Bantahan; Islam Tersebar Luas dengan Pedang (?)


Islam tersebar luas dengan pedang dan ayat-ayat Al-Qur’an yang mendorong kaum muslimin untuk berjihad dan menyebarkan Islam dengan kekuatan angkatan bersenjata?

JAWABAN: Syubhat ini adalah syubhat kuno yang diwarisi para pendengki Islam dari generasi ke generasi. Mereka seperti orang yang Allah berfirman tentang mereka,

“Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas. ”(Adz-Dzaariyaat [51]:53)

Sebelum menjawab syubhat ini, kami bertanya kepada orang yang melontarkan pernyataan di atas, “Apa yang mendorong sejumlah besar orang Eropa memeluk agama Islam di masa sekarang, padahal keilmuan mereka lebih tinggi dari kaum muslimin? Apakah ada orang yang mendorong mereka memeluk Islam dengan kekuatan? Atau mereka adalah orang-orang yang telah diberi hidayah oleh Allah, tidak fanatik buta pada agama mereka dan menggunakan akal mereka dalam membandingkan agama-agama dan mereka menemukan bahwa Islam memang agama yang benar, sedangkan selainnya adalah batil (salah)? Apakah ada orang sepanjang sejarah manusia yang dengan kekuatannya mampu memaksa hampir seperempat penduduk bumi untuk menjadi pengikutnya?

Selain itu, seandainya agama Islam tersebar dengan pedang sebagaimana yang kalian katakan—lantas kenapa tidak ada pemeluk Islam yang murtad setelah kaum muslimin mengalami kelemahan sebagaimana yang diketahui sekarang ini?

Orang yang menebarkan syubhat ini lupa—atau pura-pura lupa dengan kekerasan dan kekejaman yang tersebut di dalam kitab yang diklaim suci bagi mereka (Alkitab). Berikut ini dalil-dalilnya:

“Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah omng Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai. ” (1 Samuel 15 :3 )

“Kemudian Israel menawan perempuan-perempuan Midian dan anak anak mereka; juga segala hewan, segala ternak dan segenap kekayaan mereka dijarah, dan segala kota kediaman serta segala tempat perkemahan mereka dibakar.” (Bilangan 31:9-10)

“Dan kepada yang lain-lain aku mendengar Dia berfirman: “Ikutilah dia dari belakang melalui kota itu dan pukullah sampai mati! Janganlah merasa sayang dan jangan kenal belas kasihan. Orang-orang tua, teruna-teruna dan dara-dara, anak-anak kecil dan perempuan-perempuan, bunuh dan musnahkan! Tetapi semua orang yang ditandai dengan huruf T itu, jangan singgung! Dan mulailah dari tempat kudus-Ku!” Lalu mereka mulai dengan tua-tua yang berada di hadapan Bait Suci. Kemudian firman-Nya kepada mereka: “Najiskanlah Bait Suci itu dan penuhilah pelataran-pelatarannya dengan orang-orang yang terbunuh. Pergilah!” Mereka pergi ke luar dan memukuli orang-orang sampai mati di dalam kota.” (Yehezkiel 9:5-7)

“Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. ” (Matius 10: 34-37)

“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!  Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung! Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.” (Lukas 12: 49-51)

“Terkutuklah orang yang melaksanakan pekerjaan TUHAN dengan lalai, dan terkutuklah orang yang menghambat pedang-Nya dari penumpahan darah!” (Yeremia 48:10)

Agama Islam mulai dengan satu orang, yaitu Rasulullah. Kira-kira kekuatan apa yang dia pamerkan kepada manusia hingga mereka berislam? Adakah kelompok yang mendukungnya, sementara orang-orang terdekatnya justru  memusuhinya dan dakwahnya sejak pertama kali muncul?

Islam mulai dalam keadaan asing di tengah masyarakat kafir dan penyembah berhala. Oleh karena itu Islam disambut dengan permusuhan yang tiada tara dan para pemeluk Islam mendapatkan tekanan, siksaan dan bahkan pengusiran. Kira-kira apa yang membuat para pengikut Islam rela mengalami kesulitan ini, apalagi sebagian besar dari mereka adalah orang-orang miskin yang lemah?

Apakah karena Rasulullah memaksa mereka untuk masuk Islam ataukah karena mereka telah merasakan manisnya iman, oleh karena itu mereka tidak rela Islam diganti dengan apa pun?

Mereka terus dalam penyiksaan sampai Rasulullah mengisyaratkan kepada mereka untuk berhijrah ke Habasyah, lari dari semua gangguan dengan membawa agama mereka, sementara orang-orang yang tidak dapat berhijrah tetap mengalami tekanan, gangguan dan siksaan sampai All menjadikan untuk mereka Madinah Al-Munawwarah sebagai kelapangan dan jalan keluar. Inilah awal perkembangan Islam di luar tanah haram.

Apakah perkembangan ini dimulai dengan pedang? Perkembangan ini dimulai dengan keimanan sejumlah laki-laki yang Allah lapangkan dada mereka untuk menerima Islam dan berjanji setia kepada Rasulullah atas enam perkara yang mereka ucapkan pada waktu musim haji, yakni yang tersebut dalam surat Al-Mumtahanah yang juga disebut dengan bai’atun nisaa`(janji setia kaum perempuan), karena sama dengan bai’at mereka. Enam perkara itu adalah sebagai berikut:

1. Mereka tidak akan menyekutukan Allah dengan apa pun
2. Mereka tidak akan mencuri
3. Mereka tidak akan berzina
4. Mereka tidak akan membunuh anak-anak mereka (seba-gaimana yang biasa dilakukan pada masa jahiliah)
5. Mereka tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka
6. Mereka tidak akan mendurhakai Rasulullah dalam urusan yang baik

Kemudian sejumlah laki-laki ini kembali kepada kaum sebagai dai (pengajak kepada Allah). Banyak dada yang Allah lapangkan dan banyak akal yang Allah terangi dengan sebab mereka, padahal situasi mereka pada waktu itu sangat sulit. Ada permusuhan yang mengakar dan perang yang berkepanjangan antara Aus dan Khazraj. Perang yang paling terkenal adalah Perang Bu‘ats yang terjadi selama berpuluh-puluh tahun.

