Ahlak Mulia Rasulullah SAW


Firman Allah SWT dalam Alquran

68.4. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

Ayat di atas memuat pujian Allah SWT kepada Rasul pilihan-Nya Muhammad SAW. Bahwa memang tidak ada manusia yang lebih sempurna akhlaknya daripada beliau dan merupakan suatu anugerah dari Allah SWT yang telah memberi taufik kepadanya.

Tidak ada satu pun kebagusan dan kemuliaan melainkan didapatkan pada diri beliau dalam bentuk yang paling sempurna dan paling utama. Hal ini pun diakui oleh para sahabat yang menyertai hari-hari beliau sebagaimana dinyatakan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

“Adalah Rasulullah SAW manusia yang paling bagus akhlaknya.”

Bagaimana Anas tidak memberikan sanjungan yang demikian sementara ia telah berkhidmat pada beliau sejak usia sepuluh tahun dan terus menyertai beliau selama sembilan tahun. Dan tidak pernah sekalipun ia mendapat hardikan dan kata-kata kasar dari Nabi nan mulia ini.

“Aku berkhidmat kepada beliau ketika safar maupun tidak. Demi Allah terhadap suatu pekerjaan yang terlanjur aku lakukan, tidak pernah beliau berkata ‘Kenapa engkau lakukan hal tersebut demikian?’ Sebalik bila ada suatu pekerjaan yg belum aku lakukan tidak pernah beliau berkata ‘Mengapa engkau tdk lakukan demikian?’.”   Demikian pengakuan Anas radhiyallahu ‘anhu.

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika ditanya oleh Sa’d bin Hisyam bin Amir tentang akhlak Rasulullah SAW ia menjawab:

“Akhlak beliau adalah Al-Qur`an. Tidakkah engkau membaca firman Allah SWT ‘Sungguh engkau berbudi pekerti yang agung’?”

Bahwa gambaran apa saja yg diperintahkan Al-Qur`an pasti beliau lakukan. Dan apa saja yang dilarang Al-Qur`an beliau tinggalkan. Selain memang Allah SWT telah menciptakan beliau dengan sebaik-baik tabiat dan akhlak seperti rasa malu, dermawan, berani, penuh pemaaf, sangat sabar dan lain sebagai dari perangai-perangai yg baik.

Kebagusan akhlak ini tampak dari diri beliau ketika bergaul dengan istri sanak family sahabat masyarakat bahkan dengan musuhnya. Tidak heran masyarakat Quraisy yang paganis ketika itu memberi gelar pada beliau Al-Amin, yakni orang yang terpercaya, jujur, tidak pernah dusta, lagi amanah, sebagai bentuk pengakuan terhadap salah satu pekerti beliau yang mulia.

Ahlak Rasulullah SAW Bersama Istrinya

Keberadaan Rasulullah SAW sebagai pemimpin tiap hari tersibukkan dengan beragam persoalan umat, mengurusi dan membimbing mereka bukanlah menjadi alasan beliau untuk tidak meluangkan waktu membantu istri di rumah.

Bahkan didapati beliau adalah orang yang perhatian terhadap pekerjaan dalam rumah. Sebagaimana persaksian Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullah SAW ketika di rumah.

Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan: “Beliau biasa membantu istrinya. Bila datang waktu shalat beliau pun keluar untuk menunaikan shalat.”

Beliau ikut turun tangan meringankan pekerjaan yang ada,

“Beliau manusia sebagaimana manusia yang lain. Beliau membersihkan pakaian memerah susu kambing dan melayani diri sendiri.”

Sifat penuh pengertian kelembutan kesabaran dan mau memaklumi keadaan istri amat lekat pada diri Rasul. Aisyah radhiyallahu ‘anha berbagi cerita tentang kasih sayang dan pengertian beliau SAW:

“Rasulullah SAW masuk ke rumahku sementara di sisiku ada dua budak perempuan yang sedang berdendang dengan dendangan Bu’ats. Beliau berbaring di atas pembaringan dan membalikkan wajahnya. Saat itu masuklah Abu Bakr. Ia pun menghardikku dengan berkata ‘Apakah seruling setan dibiarkan di sisi Nabi SAW?’ Rasulullah SAW menghadap ke arah Abu Bakr seraya berkata ‘Biarkan keduanya’. Ketika Rasulullah telah tertidur aku memberi isyarat kepada kedua agar menyudahi dendangan dan keluar. Kedua pun keluar.”

“Termasuk akhlak Nabi SAW beliau sangat baik hubungan dengan para istri beliau. Wajahnya senantiasa berseri-seri suka bersenda gurau dan bercumbu rayu bersikap lembut terhadap mereka dan melapangkan mereka dalam hal nafkah serta tertawa bersama istri-istrinya.Sampai-sampai beliau pernah mengajak Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha berlomba lari utk menunjukkan cinta dan kasih sayang beliau terhadapnya.”

Ummul Mukminin Shafiyyah radhiyallahu ‘anha berkisah bahwa suatu malam ia pernah mengunjungi Rasulullah SAW saat sedang i’tikaf di masjid pada sepuluh hari yang akhir di bulan Ramadhan. Shafiyyah berbincang bersama beliau beberapa waktu. Setelah ia pamitan untuk kembali ke rumahnya. Rasulullah SAW pun bangkit untuk mengantarkan istrinya. Hingga ketika sampai di pintu masjid di sisi pintu rumah Ummu Salamah lewat dua orang dari kalangan Anshar kedua mengucapkan salam lalu berlalu dgn segera.

Melihat gelagat seperti itu Rasulullah SAW menegur kedua “Pelan-pelanlah kalian dalam berjalan tdk usah terburu-buru seperti itu karena tidak ada yang perlu kalian khawatirkan. Wanita yg bersamaku ini Shafiyyah bintu Huyai istriku.” Kedua menjawab “Subhanallah, wahai Rasulullah tidaklah kami berprasangka jelek padamu.” Beliau menanggapi “Sesungguhnya setan berjalan pada diri anak Adam seperti beredarnya darah dan aku khawatir ia melemparkan suatu prasangka di hati kalian.”

