POLEMIK SEPUTAR SEBAB-SEBAB TURUNNYA SURAH AT-TAHRIIM (1-5)


Benarkah surah ini berkaitan dengan Maria Al-Qibthiyah, salah satu budak beliau yang kemudian menjadi Istrinya???

Landasan hujjah Kristen terhadap kisah ini adalah—tudingan, antara Maria dan Muhammad kepergok  sedang berduaan/bersetubuh di rumah Hafshah adalah dengan mengacu dalil-dalil di bawah ini:

..Ibnu Sa’d menulis: “Abu Bkr menceritakan bahwa rasul (PBUH) melakukan persetubuhan dg Mariyah dirumah Hafsa. Ketika rasul keluar rumah, Hafsa duduk digerbang (dibelakang pintu yg terkunci). Dia bilang pada nabi, O rasul, apa anda melakukan ini di rumahku dan ketika giliranku? Nabi berkata, kendalikan dirimu dan biarkan aku pergi karena aku telah membuatnya (Mariyah) haram bagiku. Hafsa berkata, Aku tidak terima kecuali kamu bersumpah bagiku. Hazrat (yg mulia) itu berkata, Demi Allah aku tidak akan menyentuhnya lagi.(Tabaqat volume 8, halaman 223).

Surah At-Tahriim (1-5):

[66.1]Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.  [66.2] Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. [66.3] Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafshah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafshah dan Aisyah) lalu Hafshah bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. [66.4] Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula. [66.5] Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.

Ibn Sa’d menulis:
Abu Bakar menceritakan bahwa sang Rasul (PBUH) telah melakukan hubungan seks dengan Mariyah dirumahnya Hafsa. Ketika rasul keluar rumah, Hafsa duduk di pintu depan (dibelakang pintu yang terkunci). Dia berkata pada rasul, O Rasul Allah, kau lakukan ini dirumahku dan ketika giliranku? Rasul berkata, kontrol dirimu dan biarkan aku pergi karena aku telah mengharamkannya utkku. Hafsa berkata, aku tidak terima, kecuali kau bersumpah untuk itu bagiku. Rasul berkata, Demi Allah aku tidak akan menyentuhnya (Mariyah) lagi.  Referensi: Ibn Sa’d, Tabaqat, Vol 8, hal. 195

JAWABAN:

Maka marilah kita membedah kasus ini dengan semua referensi  yang kita punyai, dan akan kita temui bahwa riwayat yang mereka tuduhkan (Kafir Kristen) adalah sangat condong kepada sanad yang sangat lemah. Berikut uraian lengkapnya:

Ayat l, yaitu firman Allah ta’ala,

“Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau ingin menyenangkan hati istridstrimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (at-Tahriim: 1)

Sebab turunnya ayat:

Imam al-Hakim dan an-Nasa’i meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Anas bahwa suatu hari Rasulullah menggauli seorang budak wanita miliknya. Aisyah dan Hafshah lantas terus-menerus memperbincangkan kejadian tersebut sampai akhimya Rasulullah menjadikan budaknya itu haram bagi diri beliau (tidak akan digauli lagi). Allah lalu menurunkan ayat  1.

Ayat 2, yaitu firman Allah ta’ala,

”Sungguh, Allah relah mewajibkan kepadamu membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (at-Tahriim: 2)

Sebab turunnya ayat

Dalam kitab al-Mukhtaarah, adh-Dhiyaa’ meriwayatkan sebuah riwayat dari Ibnu Umar dari Umar ibnul-Khathab yang berkata,

Rasulullah berkata kepada Hafshah, ‘Jangan beritahukan kepada siapa pun bahwa Ummu Ibrahim haram bagi saya untuk menyentuhnya kembali. ‘ Rasulullah kemudian memang tidak lagi menggaulinya hingga Hafshah membocorkan ucapan Rasulullah tersebut kepada Aisyah.

Allah lalu menurukan ayat,”Sungguh, Allah telah mewajibkan kepadamu menbebaskan diri dari sumpahmu;…”

Imam ath-Thabrani meriwayatkan dengan SANAD YANG LEMAH dari Abu Hurairah yang berkata, “Suatu ketika, Rasulullah menggauli Maria, seorang budak wanitanya, di rumah Hafshah.”Tiba-tiba Hafshah muncul dan mendapati Maria tengah bersama Rasulullah.

Hafshah lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, kenapa harus di rumah saya, tidak di rumah istri-istri engkau yang 1ain?’ Rasulullah lalu berkata, ‘Wahai Hafshah, mulai saat ini haram bagi saya untuk menyentuhya kembali. Rahasiakanlah ucapan saya ini dari siapa pun! Akan tetapi, ketika Hafshah keluar dan bertemu dengan Aisyah, ia lantas membocorkan nya.