Ketika penduduk Yatsrib melihat akhlak orang-orang yang beriman telah berubah, mereka pun berislam dan bagus dalam keislaman mereka. Keislaman mereka ini pula yang dapat menghentikan pertumpahan darah. Allah telah menyatukan hati-hati mereka. Firman Allah, “Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Mahagagah lagi Mahabijaksana. ” (Al-Anfaal [8]:63)

Kemudian Rasulullah berhijrah ke kota mereka setelah beliau menerima janji setia mereka, bahwa mereka akan menjaga beliau dari apa yang mereka menjaga istri dan anak-anak mereka darinya (maksudnya, mereka akan membela beliau melawan segala bentuk permusuhan). Beliau mendirikan kedaulatan Islam di atas negeri mereka yang jauh dari tanah air beliau. Jaraknya sekitar lima ratus kilometer yang bila ditempuh dengan mengendarai unta akan rnemakan waktu lebih dari sepuluh hari.

Musuh-musuh beliau yang merupakan kaum beliau sendiri tidak merasa cukup dengan mengusir beliau dari tanah yang paling beliau cintai dan mengusir para sahabat beliau dari kampung halaman dan harta mereka. Musuh-musuh beliau itu mulai melancarkan tipu muslihat terhadap beliau dan para pengikut beliau agar dapat mencabut kedaulatan Islam sampai ke akar-akarnya. Allah pun harus mengizinkan beliau dan para sahabat beliau untuk berperang demi membela negara dan mengamankan jiwa, kehormatan dan harta benda mereka, agar kalimat Allah tetap mulai. Ayat perang pertama yang diturunkan Allah adalah firman Allah,

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. dan sesungguhnya Allah, benar-benar Mahakuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, ‘Tuhan kami hanyalah Allah’ Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. ” (Al-Hajj [22]: 39.40)

Dalam ayat Ini Allah menjelaskan bahwa Dia mengizinkan orang-orang yang beriman untuk berperang karena mereka telah dianiaya dan telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, “Tuhan kami hanyalah Allah.”

Dia juga menjelaskan bahwa seandainya tidak ada perang tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sebab, hanyak orang yang tidak merasa tenang dan tidak merasa puas kecuali dengan melakukan pengrusakan dan menebar ketakutan pada hamba-hamba Allah, serta melanggar hal-hal yang diharamkan Allah dan merobohkan tempat-tempat ibadah. Oleh karena ini harus ada orang yang menghentikan mereka dengan kekuatan, ketika nasehat tidak berguna lagi.

Allah juga telah menjelaskan bahwa kejayaan bagi orang-orang yang beriman di bumi ini bukan untuk tujuan duniawi atau karena suka bertindak lalim dan menguasai manusia. Allah herfirman dalam ayat selanjutnya,

“(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar. ” (Al-Hajj [22]:41)

Tidak seperti yang dilakukan oleh musuh-musuh Allah sekarang yang mengusung slogan kebebasan dan demokrasi, kemudian mereka justru menghancurkan negara-negara dan membunuh manusia Tidak kasihan dengan orang sakit, anak-anak kecil dan orang-orang tua. Bahkan mereka menyerang orang-orang lemah dengan semua kekuatan yang telah Allah berikan kepada mereka, setelah itu menebar syubhat seputar Islam dan mengatakan bahwa Islam tersebar dengan kekuatan!

Sesungguhnya sebagian besar peperangan Rasulullah terjadi untuk mengambil kembali sebagian hak kaum muslimin sebagaimana yang terjadi pada Perang Badar) atau untuk membela Madinah Al Munawwarah dan mengamankan kedaulatan Islam dari serangan-serangan sejumlah kabilah Arab yang musyrik, yang bersatu untuk memerangi Rasulullah, juga dari serangan Yahudi Madinah.

Oleh karena itulah Allah memerintahkan untuk memerangi mereka: “Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya. ” (At-Tauhah [9]:36)

Rasulullah dan para sahabat beliau berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya sampai Allah menolong agama-Nya dan menguatkan kedudukan agama-Nya di bumi-Nya. Kedaulatan Islam menjadi sangat kuat. Tidak ada seorang pun yang mampu mengusik kehormatan dan kemuliaannya.

Siapa yang ingin hidup damai, tidak mengganggu beliau dan para sahabat beliau dan tidak menampakkan permusuhan maka beliau pun bersedia untuk mengadakan perjanjian damai, bahkan sekalipun beliau  tidak tahu kebenaran niat mereka. Firman Allah, “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah” (Al-Anfaal [8]:6l)

Sebagaimana yang terjadi antara beliau dan sebagian kabilah Arab yang musyrik, juga antara beliau dan orang-orang Yahudi. Perjanjian damai yang paling besar adalah Shulhal Hudaibiyah (Perjanjian damai Hudaibiyah) yang merupakan kunci perkembangan Islam ke luar jazirah Arab. Oleh karena itulah Allah menyebutnya dengan kemenangan yang nyata. Firman Allah, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. ” (Al-Fath [48]:1)

Sebab, sebelum perjanjian damai ini, Rasulullah dan para sahabat sibuk membendung gangguan orang-orang musyrikin dan membela agama juga negara mereka—sebagaimana yang telah kami paparkan sebelumnya—. Setelah perjanjian damai ini, Rasulullah mulai mengutus beberapa utusan untuk menemui sejumlah kepala negara dan raja kerajaan tetangga dalam rangka mengajak mereka memeluk agama Islam dengan cara damai.