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah ditanya: “Apakah yang dilakukan Rasulullah SAW di dalam rumah?” Ia radhiyallahu ‘anha menjawab: “Beliau SAW adalah seorang manusia biasa. Beliau menambal pakaian sendiri, memerah susu dan melayani diri beliau sendiri.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Dari rumah beliau yang penuh berkah itulah memancar cahaya Islam, sedangkan beliau sendiri tidak mendapatkan makanan yang dapat mengganjal perut beliau. An-Nu’man bin Basyir menuturkan kepada kita keadaan Rasulullah SAW:

”Aku telah menyaksikan sendiri keadaan Rasulullah SAW, sampai-sampai beliau tidak mendapatkan kurma yang jelek sekalipun untuk mengganjal perut.” (HR. Muslim)

Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan:

“Kami, keluarga Muhammad, tidak pernah menya-lakan tungku masak selama sebulan penuh, makanan kami hanyalah kurma dan air.” (HR. Al-Bukhari)

Tidak ada satu perkara pun yang melalaikan Rasulullah SAW dari beribadah dan berbuat ketaatan. Apabila sang muadzin telah mengumandangkan azan; “Marilah tegakkan shalat! Marilah menggapai kemenangan!” beliau segera menyambut seruan tersebut dan meninggalkan segala aktifitas duniawi.

Diriwayatkan dari Al-Aswad bin Yazid ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: ‘Apakah yang biasa dilakukan Rasulullah SAW di rumah?’ ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab: “Beliau biasa membantu keluarga, apabila mendengar seruan azan, beliau segera keluar (untuk menunaikan shalat).” (HR. Muslim)

Tidak satupun riwayat yang menyebutkan bahwa beliau mengerjakan shalat fardhu di rumah, kecuali ketika sedang sakit. Beliau SAW pernah terserang demam yang sangat parah. Sehingga sulit baginya untuk keluar rumah, yakni sakit yang mengantar beliau menemui Allah SAW.

Tawadhu’ Rasulullah SAW di hadapan istri-istri beliau

Rasulullah SAW bersikap tawadhu’ (rendah diri) dihadapan istri-istrinya, sampai-sampai beliau membantu istri-istrinya dalam menjalankan pekerjaan rumah tangga –meskipun ditengah kesibukan beliau menunaikan kewajiban beliau untuk menyampaikan risalah Allah atau kesibukan mengatur kaum muslimin-.

Aisyah berkata, “Rasulullah SAW dalam kesibukan membantu istrinya, dan jika tiba waktu sholat maka beliaupun pergi sholat”. (HR Al-Bukhari V/2245 no 5692)

Imam Al-Bukhari membawakan perkataan Aisyah ini dalam dua bab yaitu “Bab tentang bagaimanakah seorang (suami) di keluarganya (istrinya)?” dan “Bab seseorang membantu istrinya”

Urwah berkata kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan oleh Rasulullah SAW jika ia bersamamu (di rumahmu)?”, Aisyah berkata, “Ia melakukan (seperti) apa yang dilakukan oleh salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya, ia memperbaiki sendalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air di ember”. (HR Ibnu Hibban (Al-Ihsan XII/490 no 5676, XIV/351 no 6440),)

Dalam buku Syama’il karya At-Thirmidzi, “Dan memerah susu kambingnya…” (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di As-Shahihah 671)

Berkata Ibnu Hajar, “Hadits ini menganjurkan untuk bersikap rendah diri dan meninggalkan kesombongan serta seorang suami yang membantu istrinya”. (Fathul Bari II/163)

Hal ini tidak sebagaimana yang kita lihat pada sebagian suami yang merasa terhina jika melakukan hal-hal seperti ini, merasa rendah jika membantu istrinya mencuci, meneyelesaikan beberapa urusan rumah tangga…, apalagi jika mereka adalah para suami berjas (alias kantoran). Maka seakan-akan pekerjaan seperti ini tidak pantas mereka kerjakan. Atau mereka merasa ini hanyalah tugas ibu-ibu dan para suami tidak pantas dan tidak layak untuk melakukannya.

Berikut ini beberapa kisah yang menunjukan tawadu’nya Rasulullah SAW dihadapan istri-istrinya

Dari Anas bin Malik berkata, “Suatu saat Nabi SAW di tempat salah seorang istrinya maka salah seorang istri beliau (yang lain) mengirim sepiring makanan. Maka istri beliau yang beliau sedang dirumahnyapun memukul tangan pembantu sehingga jatuhlah piring dan pecah (sehingga makanan berhamburan). Lalu Nabi SAW mengumpulkan pecahan piring tersebut dan mengumpulkan makanan yang tadinya di piring, beliau berkata, “Ibu kalian cemburu….” (HR Al-Bukhari V/2003 no 4927)

AKHLAK RASULULLAH SAW, “MENOLAK KEJAHATAN DENGAN KEBAIKAN….”

Rasulullah SAW adalah sosok pribadi yang dalam prilaku kesehariannya selalu mencerminkan akhlakul karimah.

Berikut ini adalah realitas kehidupan Rasulullah yang dapat menjadi renungan kita semua dan dapat kita jadikan sebagai suri tauladan ……

“ Tatkala seorang pandir Quraisy mencegat rasulullah di tengah jalan, lalu menyiramkan tanah di atas kepala beliau. Muhammad SAW  diam menahan pedih. kemudian pulang ke rumah dengan tanah yang masih menempel di kepala. Fatimah, putrinya, kemudian datang mencucikan tanah di kepala ayahnya itu. Ia membersihkannya sambil menangis. Tak ada yang lebih pilu rasanya dalam hati seorang ayah daripada mendengar tangis sang anak. Lebih-lebih anak perempuan.

Setitik air mata kepedihan yang mengalir dari kelopak mata seorang putri adalah sepercik api yang membakar jantung. Beliau pun tak kuasa menahan getir, lalu menangis tersedu-sedu di sisi sang putri. Juga, secercah duka yang menyelinap ke dalam hati adalah rintihan jiwa yang terasa mencekik leher, dan hampir pula menyuluti emosinya untuk membalas. Tetapi Rasul Muhammad adalah seorang yang sabar dan pemaaf. lalu, apakah yang beliau lakukan dengan tangis putrinya yang baru saja kehilangan sang ibu tercinta itu?

