Menjawab Tudingan; Muhammad SAW Adalah Pembawa Teror Bagi Orang Kafir (?)


Dalil acuan: “Aku diberi kemenangan dengan adanya ketakutan (di hati musuh) dari jarak perjalanan satu bulan penuh.” (HR. Al-Bukhari).

Hadist ini menunjukkan bahwa Nabi menebarkan ketakutan, mengangkat agamanya dengan memberi rasa takut dan teror.

Jawaban:

Pertama-tama kita lihat dulu pernyataan di Alkitab:

Matius 10: (34) Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.

Lukas 12: (49) Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!

Yehezkiel 9: (6) Orang-orang tua, teruna-teruna dan dara-dara, anak-anak kecil dan perempuan-perempuan, bunuh dan musnahkan!

Bilangan 31: (10) Dan bakarlah seluruh kota kediaman mereka serta segala tempat perkemahan mereka dengan api.” (??)

Yehezkiel 5: (10) Sebab itu di tengah-tengahmu ayah-ayah akan memakan anak-anaknya dan anak-anak memakan ayahnya.

Kembali ke pembahasan tentang tuduhan di atas. Berapa kalikah Alqu’ran menyatakan kata “ar-ru’b” (ketakutan) dan mengenai apa?

Kata ini disebutkan dalam Alqur’an empat kali namun tidak satu pun dari keempatnya yang berkaitan dengan meneror atau menzhalimi suatu tempat.

Tempat pertama yang menyebutkan kata tersebut membahas tentang perang Badar, di mana perang itu bertujuan untuk mengembalikan hak-hak kaum muslimin yang dirampas oleh kaum musyrik. Maka Allah menolong kaum muslimin dan memberikan kemenangan kepada mereak terhadap orang-orang musryik. Dan berubahlah pandangan masyarakat Arab dan kabilah-kabilah yang berdampingan dengan kaum muslimin.

Kemenangan itu menambal luka yang menganga di hati orang Islam, dan akhirnya mereka dapat membalas semua hinaan dan siksaan yang dilakukan oleh kaum kafir Makkah.  Adapun bunyi dari ayat  itu adalah:

Al-Anfal 8: 12. (Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman.” Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.

Di tempat yang kedua, ayat tersebut membahas tentang perang Uhud, dimana perang itu bagi kaum muslimin sebagai pembelaan diri dari rencana kaum musryik yang ingin menyerang wilayah mereka. Kaum musyrik sepertinya semakin menjadi-jadi, mereka tidak puas dengan perginya kaum muslimin meninggalkan tanah air, keluarga, dan harta mereka  di kota Makkah, kaum musryik ingin melumatkan agama Islam dari muka bumi beserta semua pengikutnya. Allah-lah yang menghalangi mereka dari niat tersebut.

Walaupun kaum muslimin harus menderita untuk mempertahankan akidah dan wilayah mereka pada perang tersebut, namun Allah memberi ketenangan kepada mereka dan menjanjikan pertolongan pada perang berikutnya.

Ali Imram 3: 151. Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim.

Di tempat ketiga yang menyebutkan kata “ketakutan” (ar-ru’b, dalam lafal arabnya), membahas tentang perang Ahzab, di mana pada perang itu kaum muslimin dikeroyok oleh beberapa pasukan musuh dari berbagai daerah (kaum Quraisy dan para sekutunya). Para musuh Islam itu hendak menyerang Nabi dan pasukannya dari segala arah dan membumi hanguskan kota Madinah beserta segala isinya. Namun sekali lagi Allah membuat musuh-musuh Islam itu kewalahan.

Pada saat itu kaum muslimin bersepakat untuk melaksanakan ide yang diajukan oleh Salman Al-Farisi, yaitu dengan membuat parit-parit. Dan bukan hanya itu, Allah juga memasukkan rasa takut ke dalam hati para musuh Islam itu, lalu dikirimkanlah kepada mereka angin yang begitu dahysat, dan angin itu membuat kemah-kemah mereka juga tempat makanan, dan semua perlengkapan mereka menjadi terbalik dan berantakan. Akhirnya mereka pun melarikan diri dan kembali ke tempat asalnya masing-masing.

Allah berfirman:

Al-Ahzab (33):25. Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan [1209]. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

[1209]. Maksudnya orang mukmin tidak perlu berperang, karena Allah telah menghalau mereka dengan mengirimkan angin dan malaikat.

Setelah kaum Quraisy dan para sekutunya itu lari tunggang langgang, Allah memerintahkan kaum muslimin untuk memerangi Bani Quraizah yang melangggar perjanjian mereka dengan Nabi dan bersekutu dengan kaum Quraisy, serta menyetujui persekutuan kaum musyrikin itu untuk menyerang kota Madinah dari wilayah mereka (Bani Quraizah adalah salah satu kabilah di kota Madinah yang beragama Yahudi).