Di antara surat-surat Rasulullah kepada para kepala negara dan raja ltu adalah surat beliau kepada Hiraqlius, kaisar Romawi:

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad, hamba Allah dan rasul-Nya, untuk Hiraqlius, kaisar Romawi. Keselamatan atas orang yang mengikuti petunjuk. Amma ba’du. Sesungguhnya aku mengajakmu dengan ajakan Islam. Berislamlah makakamu pasti selamat.  Allah akan memberikan pahala kepadamu dua kali. Jika kamu berpaling maka kamu bertanggung jawab atas dosa orang-orang Aries.

“Hai Ahli Kltab marilah ( berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dam tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka, ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).’” (Ali Imraan [3]:164) (Shahih Al-Bukhari)

Adapun peperangan Rasulullah yang terjadi antara beliau dan orang-orang yang melakukan perdamaian, itu karena mereka melanggar perjanjian damai dengan beliau. Allah berfirman,

“Mengapakah kamu tidak memerangi orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama mulai memerangi kamu?” (At-Taubah [9]:13)

Seandainya Rasulullah suka menumpahkan darah— sebagaimana yang mereka katakan—tentu beliau tidak akan menerima perjanjian damai dan tentu beliau akan terus memerangi sampai mereka memeluk agama Islam. Buktinya, ketika penaklukan Makkah, salah seorang sahabat berkata, “Hari ini hari perang besar, hari ini Allah hinakan kaum Quraisy.”

Rasulullah pun bersabda, “Hari ini adalah hari kasih sayang, han ini Allah muliakan kaum Quraisy. ” (HR. Al-Amawi dalam pembahasan tentang peperangan)

Kisah Rasulullah dan orang-orang yang menekan beliau, menyiksa para sahabat beliau dan memerangi beliau sudah diketahui, akan tetapi ketika penaklukan Makkah, beliau justru bersabda kepada mereka, “Pergilah kalian, kalian bebas. ” (HR. Al-Bukhari dalam pembahasan tentang peperangan)

Seandainya Rasulullah berwatak suka menumpahkan darah tentu beliau akan balas dendam terhadap mereka setelah penaklukan Makkah. Coba perhatikan orang-orang yang mencoba melakukan kudeta untuk menggulingkan pemerintahan, apa yang dilakukan pemerintah terhadap orang-orang itu?  Tidak cukup hanya dengan mengasingkan mereka, akan tetapi pemerintah juga menggantung dan menghukum mati mereka.

Rasulullah sendiri tidak pernah sama sekali marah karena diri beliau dihina atau disakiti. Beliau hanya marah ketika batasan-batasan Allah dilanggar. Siapa saja yang mempelajari sejarah hidup Rasulullah pasti akan menemukan begitu banyak contoh sikap santun dan maaf beliau terhadap orang yang ingin membunuh beliau. Seandainya kita membicarakannya maka tidak akan habis-habisnya.

Seandainya Rasulullah adalah orang yang suka perang, tentu beliau tidak akan bersabda,

“Hai manusia janganlah kalian berharap bertemu musuh dan mintalah keselamatan kepada Allah. Akan tetapi apabila kalian bertemu mereka maka bersabarlah dan ketahuilah bahwa surga di bawah bayangan pedang. Ya Allah, yang menurunkan kitab, yang menjalankan awan dan yang menghancurkan pasukan musuh, hancurkanlah mereka dan tolonglah kami clalam menghadapi mereka.” (Muttafaq alaih)

Jumlah kaum muslimin dan kaum musyrikin yang tewas dalam seluruh peperangan di masa Rasulullah hanya sekitar tiga ratus delapan puluh enam (386) orang, sementara Serbia telah membunuh hampir lima ratus ribu orang dalam perang sektarianisme yang terjadi sejak sepuluh tahun.

Dalam penyerangan salibis yang paling keji sepanjang sejarah, orang-orang salibis membunuh sekitar seratus ribu orang Islam dan Yahudi di hari pertama penyerangan mereka.

Orang-orang salibis juga mengejar siapa saja yang melarikan di ke dalam Baitul Maqdis untuk berlindung dan membantai mereka di dalamnya hingga seakan-akan kuda-kuda  berenang di genangan darah kaum muslimin. Kemudian, berjuta-juta  orangg yang telah dibunuh oleh Hitler, Stalin, Mussolini dan orang-orang kejam lainnya.

Tidak ada satupun cerita yang menyebutkan bahwa Rasulullah memaksa satu pun tawanan atau satu pun utusan yang datang ke Madinah untuk memeluk agama Islam, bahkan Allah memerintahkan  beliau untuk memberi keamanan kepada orang musyrik yang meminta keamanan kepada beliau sekalipun dari orang yang diperintahkan untuk diperangi srhingga dia dapat mendengar kalam Allah.