Rasulullah Muhammad SAW hanya bisa menghadapkan jiwanya kepada Allah, seraya memohon dikuatkan batinnya untuk menerima perlakuan keji itu. “Jangan menangis anakku” ucap sang ayah kepada putrinya yang sedang berlinang air mata itu. “Tuhan akan melindungi ayahmu.”

Inilah akhlak cantik yang telah diperlihatkan oleh Rasul kepada kita semua, “menolak kejahatan dengan kebaikan “ meskipun ajaran agama memberikan kesempatan pada rasul yang telah diperlakukan secara tidak manusiawi (dzalim) untuk mengadakan perlawanan demi membela diri, bahkan, apabila mau bisa membalas . namun rasulullah memilih sabar dan memaafkan perbuatan keji tersebut.

Sungguh, membalas kejahatan dengan kejahatan yang sama, tidak dikenakan sanksi dosa, karena dosa itu hanya berlaku bagi orang-orang yang berbuat aniaya (dzalim) tanpa berpijak pada logika kebenaran, namun agama lebih mengutamakan sikap sabar dan saling memaafkan ketimbang sikap saling membalas dan saling memusuhi.Kejahatan hendak dibalas dengan kejahatan, tentulah bukan sebuah pilihan yang baik bagi responsibiliti moral sebuah agama.

“ Dan, kalau kamu hendak melakukan pembalasan, balaslah seperti yang mereka lakukan kepadamu. Tetapi, kalau kamu bersabar, maka kesabaranmu itu lebih baik bagimu. Dan hendaklah kamu tabahkan hatimu, karena berpegang kepada pertolongan Allah. Janganlah kamu bersedih hati terhadap perbuatan mereka. Jangan pula engkau bersesak dada terhadap apa yang mereka rencanakan.” (QS. Al-Nahl: 126-127).

Rasulullah SAW benci kepada orang yang berdiri menghormatinya

Dari Anas bin Malik t berkata :

“Tak seorangpun yang mereka cintai lebih dari cinta kepada Rasulullah SAW tapi jika mereka melihat Rasululloh tidak berdiri menghormati beliau karena mereka tahu bahwa beliau benci kepada hal yang yang serupa.” (HR. Ahmad dan Turmudzi).

Sejarah tak akan mampu mengingkari betapa indahnya akhlak dan budi pekerti Rasulullah tercinta, Sayyidina Muhammad SAW hingga salah seorang isteri beliau, Sayyidatina A’isyah Rodhiyallahuanha mengatakan bahawa akhlak Rasulullah adalah “Al-Qur’an”.

Tidak satu perkataan Rasulullah merupakan implementasi dari hawa nafsu beliau, melainkan adalah berasal dari wahyu ilahi. Begitu halus dan lembutnya perilaku seharian beliau. Rasulullah SAW adalah sosok yang mandiri dengan sifat tawadhu’ yang tiada tandingnya.

Beliau pernah menjahit sendiri pakaiannya yang koyak tanpa harus menyuruh isterinya. Dalam berkeluarga, beliau adalah seorang yang ringan tangan dan tidak segan-segan untuk membantu pekerjaan istrinya di dapur.

Selain itu dikisahkan bahwa beliau tiada merasa canggung makan disamping seorang tua yang penuh kudis, kotor lagi miskin. Beliau adalah seorang yang paling sabar dimana ketika itu pernah kain beliau ditarik oleh seorang badui hingga membekas merah dilehernya, namun beliau hanya diam dan tidak marah.

Dalam satu riwayat dikisahkan bahwa ketika beliau mengimami shalat berjemaah, para sahabat mendapati seolah-olah setiap kali beliau berpindah rukun terasa susah sekali dan terdengar bunyi yang aneh. Selepas shalat, salah seorang sahabat, Sayyidina Umar bin Khatthab bertanya,

“Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah baginda menanggung penderitaan yang amat berat. Sedang sakitkah engkau ya Rasulullah? “Tidak ya Umar. Alhamdulillah aku sehat dan segar.” Jawab Rasulullah. “Ya Rasulullah, mengapa setiap kali Baginda menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi-sendi tubuh baginda saling bergesekkan? Kami yakin baginda sedang sakit”. Desak Sayyidina Umar penuh cemas.

Akhirnya, Rasulullah pun mengangkat jubahnya. Para sahabatpun terkejut ketika mendapati perut Rasulullah SAW yang kempis tengah di lilit oleh sehelai kain yang berisi batu kerikil sebagai penahan rasa lapar.

Ternyata, batu-batu kerikil itulah yang menimbulkan bunyi aneh setiap kali tubuh Rasulullah SAW bergerak.

Para sahabatpun berkata, “Ya Rasulullah, adakah bila baginda menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan mendapatkannya untuk tuan?”. Baginda Rasulullah pun menjawab dengan lembut, “Tidak para sahabatku. Aku tahu, apapun akan kalian korbankan demi Rasulmu. Tetapi, apa jawabanku nanti dihadapan Allah, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban bagi umatnya? Biarlah rasa lapar ini sebagai hadiah dari Allah buatku, agar kelak umatku tak ada yang kelaparan di dunia ini, lebih-lebih di akhirat nanti.

SIFAT DAN AKHLAK RASULULLAH S.A.W / CIRI-CIRI FISIK

Diriwayatkan oleh Ya’kub bin al-Fasawy dari Hassan bin Ali r.a, dia berkata, “Pernah aku tanyakan kepada bapa saudaraku yang bernama Hindun bin Abi Haala kerana dia adalah seorang yang pandai sekali dalam menyifatkan tentang peribadi Rasulullah SAW, dan aku sangat senang sekali mendengarkan sifat Rasulullah SAW untuk aku jadikan bahan ingatan.

Maka katanya, “Rasulullah SAW adalah agung dan diagungkan, wajahnya berkilauan
bagaikan bulan purnama, tingginya cukup (tidak pendek dan tidak jangkung), dadanya lebar (bidang), rambutnya selalu rapi dan terbelah di tengahnya, rambutnya panjang sampai pada hujung telinganya, dan berambut banyak, mukanya bergabung menjadi satu, di antara kedua alisnya ada urat yang dapat dilihat pada waktu Baginda sedang marah, hidungnya membungkuk di tengahnya dan kecil lubangnya, nampak sekali padanya cahaya, sehingga orang yang memperhatikannya mengira hidung Baginda itu tinggi (mancung).

