Ketika Nikmat Dunia Orang-orang Kafir di Atas Orang-orang Beriman


(Dunia dalam Pandangan Orang-orang Kafir)

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

“Dunia penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 5256)

Beliau bersabda: “Bergembiralah dan berharaplah apa yang menggembirakan kalian, demi Allah bukan kemiskinan yang aku takutkan pada kalian, tapi aku takut dunia dibentangkan untuk kalian seperti halnya dibentangkan pada orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba mengejarnya sebagaimana mereka berlomba mengejarnya, lalu dunia membinasakan kalian seperti dia telah membinasakan mereka.” (HR. Al-Bukhari no. 2924 dan Muslim no. 5261)

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ

“Pandanglah orang yang berada di bawah kalian, jangan memandang yang ada di atas kalian, itu lebih akan membuat kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR. Muslim no. 5264)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Allah Azza wa Jalla membagi keindahan (ketampanan dan kecantikan) ke dalam sepuluh bagian, tiga bagian untuk Hawa, tiga bagian untuk Sarah, tiga bagian untuk Yusuf, dan satu bagian untuk seluruh manusia.” (Tarikh Madinati Dimasyqa, hal. 122 tentang biografi para wanita. Dinukil dari kitab Nisa’ul Anbiya’i fi Dhaulil Qur’an was Sunnah)

‎لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya. (Ali Imran / 3: 196-197)

Tidak sedikit kaum Muslimin yang silau dengan tatanan kehidupan orang kafir yang begitu apik. Ketakjuban sebagian orang-orang Muslimin, lantaran orang-orang kafir sangat menjaga kedisiplinan, kerapihan, kebersihan, juga kesehatan. Dan juga karena kemajuan teknologi informasi, komunikasi ataupun peradaban dunia yang telah mereka capai. Padahal itu hanyalah gambaran secara parsial semata.

PENJELASAN AYAT

Ayat di atas merupakan pesan berharga, untuk menjadi peringatan bagi kaum Muslimin agar tak terpedaya dengan kaum kemewahan orang-orang kafir.

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan (Tafsir al Qur`ani al ‘Azhim ( 1 /431 ):
“Janganlah kalian melihat berbagai kenikmatan, kebahagian dan kemudahan orang-orang kafir. Tidak berapa lama lagi, semuanya akan lenyap dari tangan mereka. Nantinya, mereka akan terjerat oleh amalan-amalan buruk mereka. Kami memberikan kemudahan mereka di sana, sebagai istidraj semata. Semua yang mereka miliki hanyalah (kesenangan sementara). Kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya”.

Orang yang lemah iman dan cinta dunia, ia akan terpesona dengan kemewahan hidup orang-orang kafir, hingga berangan-angan bisa merengkuhnya dan hidup bersama mereka, manakala menyaksikan kondisi mereka yang selalu terpenuhi dengan fasilitas duniawi serba mewah. Seperti yang telah diberitakan Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang para pengikut Qarun yang melihatnya dalam kemegahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

‎فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ ۖ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita ini mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan nan besar”. (Al Qashash/28: 79).

Itulah gambaran orang yang orientasi hidupnya ditujukan kepada dunia, tak memikirkan bahwa dunia ini akan musnah. Apalagi bila sempat mencicipi hidup dalam komunitas sosial di negeri kafir, yang lahirnya terlihat asri, hijau, bersih, dengan pemandangan memikat.

Adapun orang yang kuat imannya, ia tak akan terpana dengannya. Sebab ia membaca pesan-pesan Allah, seperti pada ayat di atas dan pada ayat lainnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

‎وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan di dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Rabb-mu adalah lebih baik dan lebih kekal. (Thaha/20: 131).

Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (Al-Baqara/2: 212)

Seseorang yang kuat imannya, akan mengetahui dengan yakin pula, kemewahan yang dinikmati tersebut tak akan menjadi kebaikan bagi mereka. Sebab ia membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

‎أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُم بِهِ مِن مَّالٍ وَبَنِينَ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ ۚ بَل لَّا يَشْعُرُونَ

Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa) Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak; sebenarnya mereka tak sadar. (Al Mukminun/23: 56).

