang pemuda-pemuda tersebut.  Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini”. (Al-Kahfi: 23-24).

Maksudnya, engkau jangan sekali-kali berkata terhadap sesuatu yang ditanyakan kepadamu bahwa aku akan menjawabnya besok pagi seperti yang engkau katakan sebelumnya. Namun katakan insya Allah. Ingatlah engkau kepada Allah jika engkau lupa, dan katakan, ‘Mudah-mudahan Allah memberiku petunjuk kepada kebaikan dari apa yang mereka tanyakan kepadaku, karena engkau tidak mengetahui apa yang dikerjakan pemuda-pemuda tersebut.’

Kemudian Allah Ta’ala berfirmanm

‘Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).’ (Al-Kahfi: 25)

Maksudnya, bahwa rahib-rahib Yahudi akan mengatakan perkataan tersebut. Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

‘Katakanlah: “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan”. (Al-Kahfi: 26)

Maksudnya, tidak ada sedikitpun dari apa yang mereka tanyakan itu yang tidak diketahui Allah.”

Dzu Al-Qarnaini

lbnu Ishaq berkata, “Allah Ta’ala berfirman tentang pertanyaan mereka perihal orang pengembara,

‘Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzu Al-Qarnaini. Katakanlah, ‘Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya.’ Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di bumi dan Kami telah memberikan kepadanya jalan-jalan (untuk mencapai) segala sesuatu. ’(Al-Kahfi: 83-84).

Di antara informasi perihal Dzu Al-Qarnaini bahwa ia diberi nikmat-nikmat yang tidak didapatkan orang lain. Diantaranya, jalan-jalan dibangun untuknya hingga ia berjalan dari timur ke barat. la tidak menjejakkan kakinya di suatu negeri, melainkan ia berhasil menguasai penduduknya. Ia mengembara hingga tiba ke negeri-negeri yang tidak berpenghuni.”

lbnu Ishaq berkata bahwa orang yang mendapatkan hadits-hadits dari orang-orang non-Arab berkata kepadaku, Dzu Al-Qarnaini berasal dari Mesir. Nama aslinya Marzaban bin Mardziyah Al-Yunani. la berasal dari anak keturunan Yunan bin Yafits bin Nuh.

Ibnu Hisyam berkata, “Nama aslinya lskandar. Dialah yang membangun kota lskandariyah, kemudian kota Iskandariyah diberi nama dengan namanya.”

Ibnu Ishaq berkata bahwa Tsaur bin Yazid berkata kepadaku dari Khalid bin Ma’dan Al-Kala’i bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang Dzu Al-Qarnaini, kemudian beliau bersabda, “la seorang raja yang menjelajahi dunia dari bawahnya dengan jalan-jalan.”

Khalid berkata bahwa Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu mendengar seseorang berkata,   Dzu Al-Qamainil” Umar bin Khaththab berkata, “Ya Allah, ampunilah dia! Tidaklah kalian senang memberi nama anak-anak kalian dengan nama para nabi, melainkan kalian juga senang memberi nama anak kalian dengan nama-nama para malaikat.”

Ibnu Ishaq berkata, “Demi Allah, aku tidak mengetahui asal-usul perkataan di atas; apakah dikatakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam atau tidak? Jika beliau mengatakannya, maka kebenaran ialah apa yang beliau katakan.”

Roh

Ibnu Ishaq berkata Allah Ta’ala berfirman tentang pertanyaan mereka seputar roh,

‘Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, ‘Roh termasuk urusan Tuhanku, dan kalian tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit. “(Al-lsra’: 85).

Ibnu Ishaq berkata bahwa aku diberi tahu dan Ibnu Abbas yang berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tiba di Madinah, rahib-rahib Yahudi bertanya,

‘Hai Muhammad, tahukah engkau ucapanmu, Dan kalan tidak diberi pengetahuan melainkan sediki. ’Siapakah yang dimaksud dengan kalian tersebut; kami atau kaummu?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Tidak.’  Para rahib Yahudi berkata, ‘Engkau sudah membaca apa yang engkau bawa, bahwa kami diberi Taurat. Di dalamnya terdapat penjelasan segala sesuatu.’

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Taurat dalam ilmu Allah adalah sedikit sekali. Namun kalian mempunyai sesuatu yang jika kalian laksanakan, maka sesuatu tersebut sudah memadai untuk kalian.’ ”

Ibnu Abbas berkata, “Kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat tentang pertanyaan mereka,

‘Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah  Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. ’(Luqman: 27).

Maksudnya, penjelasan Taurat tentang hal tersebut itu sangat sedikit jika dibandingkan dengan ilmu Allah.”

Penggoncangan Gunung-gunung dan Kebangkitan Orang-orang Yang telah Meninggal Dunia

Ibnu Abbas berkata, “Kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang permintaan kaumnya agar gunung-Qunung digoncang, bumi dibelah, dan nenek moyang mereka yang telah meninggal dunia dibangkitkan kembali,

‘Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentulah Al Quran itulah dia). Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah. (Ar-Ra’d: 31)

Firman Allah, ‘Bal lillahil amru jami’a, ‘ maksudnya, ‘Aku tidak mengerjakan hal tersebut melainkan sesuai dengan kehendak-Ku’.”  (sy42-Ibnu Hisyam 1: 254-266)

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Usulan Orang-orang Yahudi (Tiga Pertanyaan Kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam)

  1. Maju terus syiarnya Ustadz…
    Jadikn da’wah sbgai mksud hidup
    hidup dalam da’wah
    da’wah sampai mati…
    ISNSYA ALLAH..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s