Kemudian beliau mengembalikannya kepada keluarganya sekalipun dia tidak berislam. Firman Allah, “Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. ” (At-Taubah [9]:6)

Rasululllah juga memesankan agar bersikap baik terhadap para tawanan. Para sahabat pun melaksanakan pesan tersebut hingga Allah memuji mereka dengan firman-Nya

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. ” (Al Insan [76]: 8)

Rasulullah juga melarang mengganggu orang yang telah mengadakan perjanjian damai atau membayar pajak. Beliau bersabda,’

“Ketahuilah siapa saja yang menzhalim orang yang telah melakulan perjanjian, mengurangi haknya, membebaninya di atas kemampuannya atau mengambil sesuatu darinya tanpa persetujuannya maka akulah penghujatnya pada hari kiamat. (Kitab Sunan Abu Daud, Kitab Shahih Al-Jami’:2655)

Beliau bersabda, ” Barangsiapa yang membunuh seorang yang telah melakukan perjanjian, maka dia tidak akan mencium wangi surga, padahal sesungguhnya wangi surga itu sudah dapal tercium dan jarak perjalanan empat puluh tahun.” (Al-Bukhari)

Apakah sejarah mengetahui ada sikap baik kepada tawanan atau sikap menghormati perjanjian seperti ini?

Sebagaimana Islam tersebar di Madinah Al-Munawwarah dengan sebab dakwah kepada Allah secara baik dan akhlak mulia, seperti itu juga Islam tersebar di negara-negara Asia dan Afrika. Tidak ada kontak senjata sedikitpun.

Keislaman warga negara-negara tersebut bukan dengan bai’at seperti bai’at ahli Madinah, akan tetapi dengan sebab akhlak para pedagang muslim. Jazirah Arab memiliki hubungan perdagangan dengan negara-negara tersebut, yang sekarang disebut dengan istilah ekspor-impor. Warga negara-negara tersebut melihat akhlak orang-orang Arab telah berubah.

Sebelumnya mereka suka berdusta, Suka menipu, suka menunda pembayaran dan suka melakukan riba. Sekarang mereka menjadi orang-orang yang amanah, jujur, menepati janji, tidak menipu, tidak curang dan tidak menunda pembayaran lagi. Selain itu mereka bersikap toleransi dalam jual beli, bagus dalam pergaulan dan mengutamakan orang lain.

Warga negara-negara tersebut heran dengan apa yang t-rjadi dengan para pedagang itu. Mereka pun bertanya tentang sebab perubahan sikap mereka. Orang-orang Arab pun memberitahukan bahwa inilah Islam. Maka warga negara-negara tersebut berbondong-hondong memeluk agama Islam. Buktinya adalah negara Islam terbesar, Indonesia. Apakah kaum muslimin menaklukkannya dengan cara perang? Siapa yang mengatakan demikian, coba katakan siapa yang menaklukkannya dengan cara perang dan kapan itu terjadi? Coba katakan juga siapa yang menaklukkan Malaysia, Tajikistan dan Uzbikistan?

Sedangkan negara-negara yang ditaklukkan oleh kaum muslimin dengan cara jihad (seperti Mesir), maka sesungguhnya kaum muslimin tidak menyerangkannya dengan membabi buta dan kejam arau karena tujuan duniawi sebagaimana yang terjadi di masa sekarang. Seperti serangan yang dilancarkan terhadap Iraq, juga bukan karena tujuan memaksa orang masuk ke dalam agama Islam.

Firman Allah, “Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang beriman semuanya? ” (Yunus [10]:99)

Akan tetapi sebagaimana yang dikatakan oleh Rib’i bin Amir kepada Rustum, komandan pasukan Persia, “Sesungguhnya Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan hamba dari menyembah hamba kepada menyembah Allah, Tuhan hamba, dari kesempitan dunia kepada kelapangan akhirat, dari kezhaliman agama-agama kepada keadilan Islam.”

Negara-negara itu tunduk di bawah tekanan para pemimpin kejam Persia dan Romawi, yang menghukum manusia dengan besi dan api.

Ketika kaum muslimin menaklukkan negara-negara tersebut, kaum muslimin segera menghapus kezhaliman terhadap warga, menjamin kebebasan berakidah bagi mereka, mengamankan mereka di negara-negara mereka sendiri dari kekejaman musuh-musuh mereka dan tidak mengganggu tempat-tempat ibadah mereka.

Warga negara-negara tersebut senang melihat akhlak kaum muslimin yang bagus ini, juga kasih sayang, keadilan dan terpujinya pergaulan mereka yang tidak mereka temukan pada para pemeluk agama mereka sendiri. Akhirnya mereka berislam dan baik dalam keislaman mereka.

Sesungguhnya Allah mengutus Rasul-Nya, Muhammad kepada semesta alam. Firman Allah, “Supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Qur’an (kepadanya). (Al-An’aam [6]:19)

Firman Allah, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. ” (Al-Anbiyaa`[21]:107)

Firman Allah, “Supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Makkah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya. ” (Asy-Syuuraa [42]:7)

Firman Allah, “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imraan [3] :85)

Oleh karena itu, beliau harus menyampaikan dakwah beliau kepada seluruh alam.

Islam adalah cahaya dan sudah menjadi hak setiap manusia bahwa Cahaya itu sampai kepadanya dengan bukti/dalil dan keterangan yang nyata, bukan dengan mencaci maki dan melukai hati sebagaimana yang dilakukan oleh musuh-musuh kami. Agar dakwah itu sampai ke semua negara maka jalan harus dibuka tanpa perang.

Apabila jalan tidak buka, maka kami akan mengadakan perjanjian damai dengan warga negara (Yang tidak mau menerima dakwah) dengan syarat mereka bayar pajak. Dengan begitu, kami tidak akan mengganggu mereka dan mereka pun tidak boleh mengganggu kami dalam bentuk apa pun.