Bagaimana mungkin merupakan kebaikan bagi mereka, kalau Allah Subhanahu wa Ta’ala justru akan menjadikannya sebagai sumber bencana.  Allah berfirman:

‎وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِّأَنفُسِهِمْ ۚ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا ۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ

Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. (At Taubah/9: 55)

‎وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِّأَنفُسِهِمْ ۚ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا ۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ

Dan janganlah sekali-kali orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka adzab yang menghinakan. (Ali Imran/3: 178).

Alangkah buruk suatu kemewahan dan limpahan harta, bila akhirnya menjadi siksaan. Begitu pula, orang yang suka berbuat maksiat, namun berada dalam kenikmatan duniawi yang berlebih, maka sesungguhnya kenikmatan yang ia reguk hanya merupakan istidraj (penangguhan tempo siksaan dengan memberi kenikmatan.) dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dari sahabat ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiyallahu dari Nabi, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‎إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنْ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Bila engkau menyaksikan Allah mencurahkan (nikmat) dunia kepada seseorang yang ia inginkan lantaran maksiat (yang ia kerjakan), itu hanyalah suatu istidraj, kemudian beliau membaca ayat (yang artinya: Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka gembira dengan apa yan telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (Al An’am/6 ayat 44-). [HR Ahmad, 4/145 dengan sanad shahih, dan dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah, 413].

Kalaupun orang kafir memiliki kenikmatan dan kesenangan di dunia, maka tak ada kenikmatan bagi mereka selain itu saja. Allah berfirman:

‎وَلَا يَحْزُنكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ ۚ إِنَّهُمْ لَن يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا ۗ يُرِيدُ اللَّهُ أَلَّا يَجْعَلَ لَهُمْ حَظًّا فِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir; sesungguhnya mereka tak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Allah berkehendak tak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka di hari akhirat, dan bagi mereka azab yang besar. (Ali Imran/3: 176).

Imam al Bukhari rahimahullah dan Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan kisah ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu yang memasuki rumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjumpai beliau. Ia sangat prihatin dengan keadaan dan sedikitnya harta yang beliau  miliki. Umar bercerita:

Aku menjumpai beliau. Ternyata beliau sedang berbaring di gelaran di atas pasir tanpa ada (dasar) kasurnya. Kerikil-kerikil membekas pada sisi tubuh beliau. Beliau bersandar pada sebuah bantal terbuat dari kulit yang berisi serabut pohon kurma. Aku pun melontarkan salam kepada beliau… aku duduk ketika melihat beliau tersenyum. Begitu pandangan aku arahkan ke (isi) rumah, demi Allah, aku tak melihat adanya sesuatu yang memikat pandangan, kecuali tiga kulit samakan. Aku pun berkata:

‎ادْعُ اللَّهَ فَلْيُوَسِّعْ عَلَى أُمَّتِكَ فَإِنَّ فَارِسَ وَالرُّومَ وُسِّعَ عَلَيْهِمْ وَأُعْطُوا الدُّنْيَا وَهُمْ لَا يَعْبُدُونَ اللَّهَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ أَوَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ أُولَئِكَ قَوْمٌ عُجِّلَتْ لَهُمْ طَيِّبَاتُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ اسْتَغْفِرْ لِي

“Mintalah kepada Allah agar memudahkan (kehidupan) umatmu. Sesungguhnya bangsa Persia dan Rumawi, mereka mendapatkan kemudahan (dalam hidup), dan diberi kenikmatan dunia, padahal mereka tak menyembah Allah”.

Sebelumnya beliau bersandar (kemudian duduk), setelah itu beliau berkata: “Apakah engkau masih ragu wahai putra al Khaththab? Mereka adalah kaum yang disegerakan kenikmatan mereka di dunia ini” aku (pun) berkata,”Wahai Rasulullah, mintakan ampunan bagiku. “

Lantaran dunia itu bernilai rendah, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikannya kepada orang kafir juga. Pemberian di dunia tak menunjukkan penghormatan bagi yang menerimanya. Sebaliknya, demikian pula dengan terhalanginya seseorang dari rezki, bukan berarti sebagai indikasi penghinaan terhadapnya. Seorang muslim tak berasumsi demikian. Sehingga ayat di atas bisa menjadi penghibur bagi kaum Muslimin.