Janggutnya (jambang) lebat, bola matanya sangat hitam sekali, kedua pipinya lembut (halus), mulutnya tebal, giginya putih bersih dan jarang, pada dadanya tumbuh bulu halus, lehernya indah seperti berkilauan saja, bentuknya sedang, agak gemuk dan gesit (lincah), antara perut dan dadanya sama (tegak), dadanya lebar, di antara dua bahunya melebar, tulangnya besar, kulitnya bersih, antara dada sampai ke pusarnya ditumbuhi bulu halus seperti garis, pada kedua teteknya dan pada perutnya tidak ada bulu, sedangkan pada kedua hastanya dan kedua bahunya dan pada dadanya ditumbuhi bulu, lengannya panjang, telapaknya lebar, halus tulangnya, jari telapak kedua tangan dan kakinya tebal berisi daging, panjang hujung jarinya, rongga telapak kakinya tidak terkena tanah apabila Baginda sedang berjalan, kedua telapak kakinya lembut (licin) tidak ada lipatan dan kerutan.

Apabila berjalan derapan kakinya itu terangkat tinggi seolah-olah air yang sedang jatuh (jalannya ringan, kakinya terangkat, tetapi tidak seperti jalannya orang yang sombong), jalannya tunduk dan menunjukkan kehebatan, apabila berjalan, maka jalannya agak cepat bagaikan dia turun dari tempat yang tinggi, apabila menoleh, Baginda menolehkan seluruh badannya, matanya selalu tertunduk ke bawah, dan pandangannya sentiasa memperhatikan sesuatu dengan bersungguh-sungguh, selalu berjalan dengan para sahabatnya, dan selalu memulai dengan salam apabila Baginda berjumpa dengan
sesiapa pun.”

KEBIASAAN RASULULLAH SAW

Kataku selanjutnya, “Terangkanlah kepadaku tentang kebiasaannya.” Maka katanya,

“Keadaan pribadi Rasulullah SAW itu biasanya tampak selalu kelihatan seolah-olah selalu berfikir, tidak pernah mengecap istirahat walau sedikit pun, tidak berbicara kecuali hanya  apabila perlu, senantiasa diam, selalu memulai berbicara dan menutupnya dengan sepenuh mulutnya (jelas), apabila sedang berbicara Baginda selalu memakai kalimat-kalimat yang banyak artinya (bijaksana), pembicaraannya itu jelas tanpa berlebihan ataupun kurang, lemah lembut budi pekertinya, tidak kasar, tetapi bukannya rendah, selalu mengagungkan nikmat Allah SAWWT walaupun yang sekecil-kecilnya dan tidak pernah mencela-Nya sedikit pun.

RASULULLAH SAW APABILA DI LUAR

Kata Hassan selanjutnya, “Kemudian aku tanyakan kepada ayahku bagaimanakah keadaan Rasulullah SAW apabila berada di luar.

Maka jawabnya, “Rasulullah SAW sentiasa menjaga lidahnya kecuali hanya untuk berbicara seperlunya, apabila berbicara senantiasa berbicara dengan halus (lemah-lembut) dan tidak pernah berbicara dengan kasar terhadap mereka, dan senantiasa memuliakan terhadap orang yang terpandang (berkedudukan) dan memperingatkan orang jangan sampai ada yang bertindak menyinggung perasaannya dan perbuatannya. Kebiasaan Baginda selalu menanyakan keadaan sahabat-sahabatnya, dan Baginda selalu memuji segala sesuatu yang baik dan membenci segala sesuatu yang buruk.

Segala urusannya itu dibuatnya sebaik mungkin. Tidak pernah Baginda lalai atau malas, demi menjaga jangan sampai mereka melalaikan dan meremehkan. Segala sesuatu dipersiapkannya terlebih dahulu, dan tidak pernah akan meremehkan (mengecilkan) kebenaran. Orang yang paling terpandang menurut Rasulullah SAW ialah mereka yang paling baik kelakuannya, orang yang paling mulia ialah mereka yang paling banyak bernasihat (memberikan petunjuk) kepada orang lain, dan orang yang paling tinggi sekali kedudukannya ialah orang yang selalu ramah-tamah dan yang paling banyak menolong orang lain.”.

Kata Hasan, “Kemudian aku tanyakan tentang duduknya Rasulullah SAW.

Jawabnya,
“Kebiasaan Rasulullah SAW tidak pernah duduk ataupun berdiri melainkan dengan berzikir, tidak pernah menguasai tempat duduk dan Baginda melarang seseorang untuk menguasai tempat duduk, dan apabila Baginda sampai pada tempat orang yang sedang berkumpul maka Baginda duduk di mana ada tempat terluang (tidak pernah mengusir orang lain dari tempat duduknya) dan Baginda juga menyuruh berbuat seperti itu.

Baginda selalu memberikan kepuasan bagi sesiapa saja yang duduk bersama Baginda, sehingga jangan sampai ada orang yang merasa bahawa orang lain dimuliakan oleh Baginda lebih daripadanya. Apabila ada yang duduk di majlisnya, Baginda selalu bersabar sampai orang itu yang akan bangkit terlebih dahulu (tidak pernah mengusir teman duduknya).

Dan apabila ada yang meminta pada Baginda sesuatu hajat maka Baginda selalu memenuhi permintaan orang itu, atau apabila tidak dapat memenuhinya Baginda selalu berkata kepada orang itu dengan perkataan yang baik. Semua orang selalu puas dengan budi pekerti Baginda sehingga mereka selalu dianggap sebagai anak Baginda dalam kebenaran dengan tidak ada perbezaan sekikit pun di antara mereka dalam pandangan Baginda.

Kemudian majlis Baginda itu adalah tempatnya orang yang ramah-tamah, malu, orang sabar dan menjaga amanah, tidak pernah di majlisnya itu ada yang mengeraskan suaranya, di majlisnya itu tidak akan ada yang mencela seseorang jelek dan tidak akan ada yang menyiarkan kejahatan orang lain. Di majlisnya itu mereka selalu sama rata, yang dilebihkan hanya ketakwaan saja, mereka saling berlaku rendah diri (bertawadhu’) sesama mereka, yang tua selalu dihormati dan yang muda selalu disayangi, sedangkan orang yang punya hajat lebih diutamakan (didahulukan) dan orang-orang asing (ghorib) selalu dimuliakan dan dijaga perasaannya.”