Pajak sendiri adalah hak yang Allah jadikan untuk kaum muslimin. Allah berfirman, Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah (pajak) dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (At-Taubah [9]:29)

Sudah dimaklumi bahwa orang yang akan bayar pajak, pertama-tama harus tahu untuk siapa pajak itu dan kenapa dia harus bayar pajak? Ini membuatnya akan bertanya tentang agama baru ini dan dengaini dakwah akan sampai kepadanya. Jika dia berislam maka segala puji hanya bagi Allah, akan tetapi jika dia tetap dalam kekufurannya maka dia harus tetap bayar pajak sebagai balasan kesombongannya terhadap perintah Tuhannya dan sebagai ganti jaminan pengamanan dirinya oleh negara dari segala bentuk gangguan. (Sudah diketahui bahwa pajak tidak diwajibkan atas perempuan, anak-anak, budak dan orang yang memiliki gangguan kesehatan atau orang yang tidak mampu bekerja).

Jika tidak mau bayar pajak maka kami akan memerangi orang yang menghalangi kami menyampaikan risalah Tuhan kami. Sedangkan orang yang tidak menghalangi kami, maka kami tidak akan mengganggunya sedikit pun.

Setelah penyampaian dakwah kepada manusia dengan bukti/dalil dan keterangan yang nyata maka tidak ada seorang pun yang dipaksa untuk memeluk agama Islam.

Allah berfirman, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. ” (Al-Baqarah [2]:256)

Allah berfirrnan, “Dan katakanlah, ‘Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. ” (Al-Kahfi [18]:29)

Artinya, kami tidak akan memerangi orang-orang yang tidak mernerangi, yakni yang tidak menghalangi kami dari menyampaikan dakwah secara baik.

Ini sangat berlawanan dengan apa yang disebutkan di dalam Bibel:

 “Apabila engkau mendekati suatu kota untuk berperang melawannya, maka haruslah engkau menawarkan perdamaian kepadanya. Apabila kota itu menerima tawaran perdamaian itu dan dibukanya pintu gerbang bagimu, maka haruslah semua orang yang terdapat di situ melakukan pekerjaan rodi bagimu dan menjadi hamba kepadamu.Tetapi apabila kota itu tidak mau berdamai dengan engkau, melainkan mengadakan pertempuran melawan engkau, maka haruslah engkau mengepungnya; dan setelah TUHAN, Allahmu, menyerahkannya ke dalam tanganmu, maka haruslah engkau membunuh seluruh penduduknya yang laki-laki dengan mata pedang. Hanya perempuan, anak-anak, hewan dan segala yang ada di kota itu, yakni seluruh jarahan itu, boleh kau rampas bagimu sendiri, dan jarahan yang dari musuhmu ini, yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, boleh kaupergunakan. Demikianlah harus kaulakukan terhadap segala kota yang sangat jauh letaknya dari tempatmu, yang tidak termasuk kota-kota bangsa-bangsa di sini.Tetapi dari kota-kota bangsa-bangsa itu yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, janganlah kaubiarkan hidup apapun yang bernafas, melainkan kau tumpas sama sekali, yakni orang Het, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi, dan orang Yebus, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. (Ulangan 20 : 10-17)

Dalam teks ini terdapat perintah memperbudak bangsa-bangsa yang setuju dengan perdamaian. Sedangkan bangsa yang tidak setuju dengan perdamaian, maka seluruh laki-laki bangsa itu harus dibunuh (baik yang memerangi atau yang tidak memerangi). Adapun kaum perempuan,anak-anak dan binatang maka mereka diambil seperti harta rampasan perang.

Ini keadaan pada bangsa-bangsa yang berada jauh. Sedangkan keadaan bangsa-bangsa yang berada dekat (yakni enam bangsa yang disebutkan  dalam teks) maka perlakuan terhadapnya lebih dahsyat lagi, karena kaum laki-laki dari mereka tidak diperangi satu persatu dan kaum perempuan tidak dijadikan tawanan, akan tetapi dibinasakan semuanya (pemusnahan massal)

Coba bandingkan dengan apa yang diperintahkan Rasulullah SAW kepada kami dalam sabda beliau,

“Berperanglah atas nama Allah dan di jalan Allah. Perangilah orang yang ingkar terhadap Allah. Berperanglah dan jangan berkhianat, jangan melanggar janji, jangan memutilasi (memotong tubuh) dan jangan membunuh anak-anak, Apabila kamu bertemu dengan musuhmu dari orang-orang musyrikin maka ajak mereka kepada tiga perkara, mana saja yang mereka setujui maka terimalah dan jangan kamu apa-apakan mereka: ajak mereka kepada Islam, jika mereka memperkenankan maka terimalah mereka dan jangan kamu apa-apakan mereka.

Kemudian ajak mereka untuh pindah dari kampung halaman mereka ke kampung halaman kaum Muhajirin (Madinah) dan beritahukan kepada mereka bahwa jika mereka melakukannya maka mereka memiliki hak yang sama dengan hak kaum Muhajirin dan memiliki kewajiban yang sama dengan kewajiban kaum Muhajirin.

Jika mereka enggan untuk pindah maka beritahukan kepada mereka, bahkan mereka menjadi seperti orang Arab muslim yang berlaku atas mereka  hukum Allah yang juga berlaku atas orang-orang yang beriman dan mereka tidak mendapatkan bagian sedikit pun dari harta rampasan perang dan fay (harta rampasan tanpa peperangan), kecuali jika mereka berjihad bersama kaum muslimin.

Jika mereka enggan ( tidak mau masuk Islam) maka minta mereka pajak. Jika mereka setuju maka terimalah itu dari mereka dan jangan kamu apa-apakan mereka. Jika mereka enggan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah dan perangilah mereka.

Apabila kamu telah mengepung orang-orang yang berada di sebuah benteng dan mereka mau menyerah jika kamu jadikan bagi mereka jaminan (keamanan)mu dan jaminan (keamanan) para sahabatmu.

