CARA NABI MENYIKAPI TOLERANSI


Inilah kisah di zaman Nabi saat tokoh-tokoh Quraisy; al-Walid bin Mughirah, al-Ash bin Wail, al-Aswad bin Abdul Muthalib, dan Umayyah bin Khalaf mengatakan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Wahai Muhammad, bagaimana kalau kami beribadah kepada Tuhanmu dan kalian (muslim) juga beribadah kepada Tuhan kami. Kita bertoleransi dalam segala permasalahan agama kita. Apabila ada sebagaian dari ajaran agamamu yang lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami, kami akan amalkan hal itu. Sebaliknya, apabila ada dari ajaran kami yang lebih baik dari tuntunan agamamu, engkau juga harus mengamalkannya.”

Inilah toleransi yang ditawarkan oleh orang-orang Quraisy di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mengajak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpartisipasi dalam ajaran mereka, mengambil hal-hal yang baik yang ada pada agama mereka, dan menghormati kesyirikan yang mereka lakukan.

Lalu Allah wahyukan kepada Nabi-Nya menjawab ajakan orang-orang Quraisy tersebut dengan menurunkan surat:

Katakanlah (wahai Muhammad kepada orang-orang kafir), “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”. (QS. Al-Kafirun: 1-6)

DI ZAMAN SEKARANG, seruan-seruan toleransi ini lebih halus dari keterus-terangan orang-orang Quraisy di atas. Umat-umat non-muslim saat ini mengambil pelajaran bahwa ajakan terus terang seperti di atas tentu saja akan ditolak mentah-mentah sebagaimana Allah dan Rasul-Nya telah menolaknya.

Mereka memperbaiki dan memperhalus ajakan tersebut dengan cara, apabila umat Islam merayakan hari raya, maka mereka (non muslim) akan mengucapkan “selamat hari raya Idul Fitri / Idul Adha” atau mungkin mengucapkan “taqobbalallahu minna wa minkum” di rumah-rumah kaum muslimin, melalui media masa, iklan-iklan di jalanan atau bahkan di televisi.

Apa maknanya?

Mereka menyampaikan pesan secara halus, “Kalau kami berhari raya, umat Islam bisa mengerti sendiri apa yang harus mereka lakukan”. Mereka menginginkan umat Islam menghormati perayaan kesyirikan mereka sebagaimana mereka mengucapkan selamat pada hari raya umat Islam.

Itulah propaganda toleransi mereka. Menjalin kerukunan dan kedamaian mereka sempitkan ruangnya, padahal Allah tidak melarang memberi hadiah kepada orang-orang non-Islam, menjenguk mereka ketika sakit, bermanis muka dan ramah kepada mereka dll.

Demikianlah Nabi menyikapi toleransi dalam permasalahan keyakinan yang ditawarkan oleh orang-orang Quraisy. Mudah-mudahan kita bisa mencontoh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memberikan pengertian Islam rahmatan lil ‘alamin. (kisahmuslim.com)

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Ensiklopedia Muslim dan tag , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke CARA NABI MENYIKAPI TOLERANSI

  1. sri berkata:

    Jazakallaah

  2. ari sudono berkata:

    Memang pantas pribadinya untuk dijadikan cermin bagi umat islam skrg ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s