RASULULLAH SAW DI TENGAH PARA SAHABAT

Kata Hassan, “Maka aku tanyakan tentang keadaannya apabila Baginda sedang berada di tengah-tengah para sahabatnya.

Jawabnya, “Rasulullah SAW sentiasa periang (gembira), budi pekertinya baik, sentiasa ramah-tamah, tidak kasar maupun bengis terhadap seseorang, tidak suka berteriak-teriak, tidak suka perbuatan yang keji, tidak suka mencaci, dan tidak suka bergurau (olok-olokan), selalu melupakan apa yang tidak disukainya, dan tidak pernah menolak permintaan seseorang yang meminta.

Beliau meninggalkan tiga macam perbuatan :
Beliau tidak mau mencela seseorang atau menjelekkannya, dan tidak pernah mencari-cari kesalahan seseorang, dan tidak akan berbicara kecuali yang baik saja (yang bermanfaat).

Namun apabila Baginda sedang berbicara maka pembicaraannya itu akan membuat orang
yang ada di sisinya menjadi tunduk, seolah-olah di atas kepala mereka itu ada burung yang hinggap. Apabila Baginda sedang berbicara maka yang lain diam mendengarkan, namun apabila diam maka yang lain berbicara, tidak ada yang berani di majlisnya untuk memutuskan pembicaraan Beliau.

Beliau sentiasa ikut tersenyum apabila sahabatnya tersenyum (tertawa), dan ikut juga takjub (hairan) apabila mereka itu merasa takjub pada sesuatu, dan Baginda sentiasa bersabar apabila menghadapi seorang baru (asing) yang atau dalam permintaannya sebagaimana sering terjadi.

Beliau bersabda, “Apabila kamu melihat ada orang yang berhajat maka tolonglah orang itu, dan Baginda tidak mahu menerima pujian orang lain kecuali dengan sepantasnya, dan Baginda tidak pernah memotong pembicaraan orang lain sampai orang itu sendiri yang berhenti dan berdiri meninggalkannya.”

RASULULLAH SAW APABILA DIAM

Kata Hassan, “Selanjutnya aku tanyakan padanya bagaimanakah peribadi Rasulullah SAW apabila Baginda diam.

Jawabnya,

“Diamnya Rassulullah SAW terbagi dalam empat keadaan : diam karena berlaku santun, diam karenaa selalu berhati-hati, diam untuk mempertimbangkan sesuatu dan diam karena sedang berfikir.

Adapun pertimbangannya berlaku untuk mempertimbangkan pendapat orang lain serta mendengarkan pembicaraan orang lain, sedangkan pemikirannya selalu tertuju pada segala sesuatu yang akan kekal dan sesuatu yang akan lenyap.

Pribadi Rasulullah sAW sentiasa berlaku santun dan sabar dan Baginda tidak pernah membuat kemarahan seseorang dan tidak pernah membuat seseorang membencinya, dan Baginda sentiasa berlaku hati-hati dalam segala perkara; selalu suka pada kebaikan, dan berbuat sekuat tenaga untuk kepentingan dan demi kebaikan mereka itu baik di dunia mahupun kelak di akhirat.”

Rasulullah SAW adalah suri teladan kita. Beliau dijuluki sebagai The Living Quran (Alquran hidup). Dan ini diperkuat oleh pernyataan Aisyah RA, ”Akhlak beliau (Rasulullah) adalah Alquran.” (HR Abu Dawud dan Muslim).

Sejak kecil Nabi Muhammad SAW hidup dalam kemiskinan dan kesederhanaan. Rumah beliau di samping sebelah timur Masjid Nabawi, sangat kecil. Atapnya rendah terbuat dari rumbia kurma yang bisa disentuh tangan karena pendeknya.

Di dalam rumah beliau nyaris tak ada perabot. Yang tampak hanya tempat minum beliau yang terbuat dari kayu keras yang dipatri dengan besi dan sebuah baju besi yang biasa dipakai beliau ketika berperang. Baju besi inipun konon menjelang Nabi SAW wafat digadaikan kepada seorang Yahudi. Tempat tidur beliau selembar tikar dari anyaman pelepah kurma.

Pernah seorang sahabat menawarkan tempat tidur yang lebih layak bagi seorang Rasul Allah. Namun, beliau menjawab, ”Apalah artinya dunia bagiku … bukankah engkau rela mereka memperoleh dunia sedangkan kita memperoleh akhirat?” Begitulah gambaran kesederhanaan beliau yang tidak butuh dunia dan tidak silau dengan gemerlapnya harta.

Rasulullah SAW juga sangat rendah hati. Walau seorang pemimpin agung, beliau tidak mau disanjung dan dihormati serta dielu-elukan. Anas bin Malik RA berkata, ”Para sahabat yang mau berdiri menyambut kehadiran Rasulullah, tidak jadi berdiri, ketika tahu bahwa Rasulullah tidak mau dihormati seperti itu.” (HR Ahmad).

Walau beliau sibuk dengan pekerjaannya, tapi jika mendengar azan, beliau segera ke masjid. Belum pernah Rasulullah shalat di rumah kecuali shalat sunah. Sifat Rasulullah yang lain ialah mudah berkomunikasi dengan siapa pun, berlaku sopan, lemah lembut, sabar, tidak pernah marah walau disakiti, namun wajah beliau akan berubah merah padam bila melihat kemungkaran atau hak-hak Allah diinjak-injak dan dihina.

Sehingga, tidaklah berlebihan kalau Allah sendiri memujinya, ”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al Ahzab [33]: 21).

AKHLAK RASULULLAH DIUNDANG MAKAN SEORANG BUDAK

Dan Rasulullah SAW tidak pernah mau mengecewakan orang lain, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa seorang wanita ( Barirah RA) seorang budak wanita miskin dari Afrika, ia mengundang Rasul SAW karena diberi makanan oleh salah seorang sahabat makanan yang sangat enak, maka ia tidak berani memakannya karena sudah lama ingin mengundang Rasul SAW tapi malu tidak punya apa-apa.