Sebab, sesungguhnya jika kamu melanggar jaminan (keamanan)mu dan jaminan (keamanan) para sahabatmu maka itu lebih ringan daripada kamu melanggar jaminan (keamanan) Allah dan jaminan (keamanan) Rasul-Nya.

Apabila kamu telah mengepung orang-orang yang berada di sebuah benteng, lalu mereka mau menyerah jika kamu menempatkan mereka di atas hukum Allah, maka jangan kamu tempatkan mereka di atas hukum Allah, akan tetapi tempatkan mereka di atas hukummu. Sebab, sesungguhnya kamu tidak tahu apakah kamu bertindak sesuai hukum Allah pada mereka atau tidak.” (Kitab Shahih Al-Jami’: 1078)

Sabda Rasulullah juga ketika melihat seorang perempuan tewas terbunuh dalam perang, beliau mengatakan, “Tidak seharusnya perempuan ini dibunuh. ” (Abu Daud, An-Nasa’i dan Ibnu Hibban)

Sabda Rasulullah juga, ‘Jinakkan manusia, berhati-hati (bersikap) terhadap mereka dan jangan kalian menyerang mereka sebelum kalian mengajak mereka. Tidaklah kalian mendatangkan kepadaku penduduk kota dan penduduk desa dalam keadaan berislam lebih aku sukai daripada kalian mendatangkan kepadaku anak-anak dan kaum perempuan mereka, sementara kaum laki-laki mereka telah kalian bunuh. ”(Ibnu Mandah, Ibnu Asakir dari Abdurrahman bin Aida)

Sabda Rasulullah juga, “Berangkatlah kalian dengan nama Allah, dengan Allah dan atas agama Rasulullah. Janganlah kalian membunuh orangtua renta, anak kecil, anak-anak dan perempuan dan janganlah kalian bertindak berlebihan. Kumpulkanlah semua harta rampasan perang kalian. Berdamailah dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah suka kepada orang-orang yang berbuat baik, ” (Dha’iif Al-]aami’,1346)

Sabda Rasulullah juga, “Kenapa ada suatu kaum yang berlebihan dalam membunuh mereka hari ini sehingga mereka juga membunuh anak-anak? Ketahuilah bahwa orang-orang terbaik kalian adalah anak-anak orang musyrik.  Ingat, janganlah kalian membunuh anak-anak. Ingat,  janganlah kalian membunuh anak-anak. Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci. Dia terus demikian sampai dia bisa berbicara, maka orangtuanya-lah yang membuatnya menjadi Yahudi atau membuatnya menjadi Nasrani . ” (Kitab Shahih Al-Jami’:55 71)

Maksud sabda Rasulullah “Orang-orang terbaik kalian adalah anak-anak orang musyrik, ” adalah bahwa para sahabat Rasulullah dulu merupakan anak-anak orang musyrik. Dan mungkin saja Allah akan memberi petunjuk kepada anak-anak itu seperti Allah telah memberi petunjuk kepada para sahabat Rasulullah.

Rasulullah juga melarang penjarahan dan balas dendam (Kitab Shahih Al-Jami’: 6917) Rasulullah pernah bersabda kepada Mu’adz bin jabal ketika beliau mengutusnya kepada penduduk Yaman,

“Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum Ahli Kitab. Apabila kamu telah mendatangi mereka maka ajaklah mereka agar bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.

Jika mereka menurut, maka terimalah itu, lalu beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka lima kali shalat dalam setiap hari.

Jika mereka menurut maka terimalah itu, lalu beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka sedekah (zakat) yang diambil dari orang-orang kaya mereka lalu diserahkan kepada orang-orang fakir mereka.

Jika mereka menurut maka terimalah itu. Hindarilah harta-harta yang paling berharga milik mereka dan takutlah terhadap doa orang yang teraniaya, sebab tidak ada satu pun hijab (pendinding) antara doa itu dan Allah. ” (Kitab Shahih Al-Jami’:2298)

Dalam hadits-hadits ini dan lainnya jelas terlihat ajaran Rasulullah dalam peperangan: tidak boleh melanggar perjanjian, tidak boleh curang,tidak holeh balas dendam (memutilasi orang yang terbunuh dari musuh sekalipun mereka memutilasi orang yang terbunuh dari kami), tidak boleh membunuh anak-anak, perempuan dan orang tua, tidak holeh menyiksa, tidak boleh membunuh orang yang sudah tidak berdaya, tidak boleh mengganggu orang yang sedang beribadah di dalam tempat ibadah, tidak boleh membakar pohon, tidak boleh menutup sumur, tidak boleh menghancurkan bangunan, tidak boleh menzhalimi dan menghinakan, tidak boleh perang untuk memaksa dan menjajah dan seterusnya.

Bahkan beliau tidak membiarkan jasad orang-orang kafir dimakan oleh binatang, akan tetapi beliau memerintahkan untuk dikubur dalam satu lubang setelah kemenangan beliau pada perang Badar. Berbeda dengan apa yang terdapat dalam Alkitab (Bibel):

“Sesungguhnya, Aku akan mendatangkan malapetaka kepadamu, Aku akan menyapu engkau dan melenyapkan setiap orang laki-laki dan keluarga Ahab, baik yang tinggi maupan yang rendah kedudukannya di Israel. Dan Aku akan memperlakukan keluargamu sama seperti keluarga Yerobeam bin Nebat dan seperti keluarga Baesa bin Ahia, oleh karena engkau menimbulkan sakit hatiku, dan oleh karena engkau mengakibatkan orang Israel berbuat dosa. Juga mengenai Izebel Tuhan telah berfirman: Anjing akan memakan Izebel di tembok luar Yizreel. Siapa dari keluarga Ahab yang mati di kota akan dimakan anjing dan yang mati di padang akan dimakan burung di udara. ” (1 Raja-Raja 21: 21- 23)

Di dalam Alkitah juga terdapat keterangan tentang memutilasi korban (Insya Allah dalil mengenai hal ini akan kami sampaikan pada jawaban ke-86).