Maka kaum muslimin pun memerangi Bani Quraizah agar mereka merasakan balasan dari pengkhianantan dan pelanggaran janji mereka. Allah berfiman:

Al-Ahzab (33): 26. 26. Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan[1210].

[1210]. Sesudah golongan-golongan yang bersekutu itu kocar-kacir, maka Allah memerintahkan Nabi untuk menghancurkan Bani Quraizhah (Ahli Kitab) dan menghalau mereka dari benteng-benteng mereka. Kemudian seluruh laki-laki yang ikut berperang dibunuh, perempuan dan anak-anak ditawan.

Sedangkan tempat terakhir yang menyebutkan kata “ketakutan” adalah ayat yang mebahas tentang peperangan yang dilakukan oleh kaum muslimin terhadap Bani Nadhir. Perang tersebut terjadi karena Bani Nadhir telah melanggar perjanjian mereka dengan Nabi, dan mereka juga berusaha untuk membunuh beliau.  Allah berfirman:

Al-Hasyr (59): 2. Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama[1463]. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan.

[1463]. Yang dimaksud dengan ahli kitab ialah orang-orang Yahudi bani Nadhir, merekalah yang mula-mula dikumpulkan untuk diusir keluar dari Madinah.

Dari keempat tempat yang sudah disebutkan di atas, maka dimanakah lagi kata-kata tersebut kita dapatkan kata-kata yang bermakna teror, atau mengangkat agama dengan menebarkan rasa takut, seperti yang anda sebutkan itu?

Lalu siapakah yang sebenarnya memberikan rasa takut di dalam hati orang-orang kafit itu? Allah atau Rasul-Nya?

Kemudian, apabila pasukan muslimin bersatu untuk mempertahankan agama mereka, wilayah mereka, dan kehormatan mereka, lalu memerangi orang-orang Yahudi agar mengangkat bendera Allah menjadi yang tertinggi, supaya kaum muslimin menadapatkan kembali Qudus mereka, negeri mereka Palsetina, maka Allah membantu mereka dengan memasukkan rasa takut ke dalam hati musuh hingga mereka melarikan diri di hadapan pasukan muslimin…. apakah itu yang kalian sebut sebagai teroris?

Kata teror ini sebenarnya termasuk kata yang dipalingkan dari maknanya yang hakiki, dan itu bukan suatu hal yang aneh, karena memang itulah yang biasa dilakukan oleh Ahlul Kitab.

Peperangan yang Nabi lakukan selama hidupnya mencapai 19 peperangan, dan jumlah korban yang meninggal pada semua perang tersebut, dari kaum musyrikin dan juga kaum muslimin, sebanyak 386 orang saja.

Lalu jika jumlah itu dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh umat Kristiani dan juga kaum Yahudi terhadap kaum muslimin sangat jauh sekali, bahkan tidak sampai satu persennya. Atau kira-kira sama dengan sepersepuluh korban yang terbunuh dari fitnah yang terjadi antara umat Katolik dan Prostestan pada insiden berdarah Bartholomeus (The St. Bartholomeus Day’s Massacre, 1527)

Sesungguhnya darah orang-orang kafir yang mengalir pada perang-perang–yang kalian katakan bahwa Islam-lah pemicunya–itu sangat tidak sebanding dengan darah orang Islam. Perumpamaannya seperti setetes darah di laut merah.

Orang-orang komunis pun tidak kalah sadisnya, mereka membunuh ratusan ribu kaum muslimin di Asia Timur dan Selatan. Bahkan mereka tega membakar jasad para korbannya. Lalu tiba-tiba tanpa rasa bersalah mereka berkata bahwa komunis itu menjunjung tinggi perdamaian!!?!

Dan masih banyak contoh lainnya, yang baru terjadi atau bahkan masih berlangsung. Kaum muslimin dijadikan sasarn kebrutalan di mana-mana, lihatlah apa yang terjadi di Bosnia Herzegovina, Chechnya, Palestina, Irak, Somalia, Filipina, Kasmir, atau negara-negara muslim lainnya.

Lihatlah bagaimana orang-orang Kristen serbia membantai kaum muslimin, mereka tega membela perut ibu-ibu muslim yang sedang hamil di Bosnia, lalu melemparkan janin-janin kecil para ibut itu kedalam tempat sampah, bahkan setelah itu menaruh anjing dan kucing di dalam rahim mereka.

Apakah mungkin manusia dapat berbuat seperti itu? Apakah ada kekejaman lain yang lebih parah dari itu?? Ajaran Kasih banget?!

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Islam Menjawab dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s