Syaikh as Sa’di rahimahullah berkata,”Ayat ini (ayat di atas) dimaksudkan sebagai penghibur dari (fenomena) apa yang diperoleh orang-orang kafir dari harta dunia dan kehidupan mereka yang menyenangkan, serta tingginya mobilitas mereka di berbagai wilayah dengan bermacam-macam perniagaan, usaha dan kenikmatan, juga banyaknya kekuasaan dan kemenangan dalam beberapa kesempatan. ” (Taisiru al Karimi ar Rahman: 162)

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata:

‎إنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّـنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَ مَن لاَ يُحِبُّ وَلاَ يُعْطِي الإيْمَانِ إلاَّ مَنْ يُحِبُّ فَإذَا أحَبَّ اللهُ عَبْداً أعْطَاه ُ الإيْمَانٍِ

Sesungguhnya Allah memberi dunia kepada orang yang disenangi dan orang yang tak disukai. Tidak memberikan karunia iman, kecuali kepada orang yang dicintaiNya. Apabila Allah mencintai seorang hamba, niscaya Allah memberinya karunia iman. (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah, 34545 & dishahihkan oleh Syaikh al Albani di dalam Shahih al Adabi al Mufrad, hlm. 209).

Sebabnya, tiada lain, karena dunia itu murah, sedangkan seorang mukmin adalah insan yang bernilai lagi berharga. Allah memberinya anugerah yang paling bernilai, yaitu kebahagiaan di akhirat.

‎وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْأُولَىٰ

Dan sesungguhnya akhir (akhirat) lebih baik bagimu dari permulaan (kehidupan dunia). (Adh Dhuha/93: 4).

Apabila, dunia ini lepas dari tangan seorang mukmin, dan dinikmati oleh orang kafir, maka seorang yang mukmin itu tak dirundung duka, dan ia tetap bersyukur, lantaran mendapatkan nikmat iman, agama yang shahih dan kitab (al Qur’an) yang terbebas dari hawa nafsu dan campur tangan manusia. Allah berfirman:

‎وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِّنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ

Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Qur’an yang agung. Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka, dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. (al Hijr/15: 87-88).

Dalam dua ayat di atas, terdapat empat pelajaran penting:

1. Seseorang yang telah menerima Al Qur’an, maka sesungguhnya ia telah memegang kendali seluruh kebaikan, sehingga jangan bersedih.

2. Allah melarang mengalihkan pandangan kepada harta benda milik orang-orang kafir. Tidaklah terperdaya dengannya, kecuali para pecundang. Ibnu Katsir menerangkan: “Merasa cukuplah dengan apa yang diberikan Allah, yaitu Al Qur’an dengan melupakan apa yang mereka miliki, berupa harta dan kenikmatan yang akan sirna”.

3. Orang-orang kafir tak memiliki daya tarik kebaikan, maka sudah sepantasnya mengarahkan pandangan kepada orang-orang yang beriman dan dikaruniai Al Qur’an. (tiga ini dari al Mawahib ar Rabbaniyah karya as Sa’di (hlm. 64)

4. Allah memerintahkan kaum Mukminin untuk tawadhu’. Dan perintah ini bukan kepada orang-orang kafir.

TIDAK MEMUJI ORANG KAFIR

Umat Islam merupakan umat terdepan. Tidak sepatutnya mengekor dan takjub terhadap orang-orang yang dicela oleh Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan keutamaan umat Islam ini dengan sabda beliau:

‎نَحْنُ الْآخِرُونَ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا وَالْأَوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمَقْضِيُّ لَهُمْ قَبْلَ الْخَلَائِقِ

Kita adalah umat terakhir dari penduduk dunia dan menjadi umat pertama di hari Kiamat. Yang pertama ditetapkan keputusannya sebelum makhluk-makhluk lainnya. (HR Muslim, 856).

Bila seorang muslim telah mengetahui kemuliaan yang diberikan Allah berikan kepada umat ini, maka wajib atasnya untuk memuliakannya juga, dan menjauhi berbagai sikap yang merendahkannya. Terutama sikap yang justru akan mendukung sepak terjang musuh untuk memperdaya Islam.