Bukti bahwa kaum muslimin tidak pernah memaksa orang masuk Islam adalah adanya orang-orang non muslim di negara Islam sampai sekarang. Jika tidak, tentu kakek-nenek mereka telah dibunuh hingga tidak ada lagi satu pun keturunan dari mereka.

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan pula bahwa kami tidak menyerang musuh secara tiba-tiba, akan tetapi terlebih dahulu kami ajak mereka kepada Islam dan kami beri tempo selama tiga hari.

Bahkan pernah terjadi pada masa pemerintahan Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz, bahwa ada seorang komandan pasukan yang bernama Qutaibah bin Muslim menyerang secara tiba-tiba penduduk Samarqand dia berhasil menaklukkannya. Merekapun mengadu kepada Khalifah, bahwa dia tidak memberi kesempatan untuk berpikir. Maka Khalifah segera memerintahkan Qutaihah untuk keluar bersama pasukannya dari negara mereka.

Ketika melihat akhlak yang mulia, keadilan dan kebijaksanaan yang tidak pernah terbayangkan dilakukan oleh seorang yang telah berhasil mengalahkan suatu kaum dan telah masuk ke dalam negara mereka, penduduk Samarqand langsung masuk Islam dan dengan suka rela membolehkan Qutaibah bersama pasukannya masuk ke negara mereka.

Sesungguhnya salah satu pilar dalam Islam adalah damai, sedangkan perang hanya pengecualian karena keterpaksaan. Bisa jadi karena membela diri, kehormatan, harta benda dan negara muslim dari tindakan zhalim, yang mana ini disebut dengan jihaad difaa’ (jihad pembelaan).

Allah berfirman, “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, ( tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. ” (Al-Baqarah [2]:190)

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang terbunuh karena membela hartanya maka dia syahid, barangsiapa yang terbunuh karena membela darahnya (dirinya) maka dia syahid, barangsiapa yang terbunuh karena membela agamanya maka dia syahid dan barangsiapa yang terbunuh karena membela keluarganya maka dia syahid. ” (Kitab Shahih Al-Jami’: 6445)

Bisa jadi juga karena membela dakwah Islam ketika ada yang menghalanginya dengan cara menyiksa orang yang beriman, menghalangi orang yang ingin masuk Islam atau melarang orang yang hendak menyampaikan dakwah Islam. Ini disebut dengan jihaad thalah.

Allah berfirman, “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir. Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum qishaash. Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.(Al-Baqarah [2]: 191-194)

Hukum jihad dalam Islam bisa fardhu ain. Hukum ini berlaku atas orang atau dalam keadaan sebagai berikut:

Pertama, orang yang hadir dalam perang. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya” (Al-Anfaal [8]:15-16)

Kedua, apabila negara kafir menyerang negara Islam. Dalam keadaan seperti ini, jihad wajib atas setiap orang Islam laki-laki dan perempuan, bahkan perempuan boleh pergi untuk berjihad tanpa izin suaminya, sementara dia tidak boleh pergi berhaji tanpa izin suaminya. Anak boleh pergi untuk berjihad tanpa izin ayahnya dan budak boleh pergi berjihad tanpa izin majikannya. Allah berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Taubah [9]:38-39)

Allah berfirman, “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (At-Taubah [9]: 41)

Ketiga, orang yang diperintahkan oleh pemimpin muslim untuk berjihad di jalan Allah dan bukan untuk fanatisme jahiliah atau berlaku zhalim terhadap orang-orang yang tidak berdosa, sebagaimana yang terjadi—sayang sekali—di masa sekarang, di mana negara muslim berlaku zhalim terhadap negara muslim lainnya.

Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian kembali kafir setelahku, sebagian kalian membunuh sebagian lainnya. ” (Muttafaq Alaih)

Rasulullah bersabda. “Barangsiapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi mulia maka dia berada di jalan Allah. ” (Muttafaq Alaih)

Rasulullah bersabda, “Tidak ada kata taat dalam maksiat kepada Allah. Taat hanya ada dalam ha-hal yang ma’ruf. ” (Shahih Muslim)

Bisa juga hukum jihad itu fardhu kifayah, jika jihad telah dilakukan oleh sebagian orang maka gugur dari yang lainnya. Hukum ini berlaku atas orang atau dalam keadaan sebagai berikut:

Pertama, apabila terjadi kezhaliman terhadap masyarakat minoritas yang muslim yang hidup di negara kafir, berupa pengusiran, pembunuhan dan intimidasi, seperti yang terjadi di Bosnia dan Herzikovina sejak beberapa tahun yang lalu. Dalam keadaan seperti ini kaum muslimin dianjurkan untuk menolong saudara mereka, menghentikan kezhaliman terhadap mereka dan memungkinkan mereka untuk menjalankan ibadah dan ritual keagamaan tanpa rasa takut dan tanpa ikatan atas kebebasan mereka.

Allah berfirman, “Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!” (An-Nisaa` [4] :75)

Fardhu kifayah di sini bukan berarti kewajiban dilakukan oleh sedikit orang yang tidak memungkinkan dapat mencapai tujuan menghentikan  permusuhan, akan tetapi dilakukan oleh sejumlah orang dan dengan sarana yang memadai.

Kedua, jihaad da’wii (sekarang tidak dapat dilakukan, karena kaum muslimin sangat lemah). Yaitu, sejumlah ulama kaum muslimin melakukan dakwah kepada non muslim dengan cara yang baik.