Maka ketika datang makanan enak sebelum ia ingin mencicipinya, seumur hidup dia belum mencicipinya dia teringat kepada Rasul SAW, aku ingin Rasul datang mumpung ada makanan yang enak padahal seumur hidup dia belum mencicipi makanan itu.

Barirah yang susah ini pun datang mengundang Rasul SAW ke rumahnya, maka Rasul SAW datang bersama para sahabat untuk menyenangkan Barirah RA seorang budak wanita yang miskin, Rasul saw tidak ingin mengecewakan orang lain maka datang Sang Nabi bersama para sahabat, para sahabat melihat makanan yang sangat enak dan mahal tidak mungkin Barirah membelinya sendiri, maka berkata para sahabat :

Yaa Rasulallah barangkali ini adalah makanan zakat, sedangkan engkau tidak boleh memakan zakat dan shadaqah , kalau bukan makanan zakat ya makanan shadaqah, tentunya kau tidak boleh memakannya”…

Berubahlah hati Barirah dalam kekecewaan, hancur hatinya dengan ucapan itu walau ucapan itu benar Rasul SAW tidak boleh memakan shadaqah dan zakat, namun ia tidak teringat akan hal itu karena memang ia di sedekahi makanan ini, hancur perasaan Barirah RA dan bingung juga risau dan takut serta kecewa dan bingung karena sudah mengundang Rasul SAW untuk makan makanan yang diharamkan pada Rasulullah SAW.

Namun bagaimana manusia yang paling indah budi pekertinya dan bijaksana, maka Rasul SAW berkata : “ Makanan ini betul shadaqah untuk Barirah dan sudah menjadi milik Barirah, Barirah menghadiahkan kepadaku maka aku boleh memakannya “, dan Rasul SAW pun memakannya.

Demikianlah jiwa yang paling indah tidak ingin mengecewakan para fuqara’, itu makanan sedekah betul untuk Barirah tapi sudah menjadi milik Barirah dan Barirah tidak menyedekahkannya padaku ( Rasulullah SAW ) tapi menghadiahkannya kepadaku demikian indahnya Sayyidina Muhammad SAW,

Dalam suatu peperangan

Seorang musuh ( Da’thur ) dapat menghampiri Rasulullah yang sedang beristirahat. Dengan pedang terhunus musuh berkata, “Siapa lagi yang dapat menyelamatkan engkau?”

Dengan tenang Rasulullah menjawab, “ALLAH!”

Tiba-tiba pedang terlepas dari tangannya, sebagai satu mukjizat ALLAH pada Rasulullah. Maka Rasulullah pun mengambil pedang itu dan mengangkatnya ke hadapan musuh dan bertanya,

“Siapa pula yang dapat menyelamatkan kamu sekarang?”
“Tiada siapa-siapa lagi” jawabnya.
Lantas nabi pun memaafkannya. Sehingga karena itu orang tersebut berkata pada kawan-kawannya,  “Aku baru kembali dari berjumpa sebaik-baik manusia.”

Jika dinilai bahwa Rasulullah s.a.w. adalah sempurna di dalam kedua bentuk sifat akhlak melalui pembuktian di atas, maka melalui itu dibuktikan juga keluhuran akhlak para Nabi-nabi lainnya dan dengan demikian telah meneguhkan Kenabian mereka, kitab-kitab yang mereka bawa serta kenyataan bahwa mereka semua adalah kekasih Allah SWT.

Rasulullah dan Pengemis Buta

Di sebuah sudut Kota Madinah, selalu mangkal seorang pengemis Yahudi buta. Setiap orang yang mendekati, ia selalu berkata, “Wahai Saudaraku, jangan engkau dekati Muhammad yang mengaku sebagai Rasul itu. Dia gila, pembohong, dan tukang sihir. Jika kamu mendekatinya, dia akan memengaruhimu.”

Walau begitu busuk hati dan perbuatan pengemis itu, setiap pagi Rasulullah selalu membawakan makanan untuknya. Tanpa berkata, beliau menyuapi pengemis itu. Rasulullah melakukan hal ini hingga wafat.

Ketika Abu Bakar berkunjung ke rumah Aisyah, beliau bertanya, “Wahai anakku, adakah sunah Rasulullah yang belum aku kerjakan?” Aisyah menjawab, “Wahai ayah, engkau ahli sunah, hampir tidak ada sunah yang belum ayah lakukan, kecuali setiap pagi Rasulullah pergi ke ujung pasar dengan membawa makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana.”

Keesokan harinya Abu Bakar pergi ke sudut pasar dengan membawa makanan. Abu Bakar memberikan makanan kepada sang pengemis. Ketika mulai menyuapi, pengemis marah sambil berteriak, “Siapa kamu?” Abu Bakar menjawab, “Aku orang yang biasa.” Pengemis membantah, “ Engkau bukan orang yang biasa datang. Apabila orang itu datang, tanganku tidak susah memegang dan mulutku tidak akan susah mengunyah. Orang itu selalu menghaluskan makanan terlebih dahulu sebelum menyuapkannya kepadaku.”
Abu Bakar tidak dapat menahan air matanya. Ia menangis sambil berkata jujur, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku sahabatnya. Orang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.” Setelah pengemis Yahudi itu mendengar cerita Abu Bakar, ia menangis dan berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, tapi ia tidak pernah memarahiku sedikit pun. Ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi. Ia begitu mulia.” Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya masuk Islam dan bersyahadat di hadapan Abu Bakar.

Itulah salah satu bentuk keagungan seorang Muhammad. Kebaikannya dan ketinggian akhlaknya tidak terbendung oleh kebencian dan cercaan. Bahkan, beda keyakinan yang notabene merupakan hal yang paling esensial, menjadi lebur di hadapan keluhuran hatinya. Ini sebuah cermin dan teladan yang sangat dibutuhkan ketika saling pengertian, toleransi, dan objektivitas menjadi barang mahal.

AKHLAK RASULULLAH TERHADAP ANAK YATIM

Fajar 1 Syawal menyingsing, menandai berakhirnya bulan penuh kemuliaan. Senyum kemenangan terukir di wajah-wajah perindu Ramadhan, sambil berharap kembali meniti Ramadhan di tahun depan. Satu persatu kaki-kaki melangkah menuju tanah lapang, menyeru nama Allah lewat takbir, hingga langit pun bersaksi, di hari itu segenap mata tak kuasa membendung airmata keharuan saat berlebaran. Sementara itu, langkah sepasang kaki terhenti oleh sesegukan gadis kecil di tepi jalan.