Allah lalu menurunkan ayat 1, ’Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu?.. “‘

Al-Bazzar meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas yang berkata, ”Ayat 1, ’  ’Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu?   diturunkan berkenaan dengan budak wanita Rasulullah.

Imam ath-Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas yang berka ta, “Suatu ketika, Rasulullah meminum madu di rumah Saudah. Ketika beliau pergi ke rumah Aisyah, Aisyah berkata, ‘Saya mencium bau (yang kurang sedap) dari mulut engkau.’  Ucapan yang sama juga disampaikan Hafshah ketika Rasulullah pergi
ke rumahnya. Rasulullah lalu berkata,”Saya kira, bau tersebut berasal dari minuman yang saya minum di rumah Saudah. Demi Allah, saya tidak akan meminumnya lagi Setelah itu, turunlah ayat 1,  ’Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu?

Riwayat terakhir ini memiliki penguat, yaitu riwayat yang terdapat di Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Mengomentari hal tersebut, Ibnu Hajjar berkata, “Ada kemungkinan ayat ini turun berkenaan dengan kedua hal tersebut.” (Dikutip dari buku: Asbabun Nuzul; Sebab Turunnya Ayat Al-Quran,  Oleh Jalaluddin As- Suyuthi)

Dalam TAFSIR IBNU KATSIR juga dikatakan, bahwa  para ahli tafsir bersilang pendapat mengenai sebab turunnya ayat-ayat pertama dalam surah ini. Ada yang mengatakan bahwa ayat-ayat tersebut di turunkan berkenaan dengan Mariah, ibu Ibrahim, budak perempuan Rasulullah saw yang pernah beliau haramkan. Kemudian turunlah firman Allah SWT, “Hai Nabi, mengapa kamu mcngharamkan apa yang Allaah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istri kamu?” Diriwayatkan oleh an-Nasa`i dari Anas bin Malik r.a,

Rasulullah saw. mempunyai wanita sahaya yang beliau campuri, namun tidak hentinya Aisyah dan Hafshah memperbincangkannya sehingga Rasulullah akhirnya mengharamkannya. Maka di kala itulah turun ayat Allah, ‘Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istri kamu?’ Setelah itu, sampailah berita kepada kami bahwa Rasulullah saw telah menggugurkan sumpahnya itu dengan membayar kifarat dan kemabali mencampuri budak sahayanya. Zaid bin Aslam mengatakan, ‘Ucapan kamu menjadi haram bagiku termasuk sia-sia.'”

Al-Haitsam bin Ka’ab meriwayatkan dari Umar,

“Nabi saw. mengatakan kepada Hafshah, ‘Jangan kamu beritahukan kepada siapa pun bahwa ibu Ibrahim telah haram bagi diriku. ’ Hafshah bertanya, ‘Apakab engkau telah mengharamkan sesuatu yang telah dihalalkan oleb Allah?’Nabi saw. menjawab, Demi Allah, aku tidah akan mendekati nya lagi. ‘Maka beliau pun tidak mendekatinya sehingga aku memberitahukan hal itu kepada Aisyah. Kata Umar, ‘Lalu turunlah ayat Allah ‘Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu.‘”

Sanad hadits ini baik, namun TIDAK DIRIWAYATKAN oleh para penyusun kitab yang enam. Dan telah dipilih oleh al-Hatizh adh-Dhiya al-Maqdisi dalam kitabnya, al-Mustakhraj.

Telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Sa’id bin Jubair bahwa lbnu Abbas r.a. pernah mengatakan bahwa mengharamkan istri itu merupakan sumpah yang mcmpunyai kifarat. Ibnu Abbas r.a. mengatakan,

“Sungguh bagi kamu pada diri Rasulullah saw. terdapat teladan yang baik. ’ Yaitu, Rasulullah telah mengharamkan jariahnya, lalu Allah menurunkan ayat, ‘Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allab menghalalkannya bagimu…sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu. ’ Kemudian Rasulullah membatalkan sumpahnya dengan kifarat, maka pengharaman istri berubab menjadi sumpah. “(Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Bukhari dan Muslim dan an-Nasa`i.)

Sebagian pakar fiqih berpandangan tentang wajibnya kifarat bagi seseorang  yang telah mengharamkan jariah atau istrinya, atau apa saja yang termasuk hal-hal yang diperbolehkan, seperti minum, makan, dan berpakajan. Dan inilah yang menjadi mazhab Imam Ahmad dan beberapa ulama lainnya. Namun, Imam Syafi’i berpandangam bahwa tidak wajib melakukan kifarat untuk hal-hal yang tidak ada keterkaitan dengan istri dan jariah. Bila dia telah mengharamkan satu per satunya atau memutlakan pengharaman pada keduanya dalam ucapannya. Adapun bila pengharamannya itu dia niatkan umuk mencerai istrinya atau memerdekakan budaknya, maka ucapannya itu harus diberlakukan.