Bagaimanapun, meski kehidupan kaum kuffar sangat menarik, tetapi mereka, tak lepas dari firman Allah:

‎يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. (Ar Rum/30: 7)

Allah membuat permisalan, mereka bagaikan himar atau keledai (Al Jumu’ah/62: 5), anjing (Al A’raf/7: 175-177), lebih buruk dari binatang ternak (Al Furqan/25: 44), atau orang-orang yang bisu, tuli dan buta (Al Baqarah/2 ayat 171). Apakah seorang muslim ridha untuk memuji kaum kuffar dengan pujian dan sanjungan, dengan dalih inshaf dan bersikap adil? Padahal permisalan dari Allah tentang mereka sedemikian rupa buruknya? Kekufuran merupakan jenis sayyiah (kejelekan), yang akan menampik hasanah (sebelum digantikan dengan keimanan).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sudah melakukan ini. Begitu mendengar ada pujian yang terlontar kepada kaum kuffar, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung menepisnya. Dari ‘Aisyah, ia bercerita tentang sebagian isteri beliau yang mengagumi keindahan sebuah gereja Mariyah di Habasyah. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‎أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ

Mereka itu makhluk yang paling buruk di sisi Allah. (Muttafaqun ‘alaih).

Larangan memuji orang kafir manfaatnya sangat jelas.

1. Kaum Muslimin akan selamat dari mengekor hal-hal terlarang yang ada pada mereka, sehingga kepribadian sebagai muslim pun tetap terjaga.
2. Pujian nan ditujukan kepada kaum kuffar tidaklah cocok. Sebab, tindak-tanduk lahiriahnya bertentangan dengan jati diri mereka yang asli. Sebagai bukti, yaitu dalam interaksi sosial mereka. Sebagai contoh, mereka mengembangkan cara hidup pergaulan bebas, homo, lesbian, rasialis, dan lainnya.

Cara mereka dalam menjalin hubungan antar individu menjadi contoh konkrit tentang kebejatan moral yang mereka miliki. Negara-negara yang miskin, justru dijerumuskan ke dalam lembah hutang, yang tak tahu kapan akan terlunasi. Hingga akhirnya, perlakuan layaknya budak menjadi pemandangan sehari-hari di media massa.

Apakah berarti kaum Muslimin dilarang mengambil manfaat hasil teknologi yang sudah mereka capai?

Jawaban pertanyaan ini, tentu saja tidak, selama tak terdapat pelanggaran syariat, dan benar-benar berguna bagi kepentingan umat, maka hal itu boleh dibolehkan. Karena, bagaimanapun orang-orang kafir tetap memiliki rasa dendam menguasai kaum Muslimin. Renungkanlah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

‎ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِّنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّهُمْ لَن يُغْنُوا عَنكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ۚ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۖ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa. – (Al Jatsiyah/45: 18-19).

Dalam hal ini, jangan sampai ada orang yang memahami secara keliru, bahwa setiap mukmin harus berbuat buruk terhadap orang kafir agar kepribadiannya terjaga. Sebab, qanaah (merasa cukup) dengan akhlak Islam dan tetap mewaspadai akhlak-akhlak kaum kuffar. Allah melarang berbuat aniaya yang melampaui batas saat membela diri, apalagi dalam masalah lain. Allah berfirman:

‎وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tak menyukai orang-orang yang zalim.  (Asy Syuura/42: 40).

Oleh karena itu, syariat melalui nash-nashnya memerintahkan untuk berbuat baik kepada semua manusia.

 
Source: (Diangkat dari Raf’u adz Dzulli wa ash Shaghari ‘an al Maftunina bi Khuluqi al Kuffar, karya ‘Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani, Cet. I, Tahun 1426 H, dgn sedikit penambahan. (Pen) / (Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun X/1427H/2006M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296] / Referensi:
- https://www.facebook.com/negara.tauhid?ref=tn_tnmn
- http://www.almanhaj.or.id penulis Ustadz Abu Minhal tags: Teknologi Informasi Komunikasi, Alaihi Wa Sallam, Ali Imran, Kemajuan Teknologi, Orang Kafir) /http://gizanherbal.wordpress.com/
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Ensiklopedia Muslim dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s