“Gerangan apakah yang membuat engkau menangis anakku?” lembut menyapa suara itu menahan beberapa detik segukan sang gadis.

Tak menoleh gadis kecil itu ke arah suara yang menyapanya, matanya masih menerawang tak menentu seperti mencari sesosok yang amat ia rindui kehadirannya di hari bahagia itu. Ternyata, ia menangis lantaran tak memiliki baju yang bagus untuk merayakan hari kemenangan.

“Ayahku mati syahid dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah,” tutur gadis kecil itu menjawab tanya lelaki di hadapannya tentang Ayahnya.

Seketika, lelaki itu mendekap gadis kecil itu. “Maukah engkau, seandainya Aisyah menjadi ibumu, Muhammad Ayahmu, Fatimah bibimu, Ali sebagai pamanmu, dan Hasan serta Husain menjadi saudaramu?” Sadarlah gadis itu bahwa lelaki yang sejak tadi berdiri di hadapannya tak lain Muhammad Rasulullah SAW, Nabi anak yatim yang senantiasa memuliakan anak yatim. Siapakah yang tak ingin berayahkan lelaki paling mulia, dan beribu seorang Ummul Mukminin?

Begitulah lelaki agung itu membuat seorang gadis kecil yang bersedih di hari raya kembali tersenyum. Barangkali, itu senyum terindah yang pernah tercipta dari seorang anak yatim, yang diukir oleh Nabi anak yatim. Rasulullah membawa serta gadis itu ke rumahnya untuk diberikan pakaian bagus, terbasuhlah sudah airmata. Lelaki agung itu, shalawat dan salam baginya.

Sumamah adalah tokoh Hunaifiyah yang banyak membunuh para pemeluk agama Islam. Namun pada akhirnya, ia tertangkap dan menjadi tawanan pihak muslim. Tawanan itu pun diajukan ke hadapan Rasulullah. Segera setelah melihat Sumamah, beliau memerintahkan para sahabat di sekelilingnya agar memperlakukannya dengan baik. Sumamah sangat rakus bila makan, bahkan bisa melahap jatah makanan sepuluh orang sekaligus tanpa merasa bersalah.

Setiap kali bertemu Nabi ia selalu mengatakan, “Muhammad! Aku telah membunuh orang-orangmu. Jika kamu ingin membalas dendam, bunuh saja aku! Namun jika kamu menginginkan tebusan, aku siap membayar sebanyak yang kamu inginkan.”

Rasulullah hanya mendengarkan ucapannya dan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Beberapa hari kemudian Rasulullah membebaskan Sumamah pergi. Setelah melangkah beberapa jauh, Sumamah berhenti di bawah sebuah pohon. Ia selalu berpikir, berpikir, dan berpikir. Kemudian ia duduk di atas pasir dan masih tetap tidak habis pikir. Setelah beberapa lama ia bangkit, lalu mandi, dan mengambil air wudlu, kemudian kembali menuju rumah Rasulullah. Dalam perjalanan menuju rumah Rasulullah ia menyatakan masuk Islam.

Sumamah menghabiskan beberapa hari bersama Rasulullah dan kemudian pergi ke Mekah untuk mengunjungi Ka’bah. Sesampainya di sana, Sumamah menyatakan dengan suara lantang, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.”

Saat itu Mekah masih berada di bawah kekuasaan Quraisy. Orang-orang menghampirinya dan mengepung. Pedang sudah terayun-ayun mengintai kepala dan lehernya. Salah seorang dari kerumunan itu berkata, “Jangan bunuh dia! Jangan bunuh dia! Dia adalah penduduk Imamah. Tanpa suplai makanan dari Imamah kita tidak akan hidup.”

Sumamah menimpali, “Tetapi itu saja tidak cukup! Kalian telah sering menyiksa Muhammad. Pergilah kalian menemuinya dan minta maaflah pada beliau dan berdamailah dengannya! Kalau tidak, maka aku tidak akan mengizinkan satu biji gandum pun dari Imamah masuk ke Mekah.”

Sumamah kembali ke kampung halamannya dan ia benar-benar menghentikan suplai gandum ke Mekah. Bahaya kelaparan mengancam peduduk Mekah. Para penduduk Mekah mengajukan permohonan kepada Rasulullah, “Wahai Muhammad! Engkau memerintahkan agar berbuat baik kepada kerabat dan tetangga. Kami adalah kerabat saudaramu, akankah engkau membiarkan kami mati kelaparan dengan cara seperti ini?”

Seketika itu pula Rasulullah menulis surat kepada Sumamah, memintanya untuk mencabut larangan suplai gandum ke Mekah. Sumamah dengan rela hati mematuhi perintah tersebut. Penduduk Mekah pun selamat dari bahaya kelaparan. Seperti yang sudah-sudah, setelah mereka kembali menerima suplai gandum, mereka mulai mempersiapkan rencana busuk untuk menyingkirkan Rasulullah.

***
Mengapa Sumamah masuk Islam? Sumamah masuk Islam karena ia mendapat perlakuan baik dari Rasulullah dan para sahabat. Padahal, saat itu Rasulullah punya kuasa untuk menghabisi nyawa Sumamah, baik dengan tangannya sendiri maupun melalui para sahabat. Kalaupun Sumamah dibunuh, wajar karena ia telah membunuh banyak orang dari kaum Muslim.

Namun, mengapa Rasulullah tidak berbalas dendam kepada Sumamah atas banyaknya korban nyawa kaum Muslim? Di sinilah letak keluhuran budi Rasulullah. Untuk “menjinakkan hati” seseorang, Rasulullah tidak dendam dengan melakukan tindak kekerasan yang sama—seperti yang pernah dilakukan oleh Sumamah terhadap kaum Muslim. Rasulullah justru menunjukkan sikap baiknya dengan memberi makan—seperti yang disukai Sumamah. Karena telah menaruh simpati yang dalam terhadap Rasulullah, ia masuk Islam dan ia memenuhi permintaan Rasululah Saw untuk mencabut larangan suplai gandum bagi penduduk Mekah.