Allah berfirman, “Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (Ali lmraan [3]:64)

Jika mereka tidak mau mendengarkan kebenaran maka mereka harus bayar pajak. Jika tidak maka mereka diperangi. Allah berfirman, “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. ” (At-Taubah [9]: 122)

Rasulullah bersahda, “Aku diperintahkan untuk memerangi mereka hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan aku adalah utusan Allah, mendirikan shalat dan membayar zakat. Apabila mereka melakukannya maka terpeliharalah mereka dariku: darah dan harta mereka, kecuali dengan alasan yang benar, sedangkan perhitungan mereka kuserahkan kepada Allah. ” (Shahih Muslim)

Hadits ini merupakan dalil inti orang-orang kafir dalam tuduhan mereka terhadap Islam, bahwa Islam tersebar dengan pedang. Hadits ini pun belum dipahami secara jelas oleh banyak kaum muslimin. Sebelum menjelaskannya, kami ingin bertanya kepada kalian, “Apakah Rasulullah dan para sahahat dapat memastikan keislaman setiap orang dan bahwa mereka mendirikan shalat juga membayar zakat, bahkan walaupun mereka diperangi?

Hal ini jelas di luar kemampuan manusia, sekuat apa pun dia dan sebanyak apa pun pengikutnya.

Maksud dari hadits ini adalah Rasulullah diperintahkan untuk menyampaikan dakwah Islam kepada manusia, sekalipun terpaksa harus berperang dengan orang yang menghalangi beliau. lni pula maksud dari apa yang telah kami sebutkan, bahwa kami akan memerangi orang yang menghalangi kami dari menyampaikan risalah Tuhan kami.

Kami ingin menggarisbawahi “orang yang menghalangi kami” dengan serihu garis agar dapat dipahami. Sedangkan orang yang bersikap damai dan tidak menghalangi jalan kami maka kami tidak akan mengganggunya.

Allah berfirman, “tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka. .” (An-Nisaa [4]: 290)

Setiap kali hendak memberangkatkan pasukan, Rasulullah selalu memerintahkan mereka untuk tidak menyerang suatu kaum yang terdengar seruan shalat (adzan) dari mereka. Nah apakah bisa dipastikan, bahwa setiap penduduk kampung adalah muslim, mendirikan shalat dan membayar zakat? Ataukah ini hanya merupakan bukti bahwa dakwah Islam telah sampai kepada mereka?

Sebelum mengakhiri bantahan terhadap syubhat ini, kami ingin mengatakan—dengan pertolongan Allah— bahwa sudah diketahui di mana saja di dunia ini bahwa harus ada rangkaian komando (struktur organisasi).

Setiap lembaga memiliki satu pemimpin dan lembaga-lembaga itu tunduk kepada satu departemen tertentu. Misalnya departemen kesehatan diikuti oleh seluruh pusat-pusat kesehatan, rumah sakit-rumah sakit dan puskesmas-puskesmas. Setiap pusat kesehatan, rumah sakit dan puskesmas ini memiliki satu pemimpin atau direktur. Di atas pemimpin atau direktur ini ada pemimpin atau direktur lain sampai kepada menteri kesehatan.

Bukankah begitu? Struktur yang kami katakan pada departemen kesehatan sama dengan struktur pada semua departemen. Setiap departemen (kementerian) berada di bawah kepemimpinan satu orang, yang disebut dengan perdana menteri. Begitu juga setiap propinsi dipimpin oleh seorang gubernur, kemudian di puncak pemerintahan ada satu orang kepala negara atau raja. Struktur komando ini seperti membentuk piramid. Paling bawah adalah para ketua/direktur/ pemimpin yang begitu banyak, kemudian naik menjadi sedikit, naik lagi menjadi lebih sedikit, naik lagi menjadi lebih sedikit lagi hingga menjadi satu orang.

Mungkin ada orang yang heran dan berkata, “Apa hubungannya dengan tema kita?” Kami jawab bahwa yang ingin kami sampaikan adalah sebagaimana tidak akan bagus suatu kedaulatan dipimpin kecuali oleh satu orang pemimpin maka alam ini pun harus memiliki satu pemimpin, Yaitu Allah, bahkan Dia adalah Pemimpin yang seadil-adilnya. Allah berfirman, “Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya?” (At-Tiin [95]:8)

Jilka setiap pemimpin tidak senang bila ada di antara rakyatnya yang keluar dari hukumnya, lantas bagaimana dengan Allah? Bagaimana bisa seorang dari makhluk-Nya keluar dari hukum-Nya? Apakah kalian senang, bagi Allah apa yang kalian sendiri tidak senang, sementara Dia adalah Pencipta, Pemberi rezeki, Pengatur perkara dan di tangan-Nya hidup juga mati kalian? Allah berfirman,

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? ” (Al-Maa`idah [5]:5O)

Mengesakan Allah dan menyembah-Nya adalah kewajban hamba-Nya, namun Dia tidak membutuhkan itu dari mereka. Allah berfirman,

“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu. ” (Az-Zumar [39]:7)

Allah berfirman, “Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. ” (Ali-Imraan [3] :83)

Rasulullah bersabda, “Hai Mu’adz bin jabal, apakah kamu tahu apa hak Allah atas hamba-Nya dan apa hak hamba atas Allah? Sesunggahnya hak Allah atas hamba adalah mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan apapun kepada-Nya, sedangkan hak hamba atas Allah adalah Dia tidak akan mengadzab orang yang tidak menyekutukan apa pun dengan-Nya. ” (Kitab Shahih A-Jami’:7968)

Wallahu ‘alam Bissawab.

 

 

 

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Islam Menjawab dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s