Namun, yang benar bahwa semua ayat ini turun berkenaan dengan pengharaman Nabi saw. terhadap madu. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari ketika menafsirkan ayat ini dari Aisyah,  

Nabi saw. ketika itu meminum madu di rumah Zainab binti Jahsy dan diam di sana. Kemudian aku bersepakat dengan Hafshah, bila beliau masuk ke rumah salah satu dari kita maka katakanlah kepadanya, ‘Engkau telah memakan maghafir. Aku mencium aroma maghafir pada diri Anda. ‘Setelah hal ini dikatakan kepada Rasulullah saw., beliau mengatakan, ‘Tidak, akan tetapi yang aku makan hanyalah madu di rumah Zainab binti Jahsy. ‘Rasulullah kemudian melanjutkan lagi, ‘Kalau begitu, aku tidak akan meminumnya lagi dan sesungguhnya aku telah bersumpah. Jangan kamu katakan kepada siapa-siapa.’ Lalu turun ayat ‘Kamu mencari kesenangan hati istri-istri kamu.‘”

Maghafir ialah sesuatu yang menyerupai getah, terdapat pada pohon rimits dan ada rasa manisnya. Diistilahkan aghfarar rimits, yaitu bila getahnya mulai tampak. bentuk tunggalnya maghfur, namun bisa dikatakan maghafir.  Demikianlah diterangkan oleh al-Jauhari. Rimits ialah makanan unta, rasanya masam.

Ada yang berpandangan bahwa kedua peristiwa di atas memang terjadi (yaitu peristiwa Mariah dan madu), dan pendapat ini tidak jauh dari kebenaran. Akan tetapi, bila dikatakan bahwa kedua peristiwa itulah yang melatarbelakangi turunnya ayat maka pandangan ini perlu dipertimbangkan lagi. Walaupun demikian, sesungguhnya Aisyah dan Hafshahlah dua orang wanita yang saling bantu dalam ‘menyusahkan’ Nabi saw. dalam ayat.

Di antara bukti yang mendukung pernyataan ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dari Ibnu Abbas r.a., dia mengatakan,

Aku bertanya kepada Amirul Mukminin—maksudnya adalah Umar–, ’Siapakah dua orang istri Nabi saw. sebagaimana dikatakan dalam firman Allah, ’Jika kamu berdua bertobat kepada Allah maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan)?’ Umar menjawab, ’Engkau sangat mengherankan hai Ibnu Abbas.’ Az-Zuhri mengatakan, ’Beliau tidak menyukainya. Demi Allah dia tidak menanyakannya namun tidak pula menyembunyikannya. ‘Dia mengatakan, ‘Dua orang wanita itu adalah Aisyah dan Hafshah.”’

Allah SWT berfirman, ”Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya suatu peristiwa. Maka tatkala dia menceritakan peristiwa itu dan Allah memberitahukan hal itu kepadanya lalu dia memberitahukan sebagian dan menyembunyikan sebagian yang lain. Maka tatkala dia memberitahukan pcmbicaraan itu lalu dia bcrtanya (kepada Nabi), ’Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu.’  Ia menjawab, “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengnal.’”  Yaitu, setelah Nabi saw mengatakan, ”Aku tidak akan mengulanginya lagi. Sungguh aku telah bersumpah. Maka jangan kamu beritahukan kepada siapa-siapa.” Hal ini dikatakan kepada Hafshah, namun dia memberitahukan juga hal itu kepada Aisyah. Demikianlah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam bab Talak.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Anas mengatakan Umar bin Khaththab berkata, ”’Telah sampai berita kepadaku tentang sesuatu yang terjadi antara ibu-ibu kaum beriman dengan Rasulullah saw., kemudian aku mendekati mereka dan mengatakan, ’Kamu dapat menahan diri dari Rasulullah saw. (untuk tidak menyusahkan beliau) atau Allah akan memberikan ganti kepada beliau dengan   yang lebih baik dari kalian.’ Sehingga aku minjumpai istri beliau yang terakhir, lalu mengatakan, ’Hai Umar. Rasulullah saw. sendiri tidak pernah minasihati istrinya seperti itu, namun kamu melakukannya. Aku pun terdiam sehingga turunlah ayat Allah, ’Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.’ Dan wanita yang protes terhadap nasihat Umar ini adalah Ummu Salamah, sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadits sahih. Dan semakin jelas pula dari pemaparan di atas tentang penafsiran ayat ini.

Tulisan selengkapnya bisa anda klik di sini Sosok Maria Al-Qibthiyah r.a

 

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Islam Menjawab dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s