Keluhuran budi Rasulullah Saw. tak diragukan lagi, baik terhadap kawan maupun lawan. Beliau adalah sosok ideal yang layak kita tiru, tidak terkecuali dalam dakwah. Dengan sikap lembutnya, beliau mampu menyuguhkan dakwah memikat. Sejarah telah membuktikan kepada kita betapa Rasulullah Saw selalu berhasil menaklukkan lawan bicara dan akhirnya mereka tertarik serta masuk Islam dengan penuh kesadaran. Keberhasilan dakwah Nabi Muhammad Saw. dapat kita rasakan hingga hari ini di mana Islam mampu menembus pelosok dunia yang semakin mengglobal.

Di antara akhlak Rasulullah terhadap Allah SWT, ‘Aisyah menceritakan: Suatu ketika ditengah malam ‘Aisyah merasa kehilangan Rasulullah ditempat tidurnya, setelah diraba-raba, tidak ditemukan, ternyata dijumpainya beliau sedang shalat. Usai shalat, ‘Aisyah bertanya: “Ya Rasulullah Anda adalah orang yang sudah dijamin oleh Allah dengan surgaNya, Anda juga ma’shum (terjaga dari dosa), diampuni oleh Allah, namun kenapa anda terus melakukan shalat sampai nyaris, kaki anda bengkak? Beliau menjawab: afala uhibba, an akuuna ‘abadan syakuuraa (apakah aku tidak senang, kalau aku berpredikat sebagai hamba Allah yang pandai bersyukur?).

Jadi, cara bersyukur Rasulullah adalah dengan mengabdi dan beribadah kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya. Lalu bagaimana dengan kita, yang dosanya senantiasa bertambah, sementara jaminan surga juga tidak ada?

Ibnu Umar juga pernah menanyakan kepada ‘Aisyah: “Ya ‘Aisyah! beritahukan kepadaku hal-hal yang menakjubkan pada diri Rasullulah SAW yang pernah engkau saksikan”. ‘Aisyah sambil menangis menjawab:Kullu amrihi kaana ‘ajaban” (semua urusan Rasulullah, semua hal ikhwal beliau sangat mengagumkan). Suatu malam aku mendatangi beliau karena memang malam itu giliranku. Aku menjumpai beliau, kulitku besentuhan dengan kulit beliau, kemudian beliau bekata: “Dzarinii ata’abbadu lirobbi ‘azza wajalla” (biarkan aku beribadah kepada Tuhanku yang Maha perkasa. ‘Aisyah pun berkata: walloohi inii uhibbu an ta’budalloh (sungguh demi Allah aku senang melihat engkau mendekatkan diri kepada Allah untuk beribadah).

Selanjutnya diceritakan, Rasulullah pun kemudian turun mengambil air wudlu, mempergunakan air secukupnya. Menjelang subuh dia bangkit untuk menunaikan shalat qoblal fajar, beliau menangis sehingga dagunya basah, ketika sujud beliaupun menangis sehingga tempat sujudnya basah.

Lalu beliau berbaring menunggu waktu subuh, beliau tetap menangis, sampai bilal, sang muadzin datang memberitahukan bahwa waktu subuh telah datang. Kemudian bilal melihat wajah Rasulullah bengkak, sembab.

Dan bilal pun bertanya:  wahai baginda Rasul, mengapa anda menangis? Bukankah Allah telah mengampuni segala dosa anda yang dahulu maupun yang akan datang. Beliau menjawab: “Wahai Bilal, celakalah, mengapa aku tidak menangis, padahal malam ini, Allah telah menurunkan kepadaku firmanNya (surat Ali-Imran ayat: 190) “Sungguh dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”. Kemudian Rasulullah bersabda: “sungguh celaka orang yang membacanya tanpa memikirkan maknanya). Demikian secuil dari akhlak Rasulullah terhadap Allah SWT.

Pada satu hari, hadir di dalam satu majlis makan seorang fakir yang hitam legam kulitnya. Berkudis badannya. Para sahabat nampaknya kurang senang dan bimbang kalau-kalau si fakir ini duduk bersebelahan dengan mereka.

Tetapi apa reaksi Rasulullah s.a.w? Baginda bangun dan pegang tangan si fakir, dipimpin dan dibawa masuk ke dalam majlis dan dibawanya duduk betul-betul bersebelahan dengan baginda. Maka makanlah baginda dengan si fakir itu bersama-sama. Begitulah rendah diri dan tawadhuknya baginda terhadap manusia. Walhal nama baginda diletakkan di sisi nama Allah, selaku manusia yang paling dikasihi oleh Allah.

Hingga kini nama itu masih disebut dan dilaungkan di seluruh dunia setiap masa dan ketika. Namun begitu hatinya tetap merasakan dirinya hamba allah yang hina. Tidak sedikit pun rasa sombong, angkuh dan takabbur. Sebab itu baginda boleh memegang tangan si fakir yang kotor dan busuk itu untuk duduk bersebelahan dengan baginda. Itulah akhlak yang menjadi contoh dan tauladan kita.

Rasulullah s.a.w pernah dicaci maki, dihalau dan dilontar dengan batu hingga mengalir darah meleleh hingga ke kakinya oleh kaum Thaqif di Taif. Mereka itu marah dengan Rasulullah karena baginda mengajak mereka kepada agama Islam.

Maka berlarilah Rasulullah s.a.w berlindung di sebalik bukit menyembunyikan diri. Kemudian turunlah malaikat berkata kepada baginda : “Wahai kekasih Allah, katakan apa saja untuk kami lakukan terhadap kaum ini?. Maka Jawab baginda dengan jawaban yang tidak pernah diduga oleh siapapun. Kata-kata yang lahir daripada jiwa yang benar-benar mulia lagi suci murni. Inilah akhlak baginda yang mesti menjadi panutan kita.

Baginda memaafkan kesalahan orang yang menzalimi baginda dengan katanya : “Wahai Tuhan! Berilah petunjuk kepada kaumku karena mereka tidak mengetahui.” Begitulah baiknya Rasulullah s.a.w. Orang yang menyakitinya pun di doakannya. (Dirangkum dari berbagai sumber)

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sirah Nabawiyah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s